
"Aku hanya bisa membuat lima pil ini untuk sekarang. Jual berapapun yang kau mau. Kita akan bertemu lagi ketika punya banyak waktu. Dan juga, hubungi beberapa orang yang bisa dipercaya. Itu saja. Aku pamit!"
Lin Feng meninggalkan lima pil di tangan Lin Haizan. Membuat Lin Haizan melongo karena melihat pil sungguhan. Hanya dengan peralatan sederhana, mampu membuat lima pil yang sangat luar biasa.
"Ini ... hanya beberapa menit sudah membuat pil ini. Juga dengan energi qi saja, mampu membuat api. Sebenarnya rahasia apa yang tersembunyi dariku, anak muda." Lin Haizan menggelengkan kepala dan memegang lima pil di tangan.
Benar-benar ada hari di mana seorang pria tua melihat orang membuat pil hanya dengan menggunakan panci. Itupun terlihat sempurna dari yang pernah ia ketahui. Menurut catatan orang terdahulu, membuat pil tidaklah semudah seperti yang dilakukan oleh Lin Feng.
Kemampuan Lin Feng juga termasuk yang paling lemah. Dia sendiri juga sudah mengeluarkan setengah energinya untuk membuat lima pil dengan kualitas rendah. Apa jadinya jika ia membuat pil dengan kualitas yang lebih tinggi? Pasti ia akan kehabisan seluruh energinya meski membuat satu pil.
Di luar masih ada orang suruhan Shu Mei. Lin Feng yakin mereka tidak akan menyakiti orang tua di dalam. Yang menjadi target seharusnya adalah dirinya. Jika pun Lin Haizan menjadi targetnya, maka ia juga tidak sanggup mengalahkan mereka.
"Kultivasi Atas tahap tiga. Ada tiga orang yang mengintai ku. Aku adalah orang yang tidak suka diikuti. Jika begitu, kalian terpaksa harus mati."
Lin Feng bergerak dengan kecepatan tinggi. Berlari dengan cepat menuju salah salah satu orang. Ia segera memberi pukulan keras. Merebut pistol dan menembak kepalanya.
Kemampuan menembak Lin Feng tidak terlalu baik. Mengandalkan kemampuan bermain game pemilik tubuh, ia pun dapat mengetahui dan menghitung jarak tembak. Kebetulan senjata laras pendek itu seperti yang ada di game. Ia tahu waktunya untuk mengisi peluru dan menembak dengan ketepatan waktu yang sempurna.
Menyadari suara tembakan dan tidak melihat pergerakan Lin Feng, membuat mereka panik. Tujuan mereka adalah mengikuti Lin Feng, bukan untuk membunuhnya. Namun siapa sangka, Lin Feng berinisiatif membunuh salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Sial! Kita bukan ingin membunuh! Tuan Lin, kami tidak ada niatan membunuhmu! Kau jangan impulsif!" Bawahan Shu Mei mengarahkan pistol ke arah Lin Feng.
"Benar. Kita tidak bermaksud buruk. Kami diperintahkan untuk mengikutimu dan membantumu. Kita bukan musuh," imbuh lainnya. Meski sudah membunuh satu orang, asalkan bisa mengikuti Lin Feng, mereka pun tidak bisa berbuat lebih.
"Heh, kalian adalah bawahan wanita tua itu, bukan? Kalian pikir aku orang yang bodoh? Hutang nyawa di kehidupan sebelumnya masih belum terbalaskan, mana mungkin pembunuh seperti dia bisa dipercaya?"
Tanpa diduga, Lin Feng menembak kedua orang yang jaraknya lebih dari sepuluh meter jauhnya. Namun tidak hanya mengenai masing-masing bahu kiri dan tangan kanan. Meski sudah mengukur ingin menembak bagian kepala.
"Tuan Lin! Kami tidak bermaksud lancang! Maafkan kami!" Karena terpojok, membuatnya balas menembak Lin Feng. Dengan tingkat kultivasinya, tidak mudah ditembak. Bahkan tubuhnya setengah kebal dari peluru yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Jika orang biasa, peluru itu bisa tembus tangan dan menghancurkan tulang. Namun luka mereka hanya sampai kedalaman dua sampai lima sentimeter. Lin Feng akhirnya mengakui mereka sangat hebat namun ia segera bergerak mendekat.
