
Mita sedang berbaring di atas tempat tidur. Entah mengapa ketika ia bangun tidur ia merasakan sakit pada kakinya. Kaki-kakinya tidak bisa digerakan karena sakit sekali jika digerakan.
Ketika ia sedang meintih tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
“Assalamualaikum.” Hisyam masuk ke dalam kamar, ia baru pulang dari rumah sakit.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
Hisyam mendekati Mita.
“Sudah ada tanda-tanda, belum?” tanya Hisyam.
“Kaki Mita sakit sekali, Bang. Nggak bisa digerakin,” keluh Mita.
“Oh, itu tandanya bayinya sedang mencari jalan. Abang periksa dulu,” jawab Hisyam.
Hisyam pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Kemudian Ia memakai sarung tangan lalu memeriksa Mita.
“Baru pembukaan tiga. Masih lama. Kamu istirahat aja,” ujar Hisyam.
Sore harinya Hisyam tidak praktek. Ia ingin menemani Mita di rumah. Ia meminta tolong kepada temannya yang sama-sama dokter kandungan untuk menggantikannya praktek.
Malam harinya Mita tidak bisa tidur karena kakinya sakit. Ia terus saja merintih kesakitan tapi ia tidak membangunkan Hisyam. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Hisyam.
Keesokan harinya ketika bangun tidur kaki Mita sudah tidak terasa sakit lagi. Hanya saja rasa sakitnya berganti menjadi rasa mules di perutnya. Mita membangunkan suaminya.
“Bang. Bangun, Bang! Perut Mita mules.” Mita menepuk-nepuk lengan suaminya.
Merasa ada yang menepuk-nepuk tangannya Hisyam pun terbangun.
“Ada apa, Mit?” tanya Hisyam dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Perut Mita mules, Bang,” kata Mita.
“Mungkin sudah waktunya. Coba kamu berbaring Abang periksa dulu,” ujar Hisyam.
Mita berbaring di tempat tidur, Hisyam berjalan ke kamar mandi untuk cuci tangan. Kemudian ia menggunakan sarung tangan lalu memeriksa Mita.
__ADS_1
“Baru pembukaan tujuh. Masih lama,” ujar Hisyam.
Jam terus berjalan perut Mita bertambah mules namun Hisyam belum juga membawa Mita ke rumah sakit karena belum waktunya untuk melahirkan. Sampai akhirnya Mita mengeluarkan flek pada underwearnya barulah Hisyam membawanya ke rumah sakit. Ia membawa Mita ke rumah sakit tempat ia biasa praktek karena ia ingin temannya yang menolong Mita melahirkan.
***
Hisyam memapah Mita menuju ke ruang bersalin. Mita terus saja mengelus-elus perut nya yang terasa mules.
“Bang, perut Mita mules sekali,” keluh Mita ketika berjalan menuju ke ruang bersalin.
“Sabar ya, sebentar lagi sampai,” ujar Hisyam dengan sabar.
Akhirnya mereka sampai di ruang bersalin. Para suster yang sedang berjaga langsung menghampiri Hisyam.
“Sus, tolong panggilkan Dokter Rida! Bilang ada pasien akan melahirkan,” ujar Hisyam.
“Baik, Dok.” Salah satu suster menghubungi dokter Rida. Sedang suster yang lain memapah Mita menuju tempat tidur. Sedangkan Hisyam menelepon orangtuanya dan orang tua Mita untuk mengabarkan kalau Mita hendak melahirkan.
Mita terus saja merintih kerena rasa mules. Ia *******-***** tangan Hisyam untuk menahan rasa mules. Hisyam hanya pasrah ketika tangannya diremas-remas Mita. Ada yang ia lebih takutkan daripada remasan tangan Mita yaitu ia takut Mita mengalami kejadian seperti yang dialami Alvina. Ketika Alvina hendak melahirkan tiba-tiba tensi Alvina melonjak tinggi sehingga memperburuk keadaan Alvina dan bayi di dalam kandungannya. Dokter kandungan yang membantu persalinan Alvina kebingungan melihat kondisi Alvina. Sedangkan Hisyam hanya bisa diam karena ia sudah menyerahkan kepada dokter lain untuk membantu istrinya melahirkan. Nyawa Alvina tidak tertolong dan bayi di dalam kandungannya juga ikut meninggal.
