
Mereka tiba di sebuah toko yang menjual obat herbal dan melayani pengobatan tradisional. Lin Haizan sebagai pemiliknya menyambut baik kedatangan Lin Feng. Apalagi hari ini ada penjualan pil meski kualitas rendah.
Hanya dengan kemampuan luar biasa itu, dapat membuat mereka kaya dengan cepat. Semua pil terjual dengan harga yang mahal. Meski tidak mencapai miliaran, Lin Haizan telah memiliki puluhan juta. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Ketika Lin Feng membuat pil lagi, pasti akan banyak penghasilan setiap hari.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Alysa penasaran. Bukannya mereka hari ini sedang jalan-jalan? Mengapa malah datang ke tempat yang asing? "Apa kita mau berobat?"
"Tidak. Kita tidak perlu berobat. Tapi aku ada janji dengan seseorang. Sebenarnya mau membahas bisnis. Maaf, aku sebenarnya ingin mengajak kalian berlibur. Tapi aku sudah ada janji. Tapi tidak akan lama. Kalian tunggu di mobil, yah."
Alysa mengangguk setuju. Begitu juga dengan Lin Yu'er yang tidak protes dengan yang dilakukan papanya. Karena berjanji tidak akan lama, mereka pun akan tenang menunggu.
Lin Feng datang dengan niat baik dan ingin bekerja sama dengan Lin Haizan. Inilah mengapa ia harus secepat mungkin mengambil tungku pil yang dikatakan oleh pria tua itu.
Saat masuk ke dalam, di sana sedang ada tamu seorang pria dengan kursi roda. Ditemani seorang wanita muda yang sedang mengandung. Saat melihat punggungnya mereka, Lin Feng menyadari sesuatu.
"Heh, kau sudah datang? Ini masih terlalu pagi dan hari ini ada pasien. Tuan muda Lin, bisakah kau melihat lukanya?" Lin Haizan langsung melontarkan pertanyaan untuk membantunya. Karena melihat kondisi pasien yang sudah sangat parah.
"Kamu? Kamu yang kemarin, bukan?" tanya wanita hamil dan pria yang duduk di kursi roda. Ternyata mereka adalah ayah dan anak yang terlibat masalah dengan Lin Feng.
"Maaf, Orang tua. Kedua orang ini telah menyinggungku. Jadi tidak ada hubungannya denganku. Mereka yang mencari masalah sendiri, mengapa aku perlu memeriksa mereka?"
__ADS_1
Lin Feng tidak habis pikir. Mengapa bisa bertemu dengan orang yang berniat membunuhnya. Serta wanita hamil yang minta dinikahi untuk menghilangkan rasa malu karena wanita itu sudah hamil diluar nikah.
"Kamu telah membuat ayahku lumpuh. Apa ini omongan orang yang menganggap dirinya sebagai korban? Kau tidak punya hati. Dan aku akan menuntut kamu ke pengadilan!" tunjuk wanita hamil itu dengan amarah besar.
"Oh, jadi kalau aku membiarkan ayahmu membunuhku, apakah aku bisa dikatakan sebagai korban? Kalian sendiri yang datang membuat masalah denganku. Ayahmu itu yang berniat membunuhku. Jika aku tidak membela diri, apakah kau yakin, aku masih bisa hidup di dunia ini?"
Bahkan Lin Feng lebih marah daripada wanita hamil itu. Meskipun harus bertanggung jawab, Lin Feng tidak akan menarik kata-katanya. Karena perisitiwa sebenarnya, mereka juga tahu siapa yang bersalah terlebih dahulu.
"Tapi kamu tidak punya alasan untuk membuat ayahku lumpuh! Seharusnya kau jelaskan dan bicarakan baik-baik!" sanggah wanita itu dengan menunjuk jarinya ke arah Lin Feng.
"Haruskah? Lalu alasan apa yang harus ku katakan agar ayahmu tidak membunuhku? Aku tidak kenal dengan kalian. Tapi kau, orang tua sialan! Kau yang mengarahkan aura pembunuh padaku. Aku tidak ingin mati dan hanya membela diri. Apa aku salah?"
