
Semenjak kejadian di makam Mita sering melamun dan sering menangis. Ia takut jika mama Hisyam menyuruh Hisyam untuk menceraikannya. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai Hisyam menceraikannya. Siapa yang akan mendampingi dan menemaninya? Mita tidak menginginkan hal itu terjadi.
Hisyam selalu menghibur dan menenangkan Mita. Ia berusaha meluangkan waktu untuk Mita dengan cara mengurangi jam praktek di apotik. Semua ia lakukan agar Mita merasa tenang jika ia ada di samping Mita.
Pada suatu ketika Mita sedang mengerjakan tugas dari guru, tiba-tiba ia hendak buang air kecil. Ia langsung menuju ke kamar mandi. Ketika di dalam kamar ia kaget melihat garis berwana coklat di underwearnya. Setahu Mita wanita hamil tidak boleh ada flek sedikitpun di underwear.
Mita langsung panik, cepat-cepat ia keluar dari kamar mandi. Ia hendak menelepon Hisyam tapi ia takut mengganggu Hisyam. Biasanya jam-jam segini Hisyam sedang menerima pasien.
Mita keluar dari kamar dan memanggil Mbok Narti.
“Mbok!” teriak Mita namun Mbok Narti belum juga muncul dari belakang.
“Mbok!” Mita berteriak sekali lagi.
Mbok Narti berjalan terburu-buru menghampiri Mita.
“Ada apa, Non?” tanya Mbok Narti.
“Mbok. Di underwear Mita ada flek coklat,” jawab Mita.
“Pleg itu apa, Non?” tanya Mbok Narti dengan bingung.
“Itu loh, seperti orang yang mau datang haid. Keluar kecoklat-coklatan,” jawab Mita.
“Astagfirullahaladzim. Nggak boleh sampai keluar begitu, Non! Sekarang Non naik ke tempat tidur. Diam di tempat tidur. Tunggu sampai Pak Dokter pulang! Kalau mau apa-apa panggil si Mbok,” ujar Mbok Narti.
“Iya, Mbok.” Mita kembali ke kamarnya lalu tidur di tempat tidur. Mula-mula ia kesal diam di tempat tidur. Biasanya kalau siang ia sedang mengerjakan tugas atau nonton drama korea. Lama-lama matanya mulai mengantuk dan Mitapun tertidur.
Ketika Mita tidur dengan lelap ia merasa ada yang mengecup keningnya. Mita membuka matanya yang masih ngantuk. Ia melihat Hisyam duduk di sampingnya sambil mengusap kepalanya. Melihat wajah suaminya selalu saja membuatnya merasa tenang.
“Abang.”
Mita berusaha untuk bangun dari tempat tidur, namun Hisyam melarangnya.
“Lebih baik kamu berbaring saja!” ujar Hisyam.
“Mita mau ke kamar mandi,” kata Mita.
Mita bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian Mita keluar dari kamar mandi.
“Keluar flek lagi, nggak?” tanya Hisyam.
“Nggak, Bang,” jawab Mita.
“Sekarang kamu tidur lagi. Nanti sore ikut Abang ke tempat praktek. Nanti Abang periksa dengan USG,” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita. Mita naik ke atas tempat tidur.
“Abang mau mandi dulu.” Hisyam beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
***
Sebelum adzan magrib Hisyam dan Mita berangkat menuju ke tempat Hisyam praktek. Mereka sholat magrib di ruang periksa karena Hisyam mulai praktek pukul enam lewat tiga puluh menit.
Sebelum Hisyam memeriksa pasien lain, ia memeriksa Mita terlebih dahulu. Hisyam memandangi layar monitor, ia sedang memperhatikan perkembangan anak sambungnya dengan menggunakan USG. Janin dalam kandungan Mita dalam keadaan sehat, ia berkembang dengan pesat. Jika diperhatikan dari ukuran janin dan beratnya tidak ada masalah namun keluar flek tidak bisa disepelekan. Mita harus bedrest hingga tidak keluar flek lagi.
__ADS_1
“Kamu pulang sendiri, ya! Abang harus praktek dulu. Kalau kamu nunggu Abang nanti kamu kesal dan cape. Apalagi kamu harus bedrest,” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
Hisyam mengantar Mita ke depan apotik sampai naik taksi namun ketika keluar dari kamar periksa Mita melihat banyak pasien wanita-wanita cantik yang sedang menunggu untuk diperiksa oleh suaminya. Mita tidak rela jika suaminya di kelilingi wanita cantik. Ia merasa cemburu walaupun wanita-wanita itu sedang hamil.
“Bang. Mita mau nunggu Abang aja,” kata Mita.
“Loh, kenapa?” tanya Hisyam bingung. Biasanya Mita tidak minta ikut ke tempat praktek, ia menunggu suaminya di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mita tidak mau pulang.
“Pokoknya Mita tidak mau pulang! Mita mau tunggu Abang sampai selesai praktek,” jawab Mita.
Hisyam menghela nafas mendengar perkataan Mita. Semua orang yang berada di ruang tunggu memperhatikan mereka berdua.
“Kamu harus bedrest! Di sini tidak ada tempat untuk kamu tidur,” ujar Hisyam dengan sabar.
“Mita duduk di ruang tunggu,” kata Mita.
