Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
27. Kedatangan Orang Tua Arifin.


__ADS_3

Mita baru selesai memandikan Azam. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Mita menoleh ke belakang, Hisyam belum selesai sholat ashar. Cepat-cepat Mita menggunakan Azam pospack.


“Azam tunggu dulu di sini. Mama mau buka pintu.” Mita meninggalkan Azam di atas tempat tidur lalu membuka pintu kamar.


Bi Ijah berdiri di depan pintu kamar.


“Ada apa, Bi?” tanya Mita.


“Di depan ada tamu, Non,” jawab Bi Ijah.


“Si apa?” tanya Mita.


“Katanya orang tua Arifin,” jawab Bi Ijah.


Orang tua Arifin? tanya Mita di dalam hati. Beberapa hari yang lalu Ibu Emilia menceritakan kepada Mita tentang kedatangan orang tua Arifin. Sehingga ia sudah tidak kaget lagi ketika orang tua Arifin datang ke rumahnya.


“Suruh duduk dulu dan tolong buatkan minum untuk mereka!” ujar Mita.


“Baik, Non,” jawab Bi Ijah.


Bi Ijah kembali ke depan. Mita menoleh ke Hisyam. Hisyam sudah selesai sholat namun, Ia sedang berzikir. Mita kembali memakaikan Azam baju. Hisyam sudah selesai berzikir. Ia melipat sarung dan sajadahnya.


“Bang.” Mita memanggil Hisyam. Hisyam menaruh sarung dan sajadahnya lalu mendekati Mita.


“Ada apa?” tanya Hisyam.


“Ada orang tua Arifin datang ke sini,” jawab Mita.

__ADS_1


“Temui saja,” ujar Hisyam.


“Temani ya, Bang,” kata Mita.


“Iya,” jawab Hisyam. Hisyam duduk di atas tempat tidur memperhatikan Mita yang sedang memakaikan


Mita sudah selesai memakaikan Azam baju lalu menaruh Azam di atas pangkuan Hisyam.


“Azam sama Papa dulu, ya. Mama mau ganti baju,” kata Mita.


Mita mengganti baju dengan baju yang lebih sopan. Ia menutup rambutnya dengan kerudung. Setelah selesai Mita menggendong Azam dan membawa Azam keluar kamar. Hisyam mengikuti Mita keluar kamar. Mita memberikan Azam kepada Bi Ijah setelah itu barulah ia dan Hisyam menemui orang tua Arifin.


Orang tua Arifin langsung berdiri dari tempat duduk ketika melihat Mita dan Hisyam menghampiri mereka. Mita dan Hisyam menyalami orang tua Arifin.


“Apa kabar, Om-Tante?” sapa Mita.


“Alhamdullilah baik, Mit,” jawab Ibu Gia. Mita dan Hisyam duduk di kursi tamu.


Mita menghela nafas. Ia tidak bisa melarang orang tua Arifin bertemu dengan Azam. Bagaimanapun juga Azam adalah cucu mereka.


“Sebentar, saya ambil Azam dulu.”


Mita masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudia ia datang sambil menggendong Azam. Mita membawa Azam duduk di sebelah Hisyam. Orang tua Arifin memperhatikan Azam yang duduk di pangkuan Mita.


“Ini anakmu?” tanya Ibu Gia.


“Ya, Tante,” jawab Mita.

__ADS_1


“Siapa namanya?” tanya Ibu Gia.


“Bang Hisyam memberinya nama Azam Arifin,” jawab Mita.


Ibu Gia menghadap ke Pak Dudi lalu memegang tangan Pak Dudi.


“Pa. Dia cucu kita, Pa. Anak Arifin,” kata Ibu Gia dengan senang.


“Iya, Ma. Iya,” jawab Pak Dudi.


“Boleh Tante menggendong Azam?” tanya Ibu Gia.


“Boleh.” Mita membawa Azam mendekati Ibu Gia. Ibu Gia menggendong Azam. Ia mendudukkan Azam dipangkuannya.


Ibu Gia terliht bahagia ketika memangku Azam. Pak Dudi mendekati Azam. Ia mengusap kepala Azam.


“Pa, lihat dia lucu sekali,” ujar Ibu Gia.


Mita dan Hisyam memperhatikan kedua orang tua itu. Mita menoleh ke Hisyam, seolah bertanya bagaimana ini? Hisyam menjawabnya dengan tersenyum.


“Apa kapan-kapan kami boleh menbawa Azam jalan-jalan?” tanya Ibu Gia.


“Maaf, Tante. Tidak boleh. Azam tidak boleh pergi kemana-mana tanpa pengawasan saya,” jawab Mita.


“Tapi bukankah dia anak Arifin, sehingga kami juga berhak atas Azam?” tanya Ibu Gia.


“Tapi Azam anak di luar nikah, nasab Azam adalah Mita bukan Arifin,” jawab Mita.

__ADS_1


“Jadi kami tidak berhak untuk memiliki Azam?” tanya Ibu Gia.


“Iya, Tante,” jawab Mita.


__ADS_2