
Semenjak pulang dari rumah sakit Mita harus mengurus bayinya sendirian. Sesekali Mbok Narti membantu Mita mengasuh Azam jika pekerjaan Mbok Narti sudah selesai. Hisyam juga suka membantu Mita mengurus Azam jika ia sedang libur namun Mita lebih sering mengurus Azam sendiri.
Kesibukannya sebagai seorang ibu dan sebagai seorang pelajar membuat Mita merasa letih. Sehingga Mita menjadi tidak sabaran menghadapi Azam yang rewel.
Seperti hari ini Mita baru selesai memandikan Azam. Ia langsung duduk di kursi sofa untuk menyusui Azam. Ia menyusui Azam sambil menepuk-nepuk bookong Azam agar Azam tertidur. Sudah hampir satu jam Mita menyusui Azam tapi Azam belum juga tidur. Mita melepas susunya namun Azam malah menangis, ia masih ingin menyusu. Azam sama sekali tidak mau melepas susu.
Lama kelamaan Mita merasa kesal karena Azam tidak mau melepas susu. Sedangkan Mita masih harus mengerjakan tugas dari gurunya. Akhirnya Mita melepas susu sehingga Azam menangis dengan kencang.
Saking kesalnya, Mita bukan merasa kasihan melihat Azam yang menangis, Ia malah marah-marah kepada Azam. Ia menaruh Azam di box bayi lalu ia keluar dari kamar sambil marah-marah. Mita duduk di ruang keluarga lalu mengerjakan tugas.
Mbok Narti sedang memasak di dapur kaget mendengar Mita marah-marah. Ia juga mendengar suara Azam yang sedang menangis dari dalam kamar. Mbok Narti mematikan kompor lalu menghampiri Mita yang sedang mengerjakan tugas.
“Den Azam kenapa, Non?” tanya Mbok Narti.
Mita menoleh ke Mbok Narti.
__ADS_1
“Dia nggak mau tidur, dia maunya menyusu terus. Mita kesal, Mbok. Mita harus mengerjakan tugas,” jawab Mita.
“Biar Mbok yang gendong Den Azam,” kata Mbok Narti.
Mbok Narti masuk ke kamar Mita lalu menggendong Azam dengan kain gendongan. Ia membawa Azam keluar rumah. Mbok Narti menggendong Azam sambil menepuk-nepuk bookong Azam agar Azam berhenti menangis.
Tiba-tiba mobil Hisyam datang dan berhenti di depan rumah.
“Tuh, Papah sudah pulang.” Mbok Narti berjalan menuju pintu pagar dan membuka pintu pagar. Hisyam mendengar suara Azam menangis. Hisyam membuka kaca mobil.
“Azam kenapa, Mbok?” tanya Hisyam.
Hisyam memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Lalu ia turun dari mobil dan menghampiri Azam. Wajah Azam merah karena tidak berhenti menangis.
“Anak Papa kenapa?” tanya Hisyam.
__ADS_1
Mendengar suara papanya Azam pun berhenti menangis. Hisyam menggendong Azam. Suara tangisan Azam berubah menjadi rengekan manja. Hisyam mendekap Azam di dadanya lalu mengusap punggung Azam. Ia membawa Azam masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita. Mita mencium tangan Hisyam. Ia melihat Azam sedang merengek dalam dekapan Hisyam namun ia membiarkan anaknya bersama suaminya. Ia melanjutkan mengerjakan tugas.
Hisyam membawa Azam ke dalam kamar, Ia menimang-nimang Azam hingga bayi itu tertidur. Hisyam menaruh Azam di box bayi. Hisyam memandangi Azam yang sedang tidur. Bayi itu tidur sambil sesegukan. Ia merasa Mita sedang mengalami baby blues. Sepertinya ia harus menambah pembantu untuk membantu Mita.
Hisyam keluar dari kamarnya dan menghampiri Mbok Narti yang sedang memasak di dapur.
“Mbok, bisa tolong carikan pembantu untuk membantu Mita mengurus Azam?” tanya Hisyam.
“Bisa, Pak Dokter. Nanti saya carikan,” jawab Mbok Narti.
“Carinya yang amanah ya, Mbok!” ujar Hisyam.
__ADS_1
“Baik, Pak Dokter,” jawab Mbok Narti.