
Tak ada yang perlu disesali hanya karena menyinggung orang penting. Sebagian orang mengandalkan kedudukan orang tuanya untuk mencari keadilan yang benar menurut pandangan mereka. Sebagian orang menggunakan kekuasaan yang didapat dengan cara kotor untuk memenuhi ambisi serta nafsu belaka.
Jika mereka tidak dihentikan seseorang, mungkin akan terus berbuat buruk di dunia. Bahkan saat mereka menganggap tindakan yang dilakukan itu sebuah kebenaran, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tertutup hatinya.
"Kalau kau mencoba mencari masalah denganku lagi, bukan hanya nyawa kalian yang menjadi taruhannya. Namun keluarga kalian akan mati seluruhnya. Bahkan satu marga dari kalian bisa aku musnahkan!"
Tak ada sebab tanpa akibat. Lin Feng tidak mungkin menggunakan kekerasan kecuali mereka yang memulai terlebih dahulu. Jika Lin Feng tidak bisa membela dirinya, mungkin dialah yang terbaring saat ini. Demi kemanusiaan, Lin Feng meletakan wanita hamil dan pria cacat itu ke tempat yang teduh. Di bawah pohon rindang yang dapat melindungi dari terik matahari.
"Terima kasih atas pengertianmu. Aku sangat menyesal karena salah paham sebelumnya. Margaku–"
"Diamlah! Aku tidak peduli dengan margamu dan namamu! Ku anggap masalah ini selesai sampai di sini. Kau memfitnahku menghamili putrimu. Dan kau sudah jelas sekarang? Dia bukan hamil denganku. Dan kau bisa menebus kesalahanmu atau putrimu sendiri. Tidak ada urusannya denganku."
Akibat salah menuduh orang, membuat diri sendiri yang celaka. Dari awal Lin Feng telah mengatakan tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Bahkan tanpa ragu, pria paruh baya itu telah mengikuti Lin Feng dari belakang. Menuduh orang tak bersalah sesuka hatinya. Hanya karena putrinya sedang mengandung, membuatnya ingin mencari orang yang mau bertanggung jawab.
"Ah, aku sangat menyesali semuanya. Tidak kusangka, malah menghadapi orang yang tidak bisa disinggung." Pria itu mengambil handphone di saku. Menggunakan satu tangan yang masih utuh.
Satu tangan dan satu kaki sudah pantas hilang karena telah mengganggu orang yang salah. Bahkan berniat membunuh orang yang tidak ada kaitannya dengan masalah keluarga.
Tak ada yang dapat berbuat baik selama hidupnya. Terkadang orang yang terlalu emosi, adalah kehancuran yang menimpanya. Lebih baik telah hidup dengan baik dan tidak mencari masalah.
__ADS_1
Lin Feng meninggalkan mereka dengan emosi yang menggebu. Ia bukan memaafkan atau bersikap lunak. Dirinya sudah terlalu emosi dan sulit untuk menerima gangguan. Otaknya telah diperas sejak kemarin. Bahkan belum sempat tidur semalaman karena membuat berbagai macam obat.
Otaknya telah dikuras lagi untuk menyelesaikan masalah Alysa di perusahaannya. Tentu saja badan dan pikiran sudah lelah dan membuat emosi mudah meledak. Namun di depan putrinya, ia telah menyimpan semua emosinya. Jangan sampai orang lain tahu segala yang ia derita saat ini.
"Tadi aku mengatakan akan memberi kejutan pada putri kecil ini. Lebih baik beri kejutan apa, yah?" Lin Feng memandangi wajah Lin Yu'er yang terlelap di sampingnya. Ia tidak berani menunjukkan emosi meski gadis kecil itu sedang tidur.
Melihat Lin Yu'er merupakan sebuah kekuatan untuk memendam semua masalah yang dihadapi. Di kehidupan sebelumnya, ia memiliki seorang putri yang dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Namun tidak dekat dengannya, malah hanya mau dekat dengan orang yang melahirkannya. Yaitu Shu Mei. Istri Lin Feng di kehidupan sebelumnya. Yang membunuhnya dengan racun selama bertahun-tahun.
