Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
12. Terpeleset


__ADS_3

Lima Bulan Kemudian.


Mita ingin ngemil sesuatu namun camilan di rumahnya sudah habis. Ia terpaksa harus membeli terlebih dahulu. Ia sedang malas pergi ke supermarket. Ia memutuskan membeli di mini market di dekat rumahnya.


Mita mengambil payung karena tadi hujan besar namun sekarang hujannya sudah reda tinggal gerimis. Ia berjalan ke belakang rumah untuk pamit kepada Mbok Narti yang sedang berada di kamar.


“Mbok, Mita ke mini market dulu,” sahut Mita.


“Iya, Non,” jawab Mbok Narti.


Mita keluar melalui pintu depan. Teras rumah nampak basah karena tadi hujan sangat deras sekali. Mita berjalan dengan hati-hati takut terpeleset. Hisyam sering menasehatinya jalan dengan hati-hati agar tidak jatuh terpeleset.


Ketika turun dari teras dengan hati-hati karena teras rumah lebih tinggi dari carport. Sewaktu ia menginjak tangga ke dua lantainya licin dan ia jatuh terpeleset. Untung ia bisa menahan badannya dengan tangan agar bokongnya tidak terbentur ke bawah namun punggungnya tergores pinggiran tangga. Mita mengaduh kesakitan.


“Mbok!” Mita berteriak memanggil Mbok Narti namun Mbok Narti belum juga muncul.


Mita berteriak lebih kencang lagi memanggil Mbok Narti berkali-kali. Mbok Narti keluar dari rumah dengan tergopoh-gopoh. Ia kaget melihat Mita yang berada posisi terjatuh.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Mbok Narti.


Cepat-cepat ia menghampiri Mita dan membantu Mita berdiri.


“Ya Allah, Non. Kenapa jadi begini?” tanya Mbok Narti.


“Tangganya licin jadi Mita terpeleset,” jawab Mita.


Mbok Narti memapah Mita menuju ke kamar. Ia membantu ganti baju Mita dan mengobati punggung Mita yang terluka. Setelah itu  Mita berbaring di tempat tidur.


Mbok Narti keluar dari kamar Mita lalu menelepon Hisyam dengan menggunakan telepon rumah.


“Assalamualaikum, Pak Dokter,” ucap Mbok Narti.


“Waalaikumsalam, Mbok. Ada apa, Mbok?” tanya Hisyam.

__ADS_1


“Anu, Pak Dokter. Non Mita jatuh terpeleset,” jawab Mbok Narti.


Hisyam kaget mendengarnya.


“Dimana?” tanya Hisyam.


“Di teras depan, Pak,” jawab Mbok Narti.


“Saya akan pulang sekarang. Assalamualaikum.” Hisyam langsung mematikan teleponnya.


Setelah menelepon Hisyam, Mbok Narti kembali ke kamar Mita. Di dalam kamar Mita sedang menangis sambil mengusap perutnya. Mbok Narti duduk di lantai lalu mengusap-usap punggung Mita yang tergores tangga.


“Sabar ya, Non,” ujar Mbok Narti namun Mita masih terus menangis.


Dua puluh menit kemudian terdengar suara bel. Mbok Narti beranjak keluar kamar untuk membuka pintu. Ketika pintu dibuka. Hisyam langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Mbok Narti kembali menutup pintu rumah lalu mengikuti Hisyam dari belakang.


“Mita dimana, Mbok?” tanya Hisyam sambil berjalan.


“Ada di kamar,” jawab Mbok Narti.


“Abang!”


Hisyam mendekati Mita, ia duduk di sebelah Mita. Ia mengusap kepala Mita.


“Mita takut ada apa-apa dengan bayi kita,” kata Mita sambil menangis.


Lalu Hisyam mengusap perut Mita. Ia merasa pergerakan bayi di perut Mita.


“Nanti kita ke tempat praktek untuk diperiksa,” ujar Hisyam.


“Punggung Mita sakit,” kata Mita dengan manja.


Mita memiringkan tubuhnya lalu Hisyam mengusap punggung Mita.

__ADS_1


“Sudah diobati belum?” tanya Hisyam.


“Sudah sama Mbok Narti,” jawab Mita.


“Kalau begitu kita ke tempat praktek sekarang, ya,” ujar Hisyam.


Hisyam membantu Mita bangun dari tempat tidur lalu memapahnya keluar kamar.


“Mbok, kami pergi dulu,” ujar Hisyam dengan suara yang kencang.


Mbok Narti keluar dari dapur lalu menghampiri Hisyam dan Mita.


“Mau kemana, Pak Dokter?” tanya Mbok Narti.


“Mau ke tempat praktek untuk USG,” jawab Hisyam.


Hisyam memapah Mita ke mobil. Ketika melewati teras Hisyam berjalan dengan berhati-hati karena teras licin. Sepertinya ia harus mengganti lantai teras dengan keramik yang lebih kesat dan merubah permukaan carport agar lebih kasar.


Akhirnya mereka sampai di mobil tanpa terpeleset. Hisyam membantu Mita masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia membuka pintu pagar. Ia kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan rumah Hisyam.


Sesampai di tempat praktek, Hisyam memapah Mita menuju ruang prakteknya. Hisyam membuka pintu ruang prakteknya lalu masuk ke dalam ruang praktek. Hari ini ia libur praktek sehingga tidak ada suster di tempat prakteknya.


Hisyam membantu Mita naik ke tempat tidur. Kemudian ia menyalakan USG lalu menyiapkan Mita untuk USG. Setelah itu barulah ia memainkan alat USG di perut Mita.


Hisyam fokus melihat layar monitor. Ia melihat bayi Mita masih bergerak-gerak.


“Alhamdullilah. Anak kita baik-baik saja,” ujar Hisyam sambil fokus ke layar monitor.


Setelah selesai USG, Hisyam menempelkan alat untuk mendengar denyut jantung bayi. Suara jantung bayi terdengar kencang. Mita merasa lega setelah mengetahui bayi dalam kandungannya baik-baik saja.


***


Setelah kejadian itu Hisyam cuti tidak praktek selama dua hari. Ia ingin memantau perkembangan bayi di dalam kandungan Mita. Walaupun keadaan bayi-bayi saja tapi ia ingin memastikan tidak terjadi apa-apa setelah Mita jatuh terpeleset.

__ADS_1


Mita senang karena suaminya berada di rumah. Selama ini suaminya selalu sibuk praktek di rumah sakit dan di tempat pribadi sehingga hanya punya waktu sedikit untuk Mita. Mita memanfaatkan untuk bermanja-manja kepada suaminya. Dengan senang hati Hisyam memanjakan istrinya.



__ADS_2