
Ketika Hisyam masuk kamar sepertinya ada yang berbeda dengan kamarnya. Ia memperhatikan sekeliling kamarnya. Ia tidak melihat barang-barang Mita dan Azam yang biasa ada di dalam kamarnya. Hisyam membuka lemari bajunya, ia tidak melihat baju-baju Mita di dalam lemari. Hisyam menghela nafas. Mita pasti marah kepadanya.
Hisyam keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar yang berada di sebelah kamarnya. Ia membuka pintu kamar itu tapi ternyata pintu kamar itu dikunci dari dalam.
Hisyam mengetuk pintu kamar.
“Mit, buka pintunya!” kata Hisyam namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Mit, buka Mit!” kata Hisyam dengan sabar.
Mbok Narti dan Bi Ijah memperhatikan dari dapur. Mereka merasa terjadi sesuatu antara Mita dan Hisyam. Mereka melihat Mita membawa koper dari kamar Hisyam. Mereka tidak berani berkata apa-apa.
“Mit, buka!” kata Hisyam sekali lagi.
Mita membuka pintu kamar.
“Kenapa kamu pindah kamar?” tanya Hisyam dengan sabar.
“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Abang tidak usah khawatir, Mita akan segera daftar kuliah agar Mita bisa cepat pergi dari rumah ini,” jawab Mita.
Tiba-tiba terdengar suara rengekan Azam yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
“Azam.” Hisyam hendak masuk ke dalam kamar namun dihalang oleh Mita.
“Tidak usah bersikap baik pada Azam! Nanti dia salah paham,” seru Mita.
Hisyam menghela nafas. Ia tau Mita sangat marah padanya. Padahal semua itu ia lakukan demi kebahagiaan Mita. Akhirnya Hisyam mengalah ia pun pergi ke kamarnya lalu Mita menutup kembali pintu kamarnya.
Ketika Hisyam hendak sarapan Mita belum keluar dari kamar. Hisyam terpaksa sarapan sendiri. Sayup-sayup ia mendengar suara celotehan Azam. Hisyam ingin sekali bertemu dengan Azam dan menggendongnya seperti biasa, tapi Mita tidak akan mengijinkannya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit Hisyam mendatangi kamar Mita.
“Mit. Abang berangkat, ya!” ujar Hisyam di depan pintu.
Namun, tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar Mita. Ia hanya mendengar suara celotehan Azam.
“Zam. Papa berangkat, ya. Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
A
Hisyam pun beranjak dari depan kamar Mita. Ia berjalan keluar rumah. Tak lama kemudian mobil Hisyam meluncur meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
***
Setelah Hisyam pergi Mita keluar dari kamarnya sambil menggendong Azam. Ia menitipkan Azam kepada Bi Ijah karena ia hendak mandi.
Setelah selesai mandi ia pun bersiap-siap untuk pergi mencari tempat kuliah. Ia pergi dengan menggunakan ojek online. Sebelum menuju kampus, Mita mampir dulu ke rumah orang tuanya.
Mita berdiri di depan rumah orang tuanya nampak sepi. Kedua orang tuanya belum pulang dari pasar. Ia mengambil kunci pintu dari dalam tas. Untung ia masih menyimpan kunci rumah orang tuanya. Ia membuka gembok pintu pagar lalu masuk ke dalam halaman rumah. Ia masuk melalui pintu paviliun. Mita masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci motor yang tergantung pada tempat kunci. Kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menelepon ibunya.
“Assalamualaikum,” ucap Mita.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Emilia.
“Bu, motor Mita bawa. Mita butuh kendaraan untuk kuliah,” kata Mita.
“Kamu mau kuliah?” tanya Ibu Emilia.
“Iya, Bu. Disuruh sama Bang Hisyam. Katanya biar pintar,” jawab Mita dengan berbohong.
“Alhamdullilah. Iya, nggak apa-apa. Bawa saja motornya. Tidak ada yang pake, kok. Ayah kan punya motor sendiri,” ujar Ibu Emilia.
“Surat-suratnya ada di lemari di kamar kamu,” lanjut Ibu Emilia.
“Iya, Bu. Assalamualaikum,” ucap Mita.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Emilia.
Mita membuka lemari baju lalu ia membuka laci lemari di dalammya terdapat STNK motor dan BPKB motor. Ia mengambil surat-surat itu lalu dimasukkan ke dalam tas.
Pandangan mata Mita tertuju pada bawah tumpukan baju. Ia mengangkat tumpukan baju lalu tangannya meraba-raba mencari sesuatu dibawah baju. Sesuatu yang ia cari masih ada di sana. Ia menarik keluar dari bawah baju, ternyata sebuah buku rekening bank.
Semenjak menikah dengan Hisyam ia hampir melupakan tabungannya karena Hisyam memenuhi semua kebutuhannya. Sekarang ia membutuhkan uang itu. Mita membuka buku tabungannya nominal tabungannya sebesar lima puluh juta. Ia mengumpulkan dari uang jajan. Sebagai anak tunggal setiap hari ia diberi uang jajan yang cukup besar namun ia menyisihkan sebagian dari uang jajannya.
Mita memasukkan buku tersebut ke dalam tas lalu ia keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ke garasi dan mengeluarkan motornya dari dalam garasi. Mita mengambil helm lalu Ia mengunci kembali pintu rumah orang tuanya lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Kemudian ia menggembok pintu pagar rumah dan ia pun meninggalkan rumah orang tuanya.
***
Mita mengendarai motornya menuju sebuah universitas swasta di kota Bandung. Ia menuju ke tempat pendaftaran dan meminta brosur universitas. Kemudian ia memfoto brosur itu lalu ia kirim ke Hisyam tanpa menulis kata-kata apapun. Tak lama kemudian Hisyam melihat foto yang ia kirim.
Abang Hisyam:
[Abang pelajari dulu brosurnya.]
__ADS_1
[Ke sananya kamu naik apa?]
Mita tidak menjawab pesan Hiyam.
Beberapa menit kemudian Hisyam mengirin pesan ke Mita.
[Langsung pulang, ya. Hati-hati di jalan].
Mita hanya membaca dan tidak menjawab pesan dari Hisyam. Kemudian ia pulang ke rumahnya.
Ketika Hisyam pulang ia melihat sebuah motor di parkirkan di dalam garasi. Hisyam turun dari mobilnya dan mendekati motor terrsebut.
Motor siapa ini? tanya Hisyam di dalam hati.
Hisyam masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah ada Bi Ijah yang sedang menemani Azam.
“Bi, itu motor siapa yang ada di garasi?” tanya Hisyam.
“Motor Non Mita. Katanya baru ambil dari rumah orang tuanya,” jawab Bi Ijah.
“Mita ke mana?” tanya Hisyam.
“Ada di dapur sedang membuatkan bubur untuk Den Azam,” jawab Bi Ijah.
Hisyam berjalan ke dapur untuk menemui Mita.
“Mita, itu motor kamu?” tanya Hisyam.
“Iya,” jawab Mita tanpa melihat ke Hisyam.
“Abang kan melarangmu untuk naik motor. Tapi kenapa kamu masih nekad juga?” ujar Hisyam.
“Mita butuh kendaraan untuk kampus,” jawab Mita sambil menyaring bubur.
“Kamu kan bisa naik taksi online,” ujar Hisyam.
“Naik taksi online lama. Nanti Mita kesiangan,” jawab Mita.
“Sudahlah, Abang tidak usah mengatur Mita lagi!” kata Mita.
Mita keluar dari dapur menuju ke ruang tengah, ia tidak memperdulikan Hisyam. Hisyam hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Mita.
__ADS_1
***