"Anak muda. Maafkan aku. Namaku Sun Gushen. Putriku adalah Sun Cai'er. Kami minta maaf padamu. Cai'er, minta maaflah pada pemuda ini. Bagaimanapun juga, kita yang salah orang. Ayahmu tidak tahu kalau dia bukan lelaki yang menghamilimu."
"Ayah. Aku tidak bisa memaafkan dia. Dia telah membuat ayah seperti ini. Kau adalah seorang tentara yang telah membunuh musuh di medan perang. Mengapa bisa jadi seperti ini?"
"Ini salah ayah, Cai'er. Kalau ayah membunuhnya waktu itu, bahkan ayah akan lebih merasa bersalah. Karena emosi yang menggebu karena melihat putrinya ditinggal oleh kekasihnya. Dan pria baji-ngan itu telah kabur entah ke mana."
Tanpa menyusik pembicara ayah dan anak itu, Lin Feng menghampiri Lin Haizan. Lin Feng juga memiliki seorang putri dan mungkin akan berbuat sama dengan pria itu. Namun siapa yang salah sudah jelas. Jika suatu hari nanti dirinya telah melakukan hal yang sama, dirinya juga pantas menerimanya konsekuensinya.
__ADS_1
"Orang tua, aku datang ke sini tidak lama-lama. Karena membawa istri dan anakku di luar. Jadi masalah tungku, apakah bisa–"
"Oh, kalau begitu, orang tua ini sudah mengatakannya pada cucuku. Tuan Muda Lin bisa membawa ini untuk bertemu dengan cucuku. Dan alamat rumahnya ada di kertas ini. Kalau cucuku melihat ini, dia juga tahu maksud kedatanganmu. Aku tidak bisa membiarkan pasien menunggu. Mohon maaf, ini adalah motto kerjaku."
"Tidak apa-apa. Kalau seperti ini juga tidak apa-apa. Aku akan mengabarimu besok atau lusa." Lin Feng mencari kertas dan pena. Lalu menggambar kerangka manusia dan menandai luka yang dialami oleh Sun Gushen. Juga memberikan solusi untuk menyembuhkan patah tulangnya.
Lin Haizan tidak tahu Lin Feng langsung membuat gambaran sempurna dan langsung bisa melihat keadaan pasiennya. Karena hal itu, membuat rasa takjub dirinya semakin besar pada Lin Feng. Pria tua itu tidak bisa berkata apa-apa dan tidak sadar jika Lin Feng sudah hilang dari pandangan.
Bukan hanya Lin Haizan yang tidak melihat Lin Feng. Sepasang ayah dan anak itu juga tidak melihat kepergian Lin Feng karena sibuk berdebat. Mereka berdebat untuk menentukan bagaimana Lin Feng bertanggung jawab. Hasil perdebatan mereka adalah, Lin Feng harus menikahi Sun Cai'er.
"Ayah setuju kalau begitu. Jika kamu menikah dengannya, bukankah menyelesaikan semuanya? Kamu bisa memiliki suami yang bertanggung jawab. Ayah juga bisa membalas kesaksianku padanya dengan membiarkan dia menjadi orang kepercayaanku. Orang itu juga mendapat setengah kekayaanku."
"Aku juga tidak masalah. Selain aku punya suami, dia juga untung karena mendapatkan harta melimpah. Pasti dia akan setuju juga. Haha, akhirnya ada yang mau menikah denganku."
Saat mereka selesai berdebat, mereka berdua tidak melihat Lin Feng. Membuat mereka celingukan ke sana ke mari. Awalnya hanya Lin Haizan yang kaget karena Lin Feng hilang tiba-tiba. Kini orang tua itu juga melihat dua orang yang rasa kagetnya sudah terlambat.
"Di mana orang itu? Ayah, dia ke mana? Mengapa aku tidak melihat dia pergi?" tanya Sun Cai'er. Padahal ia sudah mendapatkan kesempatan untuk memiliki suami. Ia tidak akan rugi karena dilihat dari manapun, Lin Feng adalah pria yang tampan.
***
__ADS_1