
Meskipun Lin Feng yang membuat pil itu, ia tidak ingin mengeksposnya. Karena keinginannya bukan untuk menjadi terkenal. Melainkan ingin mendapatkan kehidupan yang damai tanpa ada yang menyinggung. Jika ada bibit-bibit penyingung dirinya, ia tidak akan diam saja. Karena ia bisa membungkam mulut mereka untuk selamanya.
Jika mereka tidak membuat masalah dengan keluarganya, ia akan diam saja. Jika sampai berbuat keterlaluan, maka sudah tidak pantas untuk hidup lagi. Lagipula jika ia tidak bertindak impulsif, ia yakin bisa terhindar dari hukuman.
"Istriku, pembicaraanku dengan tuan Qin sudah selesai. Bagaimana jika kita ke sana?" Lin Feng menggaet tangan Alysa. Ia tak akan membiarkan pria lain menggodanya.
Sekalipun dia tidak berniat membuat masalah, tetap saja ia khawatir akan apa yang terjadi pada sang istri. Karena melihat tatapan pria-pria itu terhadap istrinya, membuatnya harus menjauhkan mereka. Memberitahu keberadaan dirinya adalah orang yang memiliki integritas.
Julian Lee, melihat Lin Feng membawa Alysa. Justru tidak mendengar panggilan Lin Feng karena fokus dengan hadiah yang diberikan pada Qin Hai. Sementara itu, Joseph juga sedang menantikan Qin Nanran untuk menemuinya. Sejak dahulu ia sidah menyukai wanita itu.
"Nanran, aku ingin mengajak kamu untuk berdansa. Izinkan diri ini untuk membuatmu bahagia." Joseph mengalahkan tangannya dan bersiap menari. Ia juga ingin menjadi satu-satunya pria yang pantas untuknya.
"Aku sedang tidak enak badan. Oh, tunggu aku, Lusi. Aku ikut denganmu." Untuk mengalihkan pandangan, ia mengikuti Alysa dan Lin Feng.
Meskipun Lin Feng sudah menikah, ia tetap ingin mengikutinya. Yaitu dengan cara mendekati istrinya. Dengan begitu, ia bisa lebih mengenap pria itu. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kehidupan pria itu. Karena rasa penasaran setelah membuat kakeknya seperti hidup kembali.
Julian merasa kesal karena Lin Feng menggandeng tangan Alysa. Padahal ia sudah menargetkan wanita itu. Bahkan tidak tahu bahwa dia sudah benar-benar menikah atau hanya candaan Qin Nanran untuk menjauhkan diri darinya.
'Pria itu sebenarnya siapa? Mengapa merebut orang yang ku incar? Ah, Nanran juga begitu melindungi Lusi. Ah, Lusi. Mengapa kamu begitu sulit diajak berbicara? Tapi tidak apa-apa, aku yakin dapat menikmati tubuhmu.'
__ADS_1
Niat Julian Lee sudah jelas sekarang. Ia suka dengan Alysa yang memiliki paras cantik. Dengan tubuh yang sempurna, penampilan elegan, tubuh seksi, dengan saya tarik dari bagian depan bak buah persik. Sementara ia melihat dari belakang, fantasinya semakin liar. Begitu bulat dan lebarnya bagian itu.
Air liur Julian menetes saat melihat bentuk tubuh yang begitu sempurna itu. Namun pemandangan yang membuatnya kesal adalah pria yang bersamanya. Serta seorang gadis kecil yang dibawa oleh Lin Feng.
"Hey, Bro! Mengapa kamu melihat wanita itu terus? Apakah itu adalah incaranmu selanjutnya? Ingat, dia sudah menikah dan punya anak." Lagi-lagi Joseph datang mengagetkan Julian.
Dalam kesehariannya, Joseph selalu mencari waktu untuk bertemu dengan pujaan hatinya, Qin Nanran. Ia sudah berkali-kali mencoba untuk dekat dengannya. Namun wanita itu selalu menjauh dan mencari alasan. Ia juga setuju kalau Alysa memang wanita idaman bagi seluruh pria.
Joseph sendiri juga tertarik pada Alysa jika saja ia tidak memiliki incaran tersendiri. Namun ia baru pertama kali bertemu dengannya. Sehingga tidak mungkin bisa memiliki keyakinan seperti Julian yang tidak memikirkan apapun. Yang dipikirkan hanyalah bisa meniduri wanita manapun yang membuatnya tertarik.
