Papa Dewa Obat

Papa Dewa Obat
Membayar Hutang


__ADS_3

Hari bersenang-senang Lin Feng bersama keluarga kecilnya berlangsung bahagia. Mereka membeli apa yang mereka ingin. Makan apa yang mereka mau. Hingga memiliki banyak barang di tangan pria malang itu.


Bukannya ikut bersenang-senang berbelanja, Lin Feng malah menjadi kuli panggul. Yang membawa banyak barang di seluruh badannya. Mulai dari tangan, kepala hingga membuatnya tidak terlihat wajahnya.


"Apa kalian tidak lelah? Aku sudah lelah ini! Wanita jika berbelanja sangat menguras tenaga! Ah, kalau tahu begini, aku tak mau mengajak kalian ke sini." Lin Feng sudah lelah setelah memutari mall yang besar tapi hanya bisa mengikuti dari belakang.


"Masih belum! Kamu tidak boleh menyesali kata-katamu, loh. Ayo Yu'er, biarkan papamu kesusahan, hehehe. Siapa suruh papamu menyebalkan. Mau anak sepuluh? Hamil saja sendiri!"


"Huh, kenapa dia terus mengingat hal itu? Padahal aku hanya basa-basi saja. Mengapa hidupku seperti ini, Tuhan!" Lin Feng yang malang itu pun bergegas mengejar istri dan anaknya.


Apapun akan Lin Feng lakukan untuk membahagiakan mereka. Meski harus bekerja lebih keras lagi. Ia hanya bisa menikmati hari-hari indah ini untuk sementara waktu. Sebelum Shu Mei yang bertarung tadi malam kembali pulih, kehidupannya masih aman.


Tepatnya ada dua musuh utama Lin Feng di dunia ini. Meski ke depannya akan bertemu musuh-musuh lain yang baru dikenal. Untuk sementara, bisa melindungi dirinya dan keluarga. Baik Shu Mei maupun Gu Fego, mereka pasti memiliki banyak rencana untuk membunuhnya lagi.


Menjadi lebih kuat bukan lagi masalah besar. Tungku Kaisar Yan telah ada di tangan dan mencipta pil adalah keahlian yang dimiliki untuk membuat terobosan. Suasana bahagia saat ini, sebisa mungkin akan ia jaga sampai kapanpun.


'Hari ini biarkan seperti ini. Alysa, Yu'er, kalian harus bahagia. Meski berat untuk menjaga kalian tetap aman, aku juga tidak rela mati. Jika aku mati lagi, aku tidak bisa menjaga kalian lagi. Maka dari itu, kalian harus bahagia sampai akhir.'


"Papa! Cepat jalannya! Yu'er mau itu! Pakaian yang sangat cantik!" tunjuk Lin Yu'er ke salah satu toko pakaian.


"Ayo, Lin Feng! Putrimu sangat ingin itu! Jangan sampai tertinggal, yah!" Karena tidak banyak waktu, sebisa mungkin Alysa akan menuruti kemauan Lin Yu'er. Ia tidak tahu kapan lagi mereka bisa belanja bersama.

__ADS_1


Esok adalah hari-hari sibuk dan menguras pikiran. Menjalani peran sebagai seorang ibu adalah hal yang paling membahagiakan. Tapi sejak dahulu ia tidak memiliki waktu untuk melakukan itu.


***


Pertarungan semalam membuat kondisi Shu Mei terluka parah. Karena memaksakan dirinya, bukan hanya dapat membunuh musuhnya, ia juga mengalami luka serius. Tangan dan kakinya sudah tak bisa digerakkan lagi.


Hari ini Shu Mei terbaring lemah di rumah sakit. Juga tidak mungkin lukanya akan sembuh oleh dokter biasa. Luka yang diakibatkan oleh pertarungan spiritual, tidak bisa disembuhkan oleh dokter biasa. Harusnya sesama praktisi atau orang-orang yang melakukan pengobatan khusus untuk mereka.


Di zaman sekarang sangat sulit untuk menemukan orang yang dapat menyembuhkan sakit Shu Mei. Ia juga merasa masih terlalu lemah meski sudah dua puluh tahun berlatih.


Sejak melintasi waktu, Shu Mei menjalani kehidupan yang keras. Berlatih dan berkultivasi serta membunuh orang dengan kejam. Ia juga sudah memiliki banyak pengikut yang setia padanya. Meski beberapa yang mati di tangan Lin Feng, ia tidak mempermasalahkan itu. Bahkan jika semuanya dibunuh, ia rela asal itu oleh Lin Feng sendiri.


