
"Bukankah seharusnya kamu memberiku hadiah?" Lin Feng berbisik kepada Alysa. Lalu memonyongkan bibirnya ke depan. Namun ditepis dengan tangan sang istri.
"Tidak! Tidak di sini! Kamu tidak malu ada Yu'er?" Alysa menolak ciuman yang diarahkan padanya. "Jangan buat macam-macam."
"Hanya satu macam saja, deh. Ya sudah, kalau begitu minta ke Yu'er saja. Yu'er, kamu nggak mau kasih hadiah ke papa?" tanya Lin Feng. Ia mempersembahkan pipinya untuk dicium.
Tanpa ragu, Lin Yu'er melakukan apa yang diinginkan papanya. Bahkan dengan senang, Lin Yu'er mencium pipi Lin Feng. Lalu memeluknya dengan senang.
Berbeda dengan Alysa yang tidak melakukan apapun. Duduk di sampingnya namun tidak mau memberikan apa yang diminta. Sedangkan Lin Yu'er duduk di jok belakang sendirian. Sebenarnya ia tidak sendirian. Ditemani boneka yang didapat dari mesin capit.
"Lihat, Yu'er lebih pintar dari kamu. Dia nggak perlu diminta dua kali. Terima kasih, sayangku! Putriku yang paling cantik di dunia."
"Eh, sama-sama, Papaku yang paling tampan! Mama juga, harus cium papa, yah!" pinta Lin Yu'er. "Ayo, seperti yang dilakukan Yu'er barusan."
Alysa pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Lin Yu'er. Awalnya ia mengira bukan mencium pipi, melainkan bibir. Sehingga tidak mau melakukannya di depan Lin Yu'er. Saat ia melakukannya, Lin Feng menolaknya.
"Tidak-tidak. Kalau kamu, bukan di pipi. Tapi di bibir," ucap Lin Feng menolak yang dilakukan istrinya. "Ayo, sini dekatkan bibirmu!"
Jelas saja Lin Feng menginspirasi hal itu. Tidak disangka memang dirinya dikerjain oleh suaminya. Tapi kemesraan seperti itu, tidak mungkin diperlihatkan kepada putrinya. Sehingga ia menutup wajah Lin Feng agar tidak mendekat.
"Jangan di depan Yu'er. Nanti malam saja, oke?" Sebenarnya tidak ada alasan jika ia melakukan itu. Hanya rasa malu mengakibatkan tidak bisa melakukan itu. Padahal semalam dirinya yang agresif melakukannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, Yu'er, kamu bisa menutup matamu selama satu menit. Bolehkan? Nanti papa akan kasih kejutan!" pinta Lin Feng. Dengan begitu, ia bisa mengambil hadiah yang belum diberikan.
"Iya, Pa! Yu'er tidak melihat apa yang akan Papa dan Mama lakukan?" Lin Yu'er menuruti permintaan Lin Feng. Ia menutup matanya untuk membuat kedua orang tuanya melakukan sesuatu yang tak pantas ia lihat.
"Bagaimana? Yu'er sudah menutup matanya. Apa sudah saatnya kamu memberikan hadiahnya?" pinta Lin Feng menggoda.
Sebelum semuanya berakhir, Alysa langsung mengambil alih. Ia mendekatkan wajahnya kepada Lin Feng dan memberikan kecupan manisnya. Tak sampai begitu, ia melakukannya hingga ada balasan dari Lin Feng.
Mereka hanya memiliki waktu selama satu menit sebelum Lin Yu'er sadar. Sehingga melakukannya dengan cepat. Keduanya larut dalam keadaan. Membuat mereka tidak sadar telah melewati satu menit. Begitu Lin Yu'er membuka mata, maka matanya ternodai dengan kedua orang tuanya. Namun ia tidak melerai keduanya untuk menikmati waktu.
Dalam benak Lin Yu'er, perlakuan kedua orang tuanya begitu menjijikan. Namun terlihat jelas, Lin Feng dan Alysa menikmatinya. Karena itu, gadis itu memilih sembunyi di balik boneka.
Saat Lin Feng menyentuh bukit kembar milik Alysa, barulah wanita itu menyadari sesuatu. Ia menghentikan langkah Lin Feng agar tidak keterusan. Jika dilanjutkan, maka tidak baik jika dilihat oleh putri mereka.
"Ah, maaf. Terbawa suasana." Lin Feng buru-buru mengendalikan kondisinya. Hampir saja sampai kelewatan. "Kalau begitu, kita lanjutkan di rumah nanti, yah?"
