
Tak terasa Mita sudah semester genap sebentar lagi Mita akan menghadapi ujian sekolah. Ia sibuk belajar sambil mengurus buah hatinya. Hisyam memberi seorang pembantu untuk membantunya mengurus Azam tapi Mita tetap saja ingin Azam dekat dengannya bukan dengan pembantu. Sebisa mungkin ia meluangkan waktunya untuk Azam.
Hari ini Hisyam tidak praktek sehingga ia bisa menemani Azam bermain. Sebelum adzan magrib Azam sudah mengantuk, Hisyam menimang-nimang Azam hingga Azam tertidur. Ia menaruh Azam di box bayi.
Hisyam mendekati Mita yang sedang belajar. Ia melihat Mita sedang belajar matematika.
“Bisa, nggak?” tanya Hisyam.
Mita menoleh ke Hisyam. “Susah, Bang,” jawab Mita.
Hisyam duduk di sebelah Mita. “Sini Abang ajarin,” ujar Hisyam. Hisyam mengambill kertas kosong lalu mengajari Mita matematika. Mita memperhatikan Hisyam yang sedang mengajarinya. Ia kagum pada suaminya. Di usianya yang sudah kepala tiga namun masih ingat dengan pelajaran SMA.
Hisyam menoleh ke Mita, Mita bukannya sedang memperhatikan ke arah kertas tempat Hisyam corat coret malah memandangi wajah Hisyam.
“Ngerti, nggak?” tanya Hisyam.
Mita menggelengkan kepalanya.
“Kamu dari tadi ngapain aja?” tanya Hisyam.
“Lihatin Abang,” jawab Mita.
Hisyam memghela nafas.
“Mita!” seru Hisyam.
“Kok Abang bisa pintar, sih?” tanya Mita.
“Sewaktu masih sekolah Abang rajin belajar,” jawab Hisyam.
“Ayo belajar lagi!” ujar Hisyam. Hisyam menerangkan dari mula. Kali ini Mita fokus mendengarkan apa yang dikatakan Hisyam.
Akhirnya ujian sekolah pun tiba. Mita fokus kepada ujian. Selama Mita ujian Azam di asuh oleh Bi Ijah. Ketika ujian matematika soal yang diberikan ternyata mirip dengan soal yang dibuat Hisyam. Mita langsung mengerjakan dengan segera karena ia masih ingat caranya.
Waktu terus berlalu. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Mita dinyatakan lulus SMA. Mita senang mendengarnya akhirnya ia bisa santai tidak usah lagi memikirkan pelajaran sekolah.
__ADS_1
Mita menelepon Hisyam untuk memberi tahu jika ia sudah lulus.
“Alhamdullilah,” ucap Hisyam ketika mendengar Mita sudah lulus.
“Kamu mau dikasih hadiah apa?” tanya Hisyam.
“Hmm apa, ya?” Mita berpikir sejenak.
“Mita ingin pakaian muslim. Bukankah Abang pernah bilang kalau Abang ingin Mita menggunakan pakaian yang lebih sopan dan tertutup?” tanya Mita.
“Oke. Nanti sore kita pergi untuk membeli pakaian muslim. Hari ini Abang libur praktek,” jawab Hisyam.
“Asyik. Bener ya, Bang?” tanya Mita dengan girang.
“Iya,” jawab Hisyam.
Pukul dua lewat tiga puluh menit Hisyam pulang dari rumah sakit. Mita menyambutnya di depan pintu sambil menggendong Azam.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam ketika mendekati Mita dan Azam.
“Wanginya anak Papa. Sudah mandi, ya?”
“Iya, dong. Kan mau jalan-jalan sama Papa,” jawab Mita.
“Papa mandi dulu, ya.” Hisyam masuk ke dalam rumah, Mita mengikuti Hisyam sampai ke kamar.
***
Hisyam dan Mita sedang berjalan-jalan di sebuah mall mewah di kota Bandung. Mereka baru saja membeli pakaian muslim di bazaar yang terletak di lantai dasar. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Mita dari belakang.
“Mitaaa!”
Mita dan Hisyam menoleh ke belakang. Silvy berjalan cepat mendekati mereka. Di belakangnya ada seorang laki-laki mengikuti Silvy.
Silvy langsung memeluk Mita dengan erat lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Mita. Kamu kemana, aja? Kok nggak pernah hubungi aku lagi?” tanya Silvy.
“Aku sibuk, Sil. Sibuk sekolah, sibuk jadi istri dan mengurus anak,” jawab Mita.
Silvy melihat Hisyam berdiri di sebelah Mita sambil menggendong Azam.
“Ini anak kamu?” Silvy menunjuk ke Azam.
“Iya,” jawab Mita.
Silvy mendekati Azam. Ia mencolek pipi Azam. “Ih, lucu,” kata Silvy. Ketika Silvy sedang mencolek pipi Azam, ia melihat jelas wajah Azam mirip dengan wajah Arifin.
Silvy ingat ketika mereka baru masuk kelas dua belas ia melihat perubahan di tubuh Mita yang terlihat lebih berisi dan padat. Ia berpikir mungkin habis liburan sehingga Mita menjadi lebih gemuk ternyata Mita hamil.
Astagfirulllahaladzim. Nggak boleh suudzon! seru Silvy di dalam hati.
Silvy melihat wajah Hisyam dan Mita yang terlihat begitu bahagia. Tidak ada keraguan di wajah Hisyam melihat Azam yang tidak mirip dengannya sama sekali.
Sudahlah, biarkan saja. Arifin sudah tidak ada. Biarlah Mita bahagia bersama suami dan anaknya, kata Silvy di dalam hati.
“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Mita.
“Sama Bang Andi,” jawab Silvy.
Silvy menoleh ke belakang.
“Sini, Bang!” Silvy melambaikan tangannya kepada lelaki yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu mendekati Silvy.
“Kenalkan. Ini teman Silvy namanya Mita.” Silvy memperkenalkan Mita. Andi menyalami tangan Mita.
“Ini suaminya bernama Bang Hisyam.” Silvy memperkenalkan Hisyam. Andi menyalami Hisyam.
“Dan ini anaknya yang lucu.” Silvy mencolek-colek pipi Azam dengan gemas.
Mita dan Silvy berbincang-bincang sejenak setelah itu Silvy pamit karena hendak ke toko buku. Mita dan Hisyam melanjutkan jalan-jalan sore mereka.
__ADS_1