
Lin Feng membawa Alysa ke kamarnya. Karena tidak ada cara lain lagi untuk menenangkan pikiran Alysa. Ia mengeluarkan air dari tangannya untuk mengompres dahi sang istri.
'Tahan. Aku harus menahan diri. Dia sedang sakit. Kalau tidak bisa menahan diri, maka kamu tidak pantas.' Sekuat tenaga Lin Feng menahan godaan. Dipandanginya wajah Alysa yang kasihan. Ia tidak tega namun tetap saja dorongan dari dalam dirinya sangat kuat.
Dibukanya jaket itu dan menampakan kulit tanpa penutup lainnya. Bongkahan daging di bagian yang lebih besar itu terlihat seperti sepasang gunung yang menantang. Ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya di sana.
"Hanya pijatan. Namun aku tidak bisa seperti ini." Lin Feng memijat tubuh tanpa penutup kain dengan lembut. Tidak berniat membangunkannya. Jika sampai bangun, habis sudah.
Lin Feng menutup mata agar tidak melihatnya, memberi pijatan pada tangan Alysa terlebih dahulu. Sebelum ke tempat selanjutnya, ia berkonsentrasi memberikan kehangatan dengan panas tubuhnya.
Alysa merasakan suatu kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat membuka mata, ia melihat suaminya sedang menutup matanya sambil memijat tangannya. Lalu ke atas, ke lengannya dan sampai di pundak.
Saat itu Alysa tidak tahu itu mimpi atau kenyataan. Namun ia tidak peduli lagi dengan hal itu. Baik itu dalam mimpi ataupun kenyataan, ia adalah istrinya. Sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah berbuat banyak kesalahan. Ia berniat melakukan hal-hal yang membangkitkan hubungan antara mereka. Tentu saja dengan memberikan seluruh hidupnya.
Bukan hanya karena merasa bersalah, Alysa meminta maaf untuk itu. Bukan juga karena kewajiban sang istri untuk memenuhi keinginan suami. Lebih dari itu, ia juga menginginkannya. Betapa dirinya menyesal tidak sadar sedari dulu.
Perasaan yang telah terbangun karena balas budi tidak seperti yang dirasakan seperti saat ini. Hubungan karena kebaikan hati, tidak sepenuhnya karena itu. Hanya dorongan dari hati yang dapat membuatnya memilih cukup energi untuk membuat hal-hal di luar dugaan.
Hatinya bergerak? Yah, harusnya ia sudah tahu sejak lama. Entah sejak malam pertama itu atau disaat tangan itu menyentuhnya dengan lembut. Memberikan pijatan yang membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
Lin Feng tidak tahu kalau Alysa sudah bangun. Ia menutup mata sepenuhnya bahkan pupil gandanya tidak berfungsi untuk saat ini. Membiarkan dirinya lengah untuk sementara waktu. Ia ingin menikmati setiap sentuhan akan pijatan yang ia berikan.
"Alysa, kulitmu benar-benar lembut. Andaikan kamu mengijinkan aku, aku ingin memilikimu seutuhnya. Namun kamu terus menolakku. Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi biarkan aku mengobati demammu dengan pijatanku. Aku benar-benar minta maaf padamu."
Alysa merasa sesuatu yang aneh ketika Lin Feng mengatakan itu. Benar yang dikatakan suaminya itu. Bahkan dirinyalah yang selalu menolak ajakan Lin Feng. Ia seharusnya dihukum atas tindakannya yang melawan. Namun penyesalan hanya akan menambah beban pikirannya. Mengapa tidak diteruskan saja permainan itu?
Tubuh Alysa sepenuhnya sudah terekspos. Meski tidak dilihat langsung oleh Lin Feng, tetap saja ada pijatan dari tangannya. Tentu saja pasti sudah merasakannya. Ketika menyadari jaket yang dikenakan olehnya juga sudah dilepas.
'Dasar pria munafik. Naifnya tidak ketulungan. Kalau mau, lakukan saja. Padahal sudah seperti ini. Prinsipmu benar-benar tidak berguna. Kalau begitu, aku juga harus berinisiatif?'
"Alysa, maafkan aku yang telah menyentuhmu. Aku memang menikmati ini dan tidak akan menyesal. Jika kamu bangun nanti dan mau menghukum, silahkan saja hukum aku."
