Papa Dewa Obat

Papa Dewa Obat
Pegar Menantikan Rajawali


__ADS_3

Setelah memasak dan mandi untuk kedua kalinya, Alysa mengenakan pakaian Lin Feng yang tipis. Lalu ditutupi dengan jaket yang ada di kamar sang suami. Karena di apartemen tidak banyak pakaian yang bisa dipakai. Ia baru mencuci semua pakaian miliknya dan tidak berpikir bahwa ia tidak punya pakaian lagi.


"Mama, kenapa papa belum pulang?" tanya Lin Yu'er saat sedang disuapi Alysa. Gadis mungil itu juga merasa mamanya sedang menunggu Lin Feng pulang.


"Sabar, yah. Lebih baik kamu tidur duluan. Mama akan menunggu papamu dan berbicara padanya. Besok, mama janji, kita bisa tidur bersama."


Malam ini Alysa berniat untuk menggoda Lin Feng. Sehingga ia tidak mengatakan kalau malam ini mereka akan tidur bertiga. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menjadi menu makan malam bagi Lin Feng. Telah membersihkan badannya dengan memakai banyak sabun dan shampo. Juga telah menyikat giginya agar membuat nafasnya lebih segar.


Segala cara telah ia lakukan untuk membuat Lin Feng tergoda. Tinggal menunggu kepulangan sang suami saja. Ia mengantar Lin Yu'er ke kamarnya dan menyuruh putrinya itu untuk segera tidur.


"Yu'er yang patuh, yah. Besok mama janji, kita bisa tidur bareng sama papamu. Mama yang telah bersalah papamu. Jadi malam ini mama mau minta maaf pada padanya. Kamu tidak apa-apa tidur sendiri, kan?"


"Tidak apa-apa, Ma. Mama dan papa cepat baikkan, yah." Lin Yu'er menerima apa yang diminta Alysa. Demi membuat papanya mau menemaninya, memang harus ada pengorbanan tidur sendiri.


Malam yang begitu dingin, Alysa mengenakan jaket tebal milik suaminya. Sementara Lin Yu'er memiliki pakaiannya sendiri yang sudah dibelikan Lin Feng sebelumnya. Jadi masih memiliki pakaian lainnya.


Tidak disangka hanya demi mewujudkan keinginan sang buah hati, ia rela melakukan itu. Tidak. Alysa juga tidak ingin kehilangan orang yang peduli padanya. Bukan orang tak berguna seperti kata orang-orang. Mungkin hanya dia saja yang berpikir Lin Feng adalah orang yang paling berguna di dunia. Yang selalu ada saat dirinya dalam keadaan terpuruk.

__ADS_1


Itu bukan sebuah pengorbanan seorang wanita maupun sebagai seorang istri. Namun itu sebuah kewajaran yang seharusnya dari dulu ia lakukan. Namun akhir-akhir ini baru sadar, saat ini masih ada tempat untuknya. Belum tentu esok masih ada tempat untuknya di hati Lin Feng.


Langit malam tak dapat memunculkan bintang-bintang. Cahaya di bumi begitu gemerlap, sehingga melupakan cahaya dari langit. Bintang itu seperti dirinya yang letaknya terlalu jauh. Pada akhirnya ada lampu-lampu lain yang menerangi.


Sama seperti Lin Feng yang di luaran sana, mungkin banyak wanita-wanita yang meneranginya. Yang memberikan apa yang tidak bisa diberikan Alysa. Maka Alysa hanya akan menjadi bintang-bintang di langit. Ada namun cahayanya telah redup karena di bumi, banyak cahaya-cahaya lampu yang menerangi.


Tidak. Alysa tidak bisa berdiam diri terus. Ia harus bersiap menyambut kepulangan Lin Feng kapanpun itu. Tidak bisa membuatnya kehilangan momen terpenting dalam hidupnya. Begitu ada pintu terbuka, Alysa harus siap sedia, menyerahkan seluruh hidupnya untuk seorang yang sangat penting.


"Lin Feng. Aku hanya tidak ingin dirimu jauh. Aku tidak akan menjadi wanita bodoh meski tidak punya apa-apa. Sejujurnya kamu tidak pernah melakukan kesalahan padaku. Tapi mengapa hati ini menantikan dirimu begitu sakit? Cepatlah pulang, Lin Feng. Aku mohon jangan membuatku tersiksa."