"Ibu. Kamu menjadi seperti ini. Apakah ini pantas, hanya demi orang itu?" tanya Hanna. Identitas sebenarnya adalah anak dari Shu Mei di kehidupan sebelumnya.


Hanna adalah satu-satunya yang terkirim ke masa depan dengan tubuh utuh. Sehingga di kehidupan kali ini, Shu Mei tidak pernah melahirkan. Sehingga hanya memiliki anak dari kehidupan sebelumnya. Kendati demikian, ia akan selalu menganggap sebagai anak di zaman sekarang.


Selama dua puluh tahun lebih, Hanna menjalani hidup yang berat tanpa orang tua. Ia hanya memiliki keluarga angkat yang berpenyakitan dan sekarang sudah mati. Saat itu tidak ada Shu Mei karena wanita itu sibuk melakukan misinya untuk meningkatkan kultivasi dan mencari Lin Feng. Karena ia yakin, Lin Feng juga ada di kehidupan di zaman sekarang.


Yang dilakukan oleh Shu Mei hanyalah sebuah hutang yang harus dibayar. Saat ini selisih usia mereka terlampau jauh. Sehingga untuk menjadi istrinya tidak mungkin. Jadi ia hanya bisa menjadi orang lain untuk melindungi Lin Feng.


"Anakku. Ini adalah hutang yang harus ibu bayar. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang ibu lakukan di kehidupan sebelumnya. Kali ini aku harus menjaga dia meski mati ribuan kali sekalipun."

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu bisa seperti ini? Hutang apa yang kamu miliki darinya? Hutang di kehidupan sebelumnya, seharusnya dikembalikan di kehidupan sebelumnya. Mengapa sekarang kamu tidak mau melepaskannya?"


"Tidak bisa. Ibu tidak bisa membayar hutang di kehidupan sebelumnya karena dia mati sebelum aku membayar hutangku. Apakah kau tahu? Dia adalah suamiku di kehidupan sebelumnya. Dan aku membunuhnya dengan racun."


Mendengar kalimat itu, membuat Hanna termangu. Jika dia adalah suami ibunya, maka dia juga adalah ayahnya. Ia tidak ingat kehidupan saat di gunung Linshan. Ia juga tidak tahu hutang apa yang harus dibayar oleh ibunya pada ayahnya.


'Dia ayahku? Tidak disangka, dia dikehidupan sebelumnya adalah ayahku. Mengapa aku tidak tahu hal itu? Mengapa aku sampai membencinya? Tidak. Karena dia adalah ayahku, maka ia harus bersama ibu. Dia harus menjaga ibu seumur hidupnya.'


Hanna menyelimuti Shu Mei yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia tidak bisa menjalani hari-hari dengan tenang karena masalah hutang itu. Ia akan membantu membalaskan hutang ibunya pada Lin Feng.


"Hei, Ibu. Apa yang harus aku lakukan? Aku juga anakmu, bukan? Aku juga bisa membalas hutang padanya atas namamu. Bagaimana cara agar bisa membantumu?" Hanna sudah bertekad untuk membantu ibunya untuk membayar hutangnya pada Lin Feng.


Sebelum semuanya berakhir, setidaknya ada hutang yang dibayarkan. Shu Mei tidak pernah berhutang apapun dalam hidup. Tidak memiliki hutang harta atau benda apapun. Hanya memiliki hutang nyawa yang harus dikembalikan pada pemiliknya.


Setelah satu nyawa disetor padanya, maka masih tersisa sembilan ratus sembilan puluh sembilan nyawa lagi. Dengan begitu, barulah kehidupan mereka selanjutnya hanyalah ada penebusan dosa.


"Kalau kamu mau membantu ibu, kamu harus melindungi Lin Feng meskipun harus mengorbankan hidupmu. Tapi jangan sentuh orang-orang yang di dekatnya. Mereka juga penting bagi Lin Feng. Yang penting baginya juga harus dijaga dan pantas untuk mengorbankan setengah hidupnya demi orang yang paling dekat dengannya."


"Ibu. Aku mengerti. Sekarang aku akan membantumu menjaga dan melindungi ayah. Apakah dia akan senang jika tahu, aku adalah anaknya di kehidupan sebelumnya? Aku sudah tidak sabar menunggu."


***

__ADS_1


__ADS_2