Setelah mendengar suara itu, Lin Feng membuka matanya dan melihat mata Alysa sudah terbuka. Maka dunia seakan-akan telah runtuh. Bagaimana ia menjelaskan semuanya? Namun itu juga tidak ada gunanya. Karena wanita itu sudah menyadari, tubuhnya sudah tak ada penutup lagi.
'Tunggu! Mengapa Alysa tersenyum? Apa ini? Apa yang telah terjadi?' Lin Feng merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi melihat senyuman wanita itu, dorongan dalam dirinya semakin kuat.
Melihat bibir tipisnya yang begitu menawan. Ia sangat menyukainya daripada bibir yang tebal. Dan bagian bawah yang terlihat seperti gunung kembar, terasa lembut saat disentuh. Juga bukit kecil berwarna merah muda itu membuat kepala Lin Feng panas.
Tanpa diduga, Alysa menarik kepala Lin Feng turun. Tepat sekali, bibir mereka saling bertautan dan saling memainkan lidah di dalam mulut. Hal itu terjadi begitu saja dan keduanya larut dalam mahligai indah.
__ADS_1
Bintang selamanya tidak akan redup meskipun ada banyak lampu-lampu yang bersinar terang di bumi. Karena bintang itu telah menyerahkan segalanya. Cahayanya mungkin tidak terlihat saat di bumi banyak lampu-lampu menyala dengan terang. Tapi bagaimana jika itu bukan bintang? Tak ada lagi majas yang dapat menggambarkan dirinya.
Alysa sepenuhnya sadar, ia bisa menjadi bintang yang paling bersinar. Ia juga bisa menjadi bulan atau matahari. Namun itu tidak lagi berguna saat ini. Ia juga bukan seekor burung pegar yang menantikan dimakan burung rajawali. Dia adalah Alysa Lien atau Lien Lusi. Seorang wanita yang bahagia karena telah menemukan tujuan hidupnya.
'Namaku Alysa Lien. Namun itu bukan nama asliku. Nama sebenarnya adalah Lien Lusi, nama yang diberikan kedua orang tuaku. Seorang wanita yang mengabdikan dirinya mengurus perusahaan mendiang kedua orang tuaku. Namun orang-orang yang mengaku keluarga itu, hanya memanfaatkan aku sebagai sapi perah yang bekerja siang malam untuk memenuhi keinginan mereka. Setiap hari hanya ada rasa frustasi dan berada di jurang keputusaan. Namun kini tidak sendiri lagi karena aku menemukan tujuan hidupku. Bahagia bersama pria yang sedang ada di atasku ini.'
Hingga pagi menjelang, Alysa baru bisa bebas dari penderitaan. Yah, Lin Feng juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Sehingga membuat mereka bangun kesiangan.
"Papa! Mama! Apa kalian ada di dalam? Yu'er lapar! Yu'er mau makan tapi makanan di meja sudah dingin!" Lin Yu'er menggedor pintu kamar dengan tangan kecilnya.
Semalam Lin Yu'er sudah mendengar mereka berdua berisik dan beberapa erangan dari Alysa. Gadis itu berpikir kalau mamanya sedang dihukum oleh Lin Feng. Sehingga berteriak dan menjerit kesakitan. Namun ia tahu, mereka akan baik-baik saja saat bangun. Tapi masih saja ada rasa khawatir.
"Papa! Apa yang papa lakukan pada mama semalam? Papa jahat sama mama? Padahal mama mau minta maaf pada papa! Buka pintunya! Yu'er mau lihat mama!"
Mendengar Lin Yu'er berteriak, membuat Lin Feng dan Alysa kebingungan. Mereka tidak mungkin membiarkan gadis itu masuk ke kamar yang berantakan dan berbau menyengat.
"Huhh, aku tidak bisa bangun. Lin Feng, ini salahmu! Aku tidak bisa bangun, uhh, lelah sekali dan mengantuk. Kamu urus anak kamu. Kalau bukan karena kamu, aku tidak seperti ini, tau?"
"Iya-iya. Tapi aku masih ingin lagi. Maukah satu kali lagi?" pinta Lin Feng mengiba. Namun ia mendapatkan lemparan bantal.
__ADS_1
***