Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
18. Mita Marah


__ADS_3

Setelah lulus sekolah Mita hanya menghabiskan waktu di rumah mengurus suami dan anak. Tidak ada terbesit sekalipun di pikirannya untuk melanjutkan kuliah. Ia senang berada di rumah bersama dengan anaknya.


Hisyam ingin Mita melajutkan sekolahnya. Ia ingin Mita berpendidikan tinggi agar ia bisa mendidik Azam dengan baik. Hisyam juga ingin Mita menjadi wanita tangguh yang mandiri agar suatu hari nanti Hisyam bisa melepas Mita.


Hisyam tidak ingin Mita merasa terbebani dengan pernikahannya. Mita masih sangat muda ia pasti masih ingin hidup bebas seperti remaja seusianya. Bertemu banyak orang dan mempunyai banyak teman. Ketika ia menjadi istri Hisyam ia membatasi diri berteman dengan anak seusianya termasuk bertemu dengan lelaki seusia dengannya.


Hisyam menikahi Mita karena kasihan kepada Mita dan ingin  menutupi aib Mita. Orang lain hanya mengetahui kalau bayi yang berada di kandungan Mita adalah anak Hisyam. Sekarang Azam sudah lahir, sudah waktu Hisyam untuk melepas Mita. Sebelum Hisyam melepas Mita, ia harus memastikan kalau Mita bisa hidup mandiri.


Hisyam naik ke atas tempat tidur lalu duduk di sebelah Mita. Mita sedang asyik menonton televisi.


“Mit. Kamu daftar kuliah, ya!” ujar Hisyam.


Mita menoleh ke Hisyam.


“Nggak mau, ah. Kalau Mita kuliah Azam sama siapa?” tanya Mita.


“Ada Bi Ijah dan Bi Narti yang mengurus Azam,” jawab Hisyam.


“Nggak usah, Bang. Mita males kuliah,” kata Mita.

__ADS_1


“Nggak boleh begitu! Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Abang ingin kamu bisa hidup mandiri,” ujar Hisyam.


“Kan ada abang yang menafkahi Mita,” jawab Mita.


Hisyam menghela nafas.


“Kamu tidak selamanya hidup bergantung kepada Abang. Bisa saja sewaktu-waktu Abang meninggal dunia. Atau mungkin saja kita akan bercerai,” ujar Hisyam.


“Abang ingin kita cerai?” tanya Mita.


Hisyam diam sejenak.


“Suatu hari nanti Abang akan menceraikanmu. Tapi sebelum itu Abang harus pastikan kamu sudah bisa hidup mandiri,” jawab Hisyam.


“Apa salah Mita sehingga Abang akan menceraikan Mita? Apa Abang memiliki kekasih?” tanya Mita sambil menangis.


“Bukan begitu maksud Abang. Kamu masih muda, Abang ingin kamu hidup bahagia dengan orang yang mencintaimu dan menyayangi Azam,” jawab Hisyam.


“Apa Abang tidak mencintai Mita dan menyayangi Azam?” tanya Mita.

__ADS_1


Hisyam diam tidak menjawab. Mita mengusap air matanya.


“Baiklah, Bang. Abang tidak usah menjawab. Mita mengerti, Mita seorang perempuan kotor yang tidak pantas Abang cintai. Azam hanyalah anak haram yang tak patut disayangi. Terima kasih karena Abang sudah menolong kami,” kata Mita. Mita turun dari tempat dan berjalan menuju box tempat tidur Azam lalu ia menggendong Azam.


“Mita, kamu mau apa?” tanya Hisyam.


Mita diam tidak menjawab. Ia hendak membawa Azam keluar keluar kamar. Ia membuka pintu kamar. Sebelum keluar dari kamar Mita berkata, “Besok Mita akan daftar kuliah. Abang tidak usah khawatir. Mita akan tekun belajar agar Mita bisa secepatnya keluar dari sini.”


Mita berjalan keluar dari kamar Hisyam menuju ke kamar yang berada di sebelah kamar Hisyam. Mulai malam itu Mita tidak lagi tidur di kamar Hisyam.


Keesokan harinya setelah sholat subuh Hisyam keluar dari kamar. Di ruang keluarga nampak sepi tidak terdengar suara apapun. Yang terdengar hanyalah suara kesibukan di dapur. Hisyam menghampiri Mbok Narti yang sedang mencuci piring.


“Mbok. Nanti kalau Mita mencari saya, bilang saya lagi jogging,” ujar Hisyam.


“Baik, Pak Dokter,” jawab Mbok Narti. Hisyam berjalan menuju ke garasi. Ia keluar rumah melalui garasi.


Pukul enam kurang lima belas menit Hisyam pulang jogging. Ketika masuk ke dalam rumah, ruang tengah masih nampak sepi. Yang terdengar hanyalah suara peralatan masak dari dapur. Mbok Narti dan Bi Ijah sedang memasak di dapur.


Hisyam menoleh ke sebelah kamarnya, sepertinya Mita belum keluar dari kamar. Tiba-tiba terdengar suara Azam menangis sepertinya Azam baru bangun tidur. Tak lama kemudian suara tangisan Azam berhenti. Hisyam mendekatkan diri ke kamar itu lalu ia mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


“Mita. Buka pintunya Mit,” ujar Hisyam. Tidak terdengar jawaban dari Mita. Sekali lagi Hisyam mengetuk pintu dan Mita tidak menjawab sama sekali.


Hisyam menghela nafas. Sepertinya Mita marah karena hendak ia ceraikan. Hisyam berjalan menuju ke kamarnya. Ia harus bersiap-siap ke rumah sakit.


__ADS_2