“Ya sudah. Tapi kalau kamu sudah cape langsung pulang!” Hisyam mengusap rambut Mita.
“Pokoknya Mita mau nunggu sampai Abang pulang!” kata Mita yang tetap dengan pendiriannya.
“Sekarang kamu duduk dulu!” Hisyam memapah Mita menuju ke tempat duduk yang kosong.
“Kamu duduk di situ. Jangan kemana-mana!” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
Hisyam berjalan menuju ke depan apotik, ia terpaksa harus membatalkan taksi online yang sudah Mita pesan. Ia memberikan uang kompensasi pembatalan pesanan taksi online.
Hisyam kembali masuk ke ruang periksa. Ia terpaksa menyuruh suster membatasi jam prakteknya sampai jam delapan karena ia tidak ingin Mita menunggu terlalu lama.
***
“Ada apa, Delima?” tanya Hisyam.
Delima masuk ke dalam ruang kerja Hisyam.
“Dokter Hisyam sudah mau pulang?” tanya Delima.
“Iya,” jawab Hisyam tanpa menoleh ke Delima. Ia memeriksa laci dan lemari kerjanya apakah sudah dikunci.
Delima menaruh sebuah tas kain besar di atas meja Hisyam.
“Apa ini, Delima?” tanya Hisyam.
“Tadi pagi Delima mencoba membuat cheese cake. Ternyata rasanya enak lalu Delima buat lagi untuk Dokter Hisyam. Biar Dokter Hisyam bisa mencicipi cake buatan Delima,” jawab Delima.
“Terima kasih, Delima. Tapi saya masih kenyang,” jawab Hisyam.
“Bukan untuk dimakan sekarang. Itu untuk Dokter ngemil di rumah,” kata Delima.
Hisyam menghela nafas. Delima sering sekali mengirimi makanan untuk Hisyam. Tadinya Hisyam mengira sebagai ucapan tanda terima kasih karena sudah mengajari Delima namun lama kelamaan setiap hari Delima mengiriminya makanan. Hisyam merasa tidak enak diperlakukan berlebihan oleh Delima. Hisyam merasa Delima menaruh hati kepadanya tapi Hisyam tidak tertarik kepada Delima. Semenjak itu Hisyam menolak setiap pemberian Delima. Delima tidak mengetahui kalau Hisyam sudah menikah. Ketika Hisyam menikah tidak banyak yang tau karena hanya beberapa orang suster dan dokter yang diundang.
Usaha Delima untuk mendekati Hisyam tidak berhenti sampai di situ. Diam-diam Delima sering menaruh makanan di meja Hisyam jika suster sedang tidak ada di tempat. Tapi Hisyam tidak memakan makanan itu, ia memberikan kepada suster atau kalau tidak kepada cleaning service rumah sakit.
__ADS_1
Kali ini Hisyam menerima pemberian Delima karena ia ingat kalau Mita menyukai cheese cake. “Terima kasih, ya,” ucap Hisyam.
“Sama-sama, Dokter Hisyam,” jawab Delima.
Wajah Delima berseri ketika Hisyam menerima kue buatannya.
***
Hisyam turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumah. Mita berdiri di depan pintu menyambut kedatangan suaminya.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam.” Mita mencium tangan suaminya.
“Nih, untuk kamu.” Hisyam memberikan tas kain yang berisi kotak kue kepada Mita.
“Apa ini, Bang?” tanya Mita. Ia melihat isi tas tersebut.
“Cheese cake buat kamu,” jawab Hisyam.
“Terima kasih, Bang.” Mita mencium pipi suaminya. Hisyam tersenyum diperlakukan manis oleh Mita.
Mita membawa kue itu ke dalam rumah. Ia menaruh kue di atas meja. Cepat-cepat ia mengambil piring kue dari dalam lemari. Ia memotong kue lalu menaruhnya di atas piring kue.
“Abang mau?” tanya Mita.
“Nggak, buat kamu saja,” jawab Hisyam. Hisyam masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Mita membawa kue itu ke ruang keluarga. Ia menonton televisi sambil makan kue. Dua puluh menit kemudian Hisyam keluar dari kamar. Ia duduk di sebelah Mita. Mita lagi asyik makan kue.
“Kuenya enak. Abang beli dimana?” tanya Mita sambil mengunyah kue.
“Abang tidak beli tapi dikasih Dokter Delima,” jawab Hisyam.
Mendengar dokter perempuan Mita langsung berhenti makan.
“Orangnya masih muda?” tanya Mita penasaran
“Iya. Dia kan dokter residen,” jawab Hisyam.
“Cantik?” tanya Mita dengan curiga.
“Nggak. Cantikan kamu,” jawab Hisyam.
“Abang sering dikasih makanan sama dia?” tanya Mita.
“Iya. Tapi Abang tolak. Abang kan udah punya kamu,” jawab Hisyam.
Mita langsung menaruh piring kue di meja. Ia memasang muka cemberut.
“Kok nggak dimakan kuenya?” tanya Hisyam.
“Nggak mau. Itu kan kue dari perempuan yang suka sama Abang,” jawab Mita dengan kesal.
“Abang tidak boleh menerima makanan dari perempuan lain!” seru Mita.
__ADS_1
“Iya, Mita.” Hisyam mengusap kepala Mita.