
Hari terus berlalu Mita pun masuk kuliah. Ia mengambil falkutas ekonomi. Sebagai mahasiswa baru Mita memiliki banyak kenalan dan mereka sering mengajak Mita pergi setelah pulang kuliah. Tapi Mita menolaknya, ia hanya fokus pada kuliah dan Azam.
Pada suatu hari Mita hendak berangkat kuliah namun, ban motornya kempes. Sepertinya ban motornya bocor. Ia sudah tidak ada waktu lagi untuk menambal ban. Terpaksa ia pergi kuliah dengan menggunakan ojek online.
Setelah selesai kuliah Mita langsung keluar dari kampus. Ia berdiri di depan kampus dan memesan ojek online. Kebetulan Fatar teman sekelasnya lewat di dekatnya lalu menghampiri Mita.
“Mau pulang, Mit?” tanya Fatar.
Mita menoleh ke arah Fatar.
“Iya. Ini lagi pesan ojek online,” jawab Mita.
“Bareng sama aku aja. Aku bawa mobil,” kata Fatar.
“Tidak usah, terima kasih. Rumah Mita jauh, nanti merepotkan Fatar,” jawab Mita.
“Rumah Mita dimana?” tanya Fatar.
“Di Pratista Antapani,” jawab Mita.
“Dekat dengan rumahku,” kata Fatar.
“Rumah Fatar di mana?” tanya Mita.
“Di Mitra Dago. Sudah, bareng dengan aku saja,” kata Fatar.
Akhirnya Mita memutuskan untuk pulang dengan Fatar. Mereka berjalan menuju ke mobil Fatar.
Ketika Mita sampai di depan rumah, Hisyam baru pulang dari rumah sakit. Hisyam melihat mobil Fatar yang berhenti di depan rumah. Ia menduga jika Mita datang dengan menggunakan taksi online namun, dugaannya meleset. Ia melihat Mita keluar dari pintu di sebelah supir bukan pintu belang. Lalu Mita berjalan ke depan pagar. Fatar membuka jendela mobilnya.
“Terima kasih ya, Tar,” ucap Mita.
“Sama-sama, Mita,” jawab Fatar.
Fatar melihat Hisyam berdiri di depan rumah. Ia mengira Hisyam adalah kakak Mita.
“Mari, Abang,” kata Fatar kepada Hisyam.
__ADS_1
Hisyam menjawab dengan mengangguk. Setelah mobil Fatar pergi Mita masuk ke dalam rumah. Hisyam mengikuti Mita dari belakang.
“Siapa dia?” tanya Hisyam setelah berada di dalam rumah.
“Teman kuliah,” jawab Mita.
“Kenapa tidak naik motor?” tanya Hisyam.
“Ban motor Mita bocor. Mita nggak sempat untuk menambal ban,” jawab Mita.
“Nanti Abang bawa ke tambal ban. Pokoknya kamu tidak diantar oleh teman lelaki!” ujar Hisyam.
“Mengapa tidak boleh?” tanya Mita.
“Kamu istri Abang, kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki lain!” seru Hisyam.
“Mana kunci motormu? Abang bawa ke tukang tambal sekarang,” kata Hisyam.
Mita mengambil kunci motor di dalam lemari lalu diberikan kepada Hisyam.
***
Keesokkan harinya Mita pergi ke kampus tidak menggunakan motor. Ia berbohong kepada Mbok Narti dengan mengatakan ban motornya kempes. Kalau kemarin ban belakangnya yang bocor sekarang ban depannya yang bocor. Mita pergi dengan menggunakan ojek online.
Pulang kuliah Mita diantar oleh Fatar. Sesampai di depan rumah mobil Hisyam belum datang Mita kecewa karena rencana tidak berhasil. Ketika Mita turun dari mobil Fatar ia melihat mobil Hisyam yang berada di seberang jalan. Hisyam membuka kaca jendela dan memandangi Mita dengan tajam. Hisyam tidak bisa memasukkan mobilnya karena terhalang oleh mobil Fatar. Dengan santai Mita berjalan ke depan pagar, ia tidak memperdulikan Hisyam yang sedang memandanginya dengan tajam.
“Terima kasih ya, Fatar,” ucap Mita.
“Sama-sama,” jawab Fatar.
Mita melambaikan tangannya ke Fatar. Lalu mobil berjalan meninggalkan rumah Mita. Mita membuka pintu pagar lalu masuk ke dalam rumah. Hisyam memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Ia mengikuti Mita yang sedang berjalan menuju ke kamarnya sambil menggendong Azam.
“Abang kan sudah bilang, kamu tidak boleh diantar oleh teman lelakimu! Kenapa kami masih saja pulang diantar lelaki itu?” seru Hisyam ketika berada di dalam kamar.
“Kenapa Abang marah kalau Mita pulang dengan Fatar? Abang cemburu? Untuk apa Abang cemburu? Abang kan ingin menceraikan Mita,” kata Mita.
Mita menaruh Azam di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Karena.” Hisyam berhenti menjawab.
Mita berdiri menghadap ke Hisyam.
“Karena apa, Bang? Coba Abang berikan alasan yang masuk akal kepada Mita,” tanya Mita dengan menantang.
“Karena Abang sangat mencintaimu,” jawab Hisyam.
“Kalau Abang cinta dengan Mita, kenapa Abang ingin menceraikan Mita?” tanya Mita dengan pura-pura menantang Hisyam. Padahal ia bahagia mendengar kalau suaminya mencintainya.
Hisyam mendekati Mita lalu membelai kerudung Mita.
“Karena Abang tidak ingin kamu menderita dan terkekang menjadi istri Abang. Kamu masih muda, pasti kamu masih ingin bebas,” jawab Hisyam.
Mita melingkarkan tangannya pinggang Hisyam.
“Mita bahagia menjadi istri Abang, sangat bahagia. Mita tidak ingin berpisah dengan Abang,” kata Mita.
“Abang juga tidak ingin berpisah denganmu.” Hisyam memeluk Mita dan mengusap-usap punggung Mita.
Hisyam melepas pelukannya. Mita mengangkat kepalanya menghadap suaminya karena suaminya tinggi. Mita memonyongkan bibirnya dan mengarah ke suaminya.
“Cium,” kata Mita.
Hisyam terkekeh melihat Mita minta dicium. Hisyam mengecup bibir Mita.
“Kok sebentar? Yang lama.” Mita protes.
“Sudah ah, takut kebablasan. Kita harus menikah ulang dulu,” ujar Hisyam.
Mita memeluk erat suaminya. Tiba-tiba terdengar suara rengekan Azam. Mita langsung melepas pelukannya dan menoleh ke Azam. Azam sedang merengek manja.
“Mama lupa sama Azam,” kata Mita.
Hisyam mengendong Azam. “Jagoan Papa.”
Mita bahagia melihat keluarga kecilnya.
__ADS_1