Perumpamaan apa yang sebenarnya ia pikirkan? Saat diujung penantiannya, tak dapat memberikan hal yang membahagiakan seumur hidupnya. Tak ada angin tak ada hujan, malam ini terlalu sepi. Hanya ada pikiran berkecamuk menuntun menertawakan diri sendiri


"Saat menunggumu, apakah aku harus menjadi seorang pujangga? Atau seekor burung pegar yang menantikan dimakan rajawali? Aku hanya berharap dia segera datang malam ini. Aku janji tidak akan membuatnya kecewa."


Pikiran yang begitu kalut. Hingga menembus ke dasar hati paling dalam. Merasakan dirinya terombang-ambing dalam pusaran deras. Membiarkan diri menghamba tak berdaya. Hanya sebuah kias yang menjelma sebagai orang terkasih.


Mata terpejam dan tak dapat ditahan. Air mata mencurah membasahi pipi. Masih berdiri di depan pintu dengan badan gemetar. Penantian itu tak bisa ditahan dengan luka menyayat, mengiris sampai tersisa tulang.

__ADS_1


Tubuh terhuyung dan mundur ke sisian sofa. Hingga akhirnya rasa kantuknya membuatnya menyerah. Ia terlalu banyak berpikir hari ini. Sejak tidak bekerja lagi, ia hanya berdiam diri dan memiliki lebih banyak pemikiran. Namun otaknya tidak bisa membantah. Ia terlalu banyak berpikir hingga harus beristirahat.


Kini burung pegar itu telah tumbang. Ia tidak jadi dimakan oleh sang rajawali yang ditungguinya. Sedangkan sang rajawali itu tidak kunjung datang meski sudah berulang kali sang pegar terus bersenandung lagu rindu.


"Hahh, hari yang melelahkan. Tidak mudah untuk pulang karena harus memutar jalan. Kalau tidak, pasti akan terlibat pertarungan Shu Mei dan orang itu." Lin Feng membuka pintu apartemen.


Kali ini Lin Feng sudah pulang terlalu malam. Di bawah ada koper yang berisi pakaian Alysa dan Lin Yu'er. Jika nantinya masih kurang, maka bisa membelinya lagi. Malam ini ia juga melupakan soal membawa handphone untuk mengabari kepulangannya.


Saat tiba di ruang tengah, ia juga melihat makanan di meja makan. Sebelum itu, ada sosok wanita yang sedang tidur. Namun ada bekas tetesan air mata di pipi. Ia tidak tahu apa yang terjadi ada Alysa. Mengapa wanita itu sampai menangis dan tertidur.


Pintu tertutup sendiri dan semua barang juga bergerak menuju ke ruang tengah. Hari yang melelahkan bagi Lin Feng, membuatnya merasa kelaparan lagi. Saat melihat makanan di meja, ia tahu itu untuknya.


"Ah, seberapa naifnya aku ini. Ada kesempatan untuk menyentuh istriku sendiri. Namun jika aku melakukannya, berarti aku menjadi egois." Lin Feng mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya.


Rupanya Alysa sampai demam karena angin malam. Dengan jaket yang tidak bisa membuatnya hangat dan pikiran yang kacau, Lin Feng tahu itu. Namun ia juga tidak bisa membaca pikiran orang. Sehingga tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Alysa sampai membuatnya sangat lemah.


Dalam hal membunuh, mengenali lawan dan kawan, mungkin dia biasa diandalkan. Namun mengenai perasaan wanita, ia juga hanya seorang pria dewasa yang tidak mengetahui segalanya tentang wanita. Karena pikiran wanita sangat dalam sedalam palung.

__ADS_1


"Sayang, kekuatan spiritualku sudah banyak terpakai. Hanya bisa menggunakan pijatan untuk membuatnya lebih tenang. Obat juga sudah tidak manjur lagi karena aku sudah pernah memberinya pil penenang pikiran. Tapi pikirannya masih saja kacau. Itu menandakan pilku tidak ada gunanya."


***


__ADS_2