Sebagai dokter kandungan Hisyam selalu memperhatikan kesehatan istrinya namun Allah berkendak lain dan Hisyam hanya pasrah dengan takdir yang telah Allah tentukan. Hisyam terus saja berdoa agar Mita dan bayinya dalam keadaan selamat dan sehat. Walaupun bayi itu hanya anak sambungnya namun perasaaan Hisyam sudah kut terlibat semenjak bayi itu ada di dalam kandungan ibunya.
“Mit, dokternya sudah datang,” bisik Hiyam.
“Sudah boleh melahirkan sekarang?” tanya Mita.
“Kalau sudah pembukaan sepuluh sudah boleh melahirkan,” jawab Hisyam.
Dokter Rida masuk ke ruangan. Ia tersenyum melihat Hisyam yang sedang berdiri di sebelah Mita.
“Pagi, Dokter Hisyam,” sapa dokter Rida.
“Pagi, Dok,” jawab Hisyam.
Dokter Rida membaca data-data Mita.
“Wah, masih muda sekali,” ujar dokter Rida melihat usia Mita.
__ADS_1
“Hebat Dokter bisa dapetin ABG,” puji dokter Rida.
Hisyam hanya tersenyum malu.
“Dokter Hisyam mau di sini atau mau tunggu di luar?” tanya dokter Rida.
Dokter Rida tau kejadian yang dialami oleh istri Hisyam. Dulu Hisyam meminta dokter Rida yang membantu istrinya melahirkan tetapi dokter Rida menolak karena ada seminar di Yogyakarta. Hisyam terpaksa mencari dokter yang lain.
“Saya di sini, Dok. Saya mau menemani istri saya,” jawab Hisyam.
“Oke. Kalau begitu dokter bantu saya,” ujar dokter Rida.
“Baik, Dok,” jawab Hisyam.
Akhirnya persalinanpun dimulai, Hisyam berdiri di samping Mita. Ketika Mita mengejan Hisyam membantu mengangkat kepala dan bahu Mita. Setelah dua kali mengejan akhirnya bayi Mita pun lahir. Terdengar suara tangisan bayi laki-laki yang sangat kencang. Suster memperlihatkan bayi itu kepada Mita. Mita menangis bahagia ketika melihat anaknya. Mita memegang tangan bayi yang mungil.
“Lucu,” kata Mita.
Kemudian suster memberikan bayi itu kepada Hisyam untuk di adzankan. Hisyam menggendong anak sambungnya lalu mengadzankan bayi itu. Setelah itu suster membawa bayi itu untuk diperiksa dokter anak dan dibersihkan.
Hisyam keluar dari kamar bersalin untuk memesan kamar rawat inap. Di ruang tunggu sudah ada orang tuanya dan orang tua Mita. Mereka langsung menghampiri Hisyam.
“Bagaimana keadaan Mita dan bayinya?” tanya Ibu Emilia dengan cemas.
“Alhamdullilah mereka dalam keadaan sehat. Bayinya laki-laki,” jawab Hisyam.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang dengan perasaan lega.
“Hisyam mau ke depan dulu mau pesan kamar untuk Mita,” kata Hisyam.
“Syam. Pesan kamar yang VVIP,” ujar Pak Bakhtiar.
“VIP juga sudah cukup,” kata Hisyam. Ia ingin memesan kamar yang sesuai dengan isi kantongnya. Sebetulnya ia sanggup membayar kamar VVIP tapi dia harus pintar mengatur uang. Masih banyak keperluan lainnya yang harus dibayar bukan hanya sekedar bayar rumah sakit.
“Papa yang bayar! Papa ingin menantu dan cucu Papa mendapatkan fasilitas yang baik,” ujar Pak Bakhtiar.
Hisyam hanya bisa menghela nafas. Beginilah kalau seorang kakek ikut campur, suka mau menang sendiri.
__ADS_1