Hal-hal yang diperlukan untuk melakukan itu cukup mudah baginya. Ia punya uang, maka wanita manapun akan datang padanya. Dengan uang yang dimiliki, ia yakin, wanita di depannya akan segera menjadi miliknya.
Lin Feng mengambil kue yang dihidangkan di atas meja. Di sampingnya ada istri yang ikut dengannya. Di pesta kali ini baru bertemu dengan para pemuda yang tak bisa diharapkan. Membuat Alysa enggan menghadiri pesta.
"Aku yang berwarna merah! Itu, Papa. Yu'er mau yang itu, itu dua, yang itu juga, Pa." Lin Yu'er menunjuk kue-kue yang ingin ia makan. Meskipun perut kecilnya tak dapat memuat semuanya.
"Kamu jangan kebanyakan makan. Nanti sakit perut dan sakit giginya," ujar Alysa memperingatkan. Ia berusaha menahan rasa risihnya karena terus diperhatikan oleh Julian.
Kelakukan Julian tentu membuat siapapun wanita itu akan kesal. Bukan hanya itu, suami dari wanita yang terus dipandanginya juga tidak terima. Sama halnya dengan Lin Feng yang kesal dengan kelakuan pria yang sampai berliur karena memperhatikan istrinya.
__ADS_1
'Sejak tadi aku merasa istriku tidak nyaman. Ah, orang itu kurang ajar, melihat istriku sampai ngiler begitu.' Lin Feng menjentikan pil dengan kecepatan tinggi. Pil itu hanya berukuran biji sawi. Sehingga tidak akan terlihat ketika terbang.
Pil yang dijentikan Lin Feng pun menuju ke mulut Julian. Tak lama setelah itu, tubuhnya terasa lemah dan tak bertenaga. Lin Feng tidak ingin membuat pesta ulang tahun Qin Hai terganggu. Bagaimanapun juga, ia perlu menyingkirkan pria itu dengan cara yang tidak membuat kegaduhan.
"Aduh, mengapa perutku sakit sekali? Ah, aku pergi ke toilet dahulu, yah!" Julian memegangi perutnya yang sakit. Bergegas meninggalkan tempat dengan berlari. "Ah, sialan! Dasar payah perut ini!"
"Hey, kamu tiba-tiba mau pergi saja? Jadi nggak, mau membawa wanita itu? Aku juga ingin Nanran bersamaku." Joseph mengikuti Julian yang sedang sakit perut. Karena ia berpikir itu hanya becandaan.
Joseph mengira kepergian Julian karena sudah tidak tahan lagi. Sehingga harus mengeluarkan amunisinya di dalam toilet. Meskipun memakai gaun tertutup, Alysa tak dapat menyamarkan bentuk tubuhnya.
Qin Nanran sedari tadi mengikuti Alysa dan beberapa kali melirik Lin Feng. Tapi ia mengingat ada gadis kecil yang ada di gendongan Lin Feng. Ia mendekati mereka untuk mengenal keluarga itu.
"Hey, hey Lusi. Betapa umur anak kalian? Sungguh anak itu sangat lucu. Lin Feng, bolehkah aku menggendongnya?" pinta Qin Nanran. Ia juga merasa Lin Yu'er sangat imut ketika makan kue.
"Papa. Yu'er maunya sama mama. Bibi yang itu, aku nggak mau," tolak Lin Yu'er. Karena dirinya tidak kenal siapapun kecuali papa dan mamanya. Sehingga enggan bersama orang asing.
"Yah, bibi kan ingin sama Yu'er. Masa nggak boleh, sih? Huumm ..." gumam Qin Nanran, manyun dan menggaet pundak Alysa. "Kalau gitu, bibi ambil mamamu aja, wlee!"
"Huwaa! Bibi itu jahat! Dia mau ambil mama dari Yu'er! Mama nggak boleh sama bibi jahat itu, huh!" Lin Yu'er melempari Qin Nanran dengan kue yang baru setengah dimakan.
__ADS_1
Kue itu terlempar ke pakaian Qin Nanran. Membuatnya berteriak karena pakaiannya kotor oleh kue rasa coklat. Refleks, Qin Nanran mengusap-usap pakaiannya. Namun malah membuat kue itu menyebar. Sementara itu, Lin Feng langsung menyentuh tangan putrinya agar tidak melempari kue lagi.
***