Racun di dalam makanan setiap hari tanpa disadari karena rasa kepercayaan diri sangat tinggi pada sang istri. Bahkan Lin Feng tidak pernah menggunakan kemampuannya untuk menyelidiki semuanya. Racun dalam makanan dan minuman setiap hari masuk ke dalam tubuh. Bahkan percaya diri bahwa tubuhnya sangat kuat. Sehingga tidak memeriksa diri dan tidak merasakan rasa sakit.
Kepercayaan pada manusia sangat rendah. Jika seseorang telah dibantu tapi membalas dengan keburukan, lain kali tidak ada rasa ampun lagi. Namun kebahagiaan kecil yang tidak didapat di kehidupan sebelumnya, Lin Feng akan meraihnya dengan cara apapun.
Hari sudah sore ketika mobil sampai di parkiran gedung apartemen. Ia telah mampir ke beberapa toko untuk membeli boneka berukuran besar. Ia memberi hadiah itu kepada Lin Yu'er dan Alysa Lien.
"Ahahaha! Papa! Kenapa kau tahu?" Lin Yu'er tertawa kegirangan dan memeluk boneka beruang besar. "Yeayy! Boneka ini sangat besar. Terima kasih, Papa!"
"Iya-iya. Sekarang kamu turun, yah. Kamu bawa beruang itu. Papa akan membawa mamamu ke atas. Yu'er ikuti papa terus, yah."
Lin Yu'er keluar dari dalam mobil. Menyeret boneka beruang yang lebih besar darinya. Namun ia malah tidak kuat mengangkat boneka beruang tersebut.
__ADS_1
"Papa! Boneka beruangnya bandel? Tidak mau diajak keluar!" teriak Lin Yu'er menunjuk ke arah boneka beruang.
"Ah, kenapa bisa lupa? Kamu hanya anak umur empat tahun. Uh, iya nanti papa yang bawa. Sekarang kita bawa mamamu dahulu ke atas. Nanti papa yang membawa boneka itu."
Alysa masih tertidur dengan posisi yang membuat Lin Feng panas dingin. Pasalnya dengan pakaian yang dikenakan, membuat kesan keseksiannya terekspos. Pria manapun pasti tidak akan bisa tahan dengan pesona tubuh Alysa yang sempurna.
'Ah, perasaan ini lagi. Kenapa tubuh ini begitu menginginkan Alysa ini? Tidak-tidak. Ini adalah naluri pria sejati. Alysa Lien, tampaknya kau tidak bisa lolos malam ini.' Lin Feng tersenyum licik. Ia membawa Alysa dengan segenap jiwa dan raganya.
"Papa. Kita ada di mana? Mengapa kita tidak pulang ke rumah? Dan kita tidak melihat bibi Hanna, bukan?" tanya Lin Yu'er.
Hanna. Seorang yang membuat kesalahan besar pada Lin Feng. Ia tidak lain seorang yang telah mendapat pelajaran. Namun entah di mana dan apa yang dilakukan olehnya, bukan menjadi urusan Lin Feng lagi. Karena itu masalah dia dan apa yang telah diperbuat.
"Hanna, yah? Eum. Mungkin bibi Hanna sudah pulang duluan. Ah, bagaimana orang itu bertanggung jawab merawat putriku?" Padahal Lin Feng sendiri yang menyingkirkan Hanna demi bisa mengajak Lin Yu'er pergi.
"Bibi Hanna tidak ikut dengan kita?" tanya Lin Yu'er bersedih. Padahal wanita itu telah merawatnya hingga saat ini. "Yah, Yu'er tidak bisa menunjukan boneka yang diberikan papa padaku, huhh."
Tiba-tiba Lin Feng merasa bersalah telah memisahkan Lin Yu'er dengan Hanna. Namun ia tidak boleh lengah dan jangan sampai ketahuan kalau dia telah membawa dua orang penting. Bahkan Hanna sendiri tidak tahu keberadaan Lin Yu'er dan Alysa sekarang.
"Lupakan soal wanita tidak bertanggung jawab itu. Orang yang meninggalkan Yu'er di restoran bahkan tidak membayarnya. Apa dia masih punya muka untuk mencari gara-gara?"
__ADS_1
Setelah menutup pintu mobil, Lin Feng membawa Alysa. Sementara Lin Yu'er berada di sampingnya. Berjalan dan memegangi pakaian Lin Feng.
***