"Tidak! Tidak! Tuan Lin! Kami tidak ada niat buruk padamu. Tapi kami perlu melindungi diri. Kami punya istri dan anak yang harus diberi makan. Ampuni kami!"
"Terlambat. Tapi peluruku sudah habis. Mati saja dengan tinjuan tanganku!" Setelah jarak dekat, Lin Feng memukul bahu lawan yang sempat tertembak. Memberi pukulan untuk membuatnya tak berkutik.
Mereka tidak percaya bahwa Lin Feng akan membunuh. Padahal sudah mengatakan memiliki anak dan istri. Namun bagi Lin Feng, istri dan anak bukanlah alasan mengapa bisa menjadi bawahan pembunuh. Lin Feng tidak peduli pada orang lain sekarang.
"Kalian adalah pembunuh bayaran dan resiko kematian adalah hal yang harus dihadapi. Jika kalian mati, bukan aku yang bertanggung jawab pada keluargamu. Bukan aku yang bersalah karena aku membunuh kalian. Tapi salah kalian sendiri karena memberi makan dengan uang hasil membunuh orang."
__ADS_1
Satu lagi bawahan Shu Mei berada di genggaman Lin Feng. Ia menendang dan membuatnya tersungkur ke tanah. Senjata mereka berhasil direbut lalu diamankan dengan menghancurkannya. Kali ini ia akan menggunakan tangan kosong untuk membunuh mereka.
"Tu-tung-gu ... kami masih punya istri dan anak yang masih kecil. Aku tidak mau mati sebelum bertemu dengan mereka. Ampuni kami. Kami tidak ada maksud untuk membunuh. Kenapa kau mau membunuh kami?"
"Kau banyak bicara! Istri dan anakmu apa hubungannya denganku? Kalian sendiri yang mencari mati! Soal hidup dan matimu aku tidak peduli. Soal istri dan anakmu, apa urusanku? Itu urusan kalian sendiri yang tidak bisa memberikan nafkah dari hasil yang benar!"
"Ampun. Kami akan berhenti. Hikss. Aku mohon. Aku punya istri dan anak yang harus ku urus. Aku tidak mau mati di sini, huhuhu."
"Air mata serigala? Aku tidak peduli dengan aktingmu disaat detik terakhir hidupmu. Matilah saja!" Lin Feng tidak mengampuni orang yang terlihat menyedihkan.
Bagi Lin Feng, orang-orang seperti itu tidak mungkin memiliki perasaan pada orang lain. Menjadi bawahan pembunuh, berarti bagian dari pembunuh. Juga pantas untuk mati tanpa tenang pilih.
Di dunia banyak orang-orang bekerja menjadi orang jahat. Namun saat diakhir hidupnya, membuat pernyataan tentang keluarga dan orang-orang yang disayangi. Namun itu bukan alasan seseorang agar bisa diampuni. Jika semua penjahat seperti itu, maka sulit untuk membunuh mereka. Apalagi membuat orang memiliki hati nurani yang tidak tegaan.
Jika itu orang-orang baik yang melindungi masyarakat atau dokter yang mengobati orang, memang tidak layak dibunuh. Meskipun terkadang ada kecelakaan, itu bukan karena keinginan mereka. Namun karena ketidakmampuan serta takdir yang ditetapkan langit.
"Sekarang kalian sudah terbebas dari penderitaan dunia. Jika benar ada anak dan istri yang harus kalian rawat, maka itu bukan urusan kalian lagi. Kesalahanmu, tidak perlu mereka bawa. Tapi jika mereka ingin balas dendam, kalian sendiri yang membawa kematian ini. Tidak ada hubungannya denganku."
Untungnya sejak kedatangan bawahan Nanggong Chai, orang-orang sudah ketakutan dan pergi dari area sekitar. Sehingga tidak meninggalkan saksi mata. Selanjutnya ia akan pergi ke sebuah tempat yang ia ingin tuju sejak kemarin.
__ADS_1
***