Papa Dewa Obat

Papa Dewa Obat
Istri Posesif


__ADS_3

Kejadian itu membuat sebagian orang melihat ke arah Qin Nanran. Para tamu yang terdiri dari para pengusaha, pejabat dan orang-orang penting lainnya. Mereka menyaksikan kejadian itu dan membuat Qin Nanran merasa malu.


"Ah, maafkan putri kami, Nona Qin. Yu'er, kenapa kamu melemparkan kue itu? Lin Feng, kamu juga. Kenapa membiarkan putri kita melakukan itu?"


"Huh, habisnya dia mau merebut mama dari Yu'er, huwaa! Bibi itu jahat, Ma! Jangan percaya sama bibi jahat itu, hiks." Lin Yu'er mulai merajuk dan mau menangis.


"Yayaya! Kamu jangan menangis, yah. Nona Qin, aku juga minta maaf karena putriku, kamu jadi begini. Maafkan atas kekacauan yang kami buat." Lin Feng menyesal karena tidak menghentikan Lin Yu'er tepat waktu.


Alasan Lin Feng lalai, karena merasakan pandangan para pria yang menatap ke arah istrinya. Ia merasa istrinya adalah wanita paling cantik sedunia. Tidak menyangka mereka juga tertarik. Meski mereka lebih bisa mengontrol diri. Tidak seperti orang yang sedang buang air kecil di toilet.


Lin Feng tidak membuat Julian diare seperti yang ia lakukan pada Hanna tempo hari. Namun ia memberkan pil obat agar Julian Lee terus buang air kecil. Namun hanya keluar sedikit dan saat ia akan pergi, maka ia kembali merasakan sakit di perutnya. Karena Lin Feng memberikan obat perangsang ginjal agar terus menghasilkan urine secara terus menerus dalam jumlah kecil. Itu bahkan lebih menyiksa daripada membuatnya langsung buang air kecil dalam jumlah besar.


"Ah, sialan! Mengapa jadi seperti ini? Barusan buang air kecil. Tapi mengapa malah jadi begini?" kesal Julian. Kembali ia masuk ke dalam toilet. Ia baru saja keluar dan berjalan lima meter dari toilet.


Qin Nanran yang harus mendalami rasa malu pun telah berlari ke arah kamarnya. Ia menuju ke lantai atas untuk berganti pakaian. Dengan begitu, ia tidak akan mengganggu Lin Feng lagi untuk beberapa waktu.


Sementara Qin Hai, ia tengah menerima banyak tamu yang memberikannya hadiah. Bahkan ada orang yang membelikannya mobil. Ada juga yang memberikan beberapa bahan obat herbal dan lain sebagaimana. Terutama untuk obat seperti rumput lingzi, tanduk rusa dan ginseng berusia ratusan tahun.


Beberapa orang yang memperhatikan Alysa dengan cepat Lin Feng bereskan. Karena pandangan mereka tidak terlalu seperti Julian, cukup ia taburkan bubuk dari kue yang ia ubah. Membuat pandangan mereka terganggu dan mengalihkan pandangsn ke arah lain.


'Orang-orang tua itu juga terus menatap istriku. Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.' Setelah menaburkan bubuk yang ia buat, ia menarik tangan istrinya.

__ADS_1


"Eh, ada apa? Kita ada di tempat umum. Jadi jangan buat masalah!" Alysa merasa gugup di depan Lin Feng. Tapi melihat putrinya yang belepotan kue, berubah menjadi tertawa. "Hehehe, putri mama blepotan kue?"


"Mama mau makan juga? Mau sama mama! Mama hanya milik Yu'er. Nggak boleh diambil bibi jahat!" Lin Yu'er pun hampir memeluk mamanya dengan tangan kotor karena kue.


Lin Feng menghentikan Lin Yu'er karena takut gaun Alysa kotor. "Jangan dekati mamamu dulu. Ini, lap dulu sisa kuenya. Nanti gaun mama juga kotor seperti bibi itu. Mamamu tidak bawa pakaian ganti."


Lin Feng membersihkan mulut dan tangan Lin Yu'er dengan tisu yang tersedia. Sementara Alysa terkekeh melihat tingkah keduanya. Ia senang memiliki keluarga kecil yang saling mengerti. Berharap bisa menjalin hubungan keluarga itu selamanya.