Dengan ekspresi malu, Alysa mengangguk setuju. Benar-benar merasa malu tapi tidak ada penyesalan dalam hidup. Ia merasa bahagia tanpa memiliki semuanya. Ia cukup memiliki Lin Feng seorang. Juga anak-anak mereka kelak.
Saat ini memang mereka telah memiliki satu anak. Bukan tidak mungkin, mereka bisa memiliki satu lagi ke depannya. Kali ini, mereka berjuang bersama-sama dan menantikan hari-hari itu tiba.
Lin Yu'er yang merasa kedua orang tuanya menyelesaikan urusannya, membuka matanya kembali. Gadis itu pun senang bisa melihat orang tuanya akur. Suatu hari nanti, ia ingin menunjukkan pada dunia, dirinya memiliki papa dan mama yang saling menyayangi.
__ADS_1
Hari ini adalah hari dimana sedang berlibur sejenak sebelum sibuk dengan urusan masing-masing. Namun mereka harus mendiskusikan masalah mereka ke depannya. Saat Alysa mengambil alih perusahaan, maka tidak akan banyak waktu menemani Lin Yu'er. Maka ia juga harus membagi waktu atau melakukan sebuah perjanjian dengan Lin Feng, bagaimana menyelesaikan semuanya.
Dokumen-dokumen penting telah berada di tangan. Ini adalah sebuah awal yang bagus untuk memulai menjalankan perusahaan kembali. Harus membuat perencanaan agar menemukan orang-orang yang pantas.
"Oh iya, soal perusahaan itu, semuanya telah hancur dan orang-orang di perusahaan terdahulu, mungkin sudah tidak bisa bekerja lagi di perusahaan baru. Maka, dokumen-dokumen dan identitas seluruh karyawan dan staf ada di situ. Informasi tentang kerabat dan keluarga juga sudah ditemukan."
"Apa maksudmu? Apa bisa mulai memanggil mereka untuk bekerja di perusahaan kita? Juga bisa menerima keluarga mereka?" tanya Alysa penasaran. Namun dalam hatinya merasa enggan karena sikap para karyawannya yang telah memperlakukan dirinya dengan buruk.
"Tidak! Justru mereka semua tidak layak untuk bekerja di perusahaan kelak. Karyawan dan staf sebelumnya, bahkan keluarga mereka telah diblacklist untuk bekerja di perusahaan. Jadi, maksudku, jangan biarkan mereka masuk ke dalam perusahaan ini lagi."
Lin Feng mulai menyetir mobilnya. Sambil membahas tentang perusahaan baru kelak, akan bagaimana mengurusnya. Rupanya Lin Feng telah memikirkan solusinya. Sehingga Alysa hanya perlu melakukan bagiannya. Ke depannya, mereka akan bersama mengurus perusahaan.
"Terima kasih, Suamiku!" ucap Alysa manja. Ia membaringkan kepalanya di pundak sang suami. "Aku akan menjadi istri yang baik mulai saat ini. Dan menjalani hidup bahagia denganmu dan anak kita. Keluarga kecil bahagia kita."
"Mama jangan bermesraan sama papa terus! Yu'er dicuekin oleh kalian, huhh!" protes Lin Yu'er. Tapi melihat orang tuanya berhubungan baik, ia juga bahagia. Ingin rasanya ia berada di tengah-tengah mereka. Tapi saat ini ia ingin memberikan waktu mereka.
Anak berusia empat tahun itu sudah berpikir lebih dewasa. Meski tidak terlalu mengerti percintaan orang dewasa, melihat senyuman mama dan papanya, membuatnya cukup senang.
Sebuah keluarga adalah hal yang sangat sakral dalam kehidupan. Ada keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ada juga keluarga besar yang meliputi kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, cucu dan lainnya. Keluarga besar terkadang tidak akur dan kerap kali saling cekcok dengan berbagai masalah. Salah satu yang paling sering adalah masalah warisan dan hak waris.
Ada beberapa orang yang tak tahu diri, yang mengambil yang bukan haknya. Seperti keluarga besar Lien. Meski memiliki perusahaan besar, memiliki hubungan yang rumit. Hak waris sudah jelas namun dengan tidak tahu malunya, keluarga besar itu menjadi benalu bertahun-tahun lamanya. Sehingga hanya merugikan bahkan menghancurkan hidup orang yang berhak memiliki segalanya.
__ADS_1
***