
Ibu Emilia sedang menyapu daun-daun yang berguguran di depan rumahnya. Tiba-tiba ada sebuah mobil SUV Fortuner berhenti di depan rumahnya. Ibu Emilia menoleh ke mobil itu. Kaca mobil itu terbuka. Seorang wanita setengah baya menjulurkan kepalanya keluar.
“Bu, mau tanya. Kalau rumah Mita di sebelah mana?” tanya Ibu Gia.
“Nama panjangnya Mita siapa?” tanya Ibu Emilia.
“Saya tidak tau. Yang saya tahu hanya Mita saja. Dia teman anak saya,” jawab Ibu Gia.
“Anak Ibu siapa namanya?” tanya Ibu Emilia.
“Nama anak saya Arifin,” jawab Ibu Gia.
Ibu Emilia kaget mendengar nama Arifin. Orang tua Arifin? Mau apa mereka ke sini? tanya Ibu Emilia di dalam hati.
“Berarti yang ibu cari adalah Mita anak saya. Anak saya memiliki teman yang bernama Arifin,” kata Ibu Emilia.
“Mita ada, Bu?” tanya Ibu Gia.
“Ada apa Ibu mencari Mita?” Ibu Emilia balik bertanya. Ibu Emilia menduga-duga niat kedatangan orang tua Arifin.
“Ada yang hendak saya bicarakan dengan Mita,” jawab Ibu Gia.
“Kita bicara di dalam saja,” kata Ibu Emilia.
“Baiklah, Bu.”
__ADS_1
Ibu Gia menghampiri suaminya yang menunggu di mobil. Ia berbicara dengan suaminya. Kemudian suami Ibu Gia memarkirkan mobilnya di depan rumah Ibu Emilia.
Ibu Emilia mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah lalu mempersilakan mereka duduk.
“Tunggu sebentar. Saya panggil suami saya.” Ibu Emilia masuk ke dalam rumah untuk memanggil Pak Emir. Tak lama kemudian, Pak Emir datang menemui orang tua Arifin.
“Ada keperluan apa mencari Mita?” tanya Pak Emir langsung.
“Ada yang hendak kami tanyakan kepada Mita,” jawab Ibu Gia.
“Mengenai apa?” tanya Pak Emil.
“Apakah benar sekitar enam belas bulan yang lalu Mita hamil?” tanya Ibu Gia.
“Sekarang kemana anak Mita?” tanya Ibu Gia.
“Untuk apa Ibu menanyakan anak Mita?” tanya Pak Emir.
“Karena anak Mita adalah anak Arifin,” jawab Ibu Gia. Pak Emil dan Ibu Emilia kaget mendengar perkataan orang tua Arifin. Darimana orang tua Arifin tahu kalau Azam adalah anak Arifin.
“Apa yang membuat Ibu dan Bapak yakin kalau anak itu adalah anak Arifin?” tanya Pak Emir.
“Kami menemukan pesan yang dikirim Mita kepada Arifin,” jawab Ibu Gia.
“Pesan itu dikirim Mita enam belas bulan yang lalu. Tapi kenapa Ibu dan Bapak baru datang sekarang? Kemana Bapak dan Ibu ketika Mita dalam keadaan terpuruk?” tanya Pak Emir.
__ADS_1
“Kami membaca pesan Mita setelah sebulan Arifin meninggal. Pertama kami tidak percaya kalau itu anak Arifin. Tapi tidak ada salahnya kami menanyakan kepada Mita tentang kebenarannya,” jawab Ibu Gia.
Pak Emir menghela nafas.
“Menurut Mita anak itu anak Arifin. Dia tidak pernah berhubungan laki-laki lain kecuali Arifin. Sekarang Mita sudah menikah. Hisyam menikahi Mita untuk menutupi aib Mita. Sekarang Mita tinggal bersama suaminya,” ujar Pak Emir.
“Kami ingin bertemu dengan cucu kami. Bolehkan kami minta alamat rumah Mita?” tanya Ibu Gia.
“Sebentar, Bu.” Pak Emir masuk ke rumah untuk mencatat alamat rumah Mita.
Tak lama kemudian Pak Emir keluar dengan membawa secari kertas.
“Ini alamat rumah Mita.” Pak Emir memberikan secari kertas itu kepada Ibu Gia.
“Kalau begitu kami permisi pulang,” kata Ibu Gia.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Gia dan Pak Dudi. Mereka keluar dari rumah Pak Emir.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Emilia dan Pak Emir.
Ibu Emilia menatap kepergian orang tua Arifin.
“Pak, bagaimana kalau sampai mereka mengambil Azam?” tanya Ibu Emilia.
“Entahlah, Bu. Kita berdoa saja mudah-mudahan mereka tidak punya niat untuk merebut Azam,” jawab Pak Emir.
__ADS_1