"Haha iya! Tangan dan mulutmu kotor. Lihat, barusan kamu bikin baju bibi Qin jadi kotor. Lain kali ulangi, eh, jangan diulangi lagi, yah," ucap Alysa. Meski sebenarnya ia merasa senang karena membuat Qin Nanran tidak dekat-dekat dengan Lin Feng.


Biarkan dirinya menjadi posesif. Selama lima tahun ini, ia berpisah dari Lin Feng. Meskipun beberapa kali setahun selalu memberikan uang untuk biaya hidup. Namun Lin Feng yang dulu tidak seperti yang sekarang. Namun apapun yang terjadi, ia tidak pernah berniat mundur lagi.


"Aduh, kamu sudah semakin berat. Wah, kebanyakan makan kue, jadi gemuk, deh." Alysa memeluk putrinya dengan erat. Guna menutupi dadanya yang dilirik beberapa pria.


Alysa mengeluhkan ukurannya yang terlalu besar dan membuat pundaknya pegal. Sebelumnya memang sudah cukup besar. Tapi akhir-akhir ini bertambah berat setelah minum obat dari Lin Feng.


"Mamaaa! Kamu juga semakin gemuk. Ininya mama tambah besar dari sebelumnya. Tapi empuk dan enak dimainin." Lin Yu'er menekannya dengan lembut. Dimana ia dulunya mendapatkan nutrisi pertama kali selama setahun.


"Duh, jangan begini di tempat umum. Ayo kita keluar saja dulu!" Alysa tidak bisa terus berada di tempat itu. Ia ingin sekali pulang karena sudah lelah.


Seharian mereka berbelanja dan mengelilingi mall. Sehingga rasa lelah pun baru datang setelah merasakan hal tak terduga. Dimana ia merasakan adanya niat terselubung Qin Nanran mendekati suaminya.

__ADS_1


Ada atau tidaknya niat terselubung untuk mendekati Lin Feng, Alysa tetap harus waspada. Perasaan seorang wanita akan sama dengannya jika merasa kedudukan sebagai seorang istri terancam. Meski mereka memiliki seorang anak, tidak menutup kemungkinan para wanita menggoda suaminya. Atau yang paling ia takutkan, suaminya tergoda bujuk rayuan makhluk yang bernama wanita.


Untuk saat ini, Alysa tidak memiliki apapun untuk bersaing. Sementara pikiran Lin Feng terlalu fokus untuk mengawasi para pria tua dan muda yang beberapa kali sempat melirik istrinya. Namun ia tak merasakan niat buruk dari mereka. Kemungkinan hanya rasa tertarik untuk sesaat.


"Tunggu aku!" Lin Feng mengikuti Alysa dan Lin Yu'er dari belakang. Mereka menuju ke taman yang letaknya tidak terlalu jauh. Di sana hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli.


Pandangan Lin Feng memeriksa ke seluruh tempat. Ia melihat dari balik tembok ada orang yang sedang menari dan minum. Di dalam ruangan pesta ada pentas musik. Beberapa orang yang pintar menyanyi, dapat bergabung.


"Kamu kenapa ikutin kami? Kamu nggak mau menunggu nona Qin yang cantik itu?" tanya Alysa yang mengandung rasa cemburu. Meskipun Lin Feng terlihat cuek pada wanita lain selain dirinya.


Bahkan dirinya sendiri tidak tahu mengapa rasa posesif itu ada. Tidak ada niat sedikit pun ingin melakukan hal-hal bodoh. Namun ia bermain dengan perasaannya. Sama sekali tidak memikirkan cara untuk menjelaskan kesalahpahaman yang menguasainya.


"Istriku, kenapa kamu bicara seperti itu? Kan sudah bilang, aku nggak ada hubungan dengannya. Bagaimana bisa, aku menduakan wanita paling cantik, paling seksi, paling baik di dunia ini?"


"Ahh, gombal. Lihat tuh papamu, Yu'er. Kelak kalau sudah besar, jangan pernah mau menikah sama orang kayak papamu yang suka menggombal."


"Nggak, Ma. Aku suka papa sama mama nggak berantem. Temani Yu'er di sini. Ayo, papa sama mama pelukan. Aku juga!"


Mendengar hal itu, Lin Feng pun memeluk Alysa dari belakang. Juga menempelkan pipinya di pipi Alysa. Aroma harum dari tubuh Alysa sangat menghanyutkan. Begitu juga dengan Alysa yang menyukai bau Lin Feng yang begitu menggoda.


***

__ADS_1


__ADS_2