Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
35. Dosen Nyebelin


__ADS_3

Hisyam menghentikan mobilnya di depan sebuah kampus. Kampus itu adalah kampus Mita. Pagi itu Hisyam mengantar Mita kuliah. Sudah hampir seminggu Mita tidak bisa kuliah karena sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Karena bawaan bayi.


“Hati-hati jalannya jangan tergesah-gesah!” ujar Hisyam.


“Iya, Bang,” jawab Mita.


“Nanti pulang naik taksi online, jangan naik ojek!” ujar Hisyam.


“Iya, Abang,” jawab Mita.


Hisyam mengulurkan tangannya. Kemudian Mita mencium tangan Hisyam. Hisyam membalasnya dengan mencium kening Mita.


“Mita kuliah dulu, Bang. Assalamualaikum,” ucap Mita.


“Waalaikumsalam,” jawab Hisyam.


Mita turun dari mobil Hisyam lalu berjalan masuk ke dalam kampus. Hisyam memperhatikan punggung istrinya. Sebenarnya Hisyam tidak masalah jika Mita tidak meneruskan kuliahnya karena Mita tidak harus bekerja. Semua kebutuhan mereka sudah dipenuhi oleh Hisyam. Sehingga Mita cukup di rumah saja mengurus Azam dan menjaga kehamilannya.


Tapi Hisyam ingin Mita menjadi wanita yang pintar karena Mita lah yang akan lebih dominan dalam mengurus dan mendidik anak-anak mereka. Sebagai seorang ibu Mita harus pintar dan berpengetahuan luas agar bisa mendidik anak- anak mereka dengan baik.


Akhir semester nanti Hisyam akan menyuruh Mita cuti kuliah agar Mita fokus pada kehamilannya. Kuliahnya akan diteruskan lagi setelah bayi-bayi mereka lahir. Bagi Hisyam tidak apa Mita kuliahnya lama harus sampai enam atau tujuh tahun. Asalkan anak-anaknya tetap terurus dan Mita masih bisa terus kuliah. Hisyam menghela nafas lalu ia melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah sakit.


Mita berjalan menyusuri lorong ruang dosen. Ia berhenti di depan sebuah ruangan. Di pintu itu tertulis nama Dwi Purwanto,S.E,M.M. Mita melihat dari kaca pintu untuk mengetahui apakah dosennya ada atau tidak. Mita mengetuk pintu. Seorang pria membuka pintu tersebut, pria itu seusia dengan Hisyam. Ia adalah dosen Mita.


“Pak, saya mau mengumpulkan tugas,” kata Mita.


“Masuk!” ujar pria itu. Mita masuk ke dalam ruangan dosennya.


“Duduk!”


Mita duduk di kursi yang berada di depan meja kerja dosen. Ia mengeluarkan kertas dari expanding file lalu diserahkan ke kepada Dwi. Dwi mengambi file tersebut lalu membacanya.


“Minggu kemarin kamu kemana?” tanya Dwi sambil membulak-balik tugas Mita.


“Biasanya kamu rajin mengumpulkan tugas,” ujar Dwi.


“Saya sakit, Pak,” jawab Mita.


Keringat dingin Mita keluar. Ia takut tugasnya di tolak oleh dosen karena telat mengumpulkan tugas. Dwi meletakkan tugas tersebut di atas meja lalu menghela nafas berat.


“Kamu kan tau minggu kemarin batas waktu pengumpulan tugasnya,” ujar Dwi.


“Iya, Pak. Saya tahu,” jawab Mita. Tangan Mita memegang jari jemarinya dengan keras karena ia merasa tegang.


“Lalu kenapa bisa telat?” Dwi memandang Mita dengan tajam seolah-olah ia siap untuk menerkam Mita.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Saya sakit. Kondisi saya tidak memungkinkan saya untuk datang ke kampus,” jawab Mita.


“Penyakit kamu parah sampai-sampai tidak bisa datang ke kampus?” tanya Dwi.


“Tidak, Pak,” jawab Mita.


Dwi memperhatikan wajah Mita. Mita terlihat pucat serta dahi dan hidung Mita berkeringat. Kelihatan sekali perempuan itu sedang tegang.


“Begini aja, deh.” Dwi memajukan  badannya ke depan lalu menangkupkan  kedua tangannya di depan dadanya.


“Tugas kamu saya terima asalkan.” Dwi berhenti sejenak.


“Kamu mau menemani saya makan malam,” lanjut Dwi.


Mita mengerut keningnya. “Maksud Bapak apa?” tanya Mita tidak mengerti.


“Kamu harus menemani saya makan malam! Kita kencan,” jawab Dwi.


Mita kaget mendengar jawaban Dwi. Dia tidak mungkin menerima ajakan Dwi karena sudah menikah. Lebih baik tugasnya ditolak oleh Dwi dan mendapatkan nilai E daripada harus mengikuti permintaan Dwi. Ia  masih bisa mengulang mata kuliah management stategi semester depan. Dan memilih dosen yang berbeda yang jelas bukan Dwi.


“Maaf, saya tidak bisa.” Mita menjawab dengan tegas.


“Kenapa?” tanya Dwi.


“Cuma kamu yang saya kasih kesempatan karena kamu mahasiswa yang pintar dan rajin. Mahasiswa yang lain saya tolak,” lanjut Dwi.


Mendengar jawaban Mita Dwi langsung tertawa mengejek.


“Itu cuma akal-akalan kamu saja agar kamu tidak bisa berkencan dengan saya,” ujar Dwi dengan nada mengejek.


“Saya serius, Pak. Saya tidak bohong. Teman-teman saya tahu kalau saya sudah menikah,” jawab Mita.


“Mana buktinya?” tanya Dwi masih dengan nada mengejek.


Mita diam sejenak untuk berpikir. Ia tidak membawa bukti kalau dia sudah menikah.


“Kamu tidak punya buktinya, kan?” tanya Dwi masih dengan nada mengejek.


Tiba-tiba Mita teringat akan sesuatu yang ada di dalam tasnya. Mita mengeluarkan ponselnya lalu mencari foto ia bertiga dengan Hisyam dan Azam. Ia memperlihatkan foto di ponselnya kepada Dwi.


Dwi memperhatikan foto itu lalu menggulirkan layar ponsel Mita.


“Ah, paling ini cuma foto kamu sama pacar kamu,” kata Dwi.


Mita kesal mendengarnya lalu ia mengeluarkan foto hasil USG lalu di letakkan di atas meja.

__ADS_1


“Ini, Pak. Bukti saya sudah menikah dan bukti mengapa minggu kemarin saya tidak masuk,” ujar Mita.


Dwi mengambil foto hasil USG. Di foto hasil USG itu tertulis Mita Miranda My Lovely Wife. Dwi mengerut kening ketika memperhatikan foto itu.


“Kamu.” Dwi menghentikan perkataannya.


“Saya sedang hamil. Makanya saya minggu kemarin tidak bisa masuk kuliah karena saya mual dan muntah terus menerus,” kata Mita.


“Suami saya dokter Hisyam Bakhtiar. Dia adalah dokter kandungan saya. Kalau Bapak tidak percaya sama saya, silahkan Bapak cari suami saya di rumah sakit Liguina atau di apotik Pratama,” lanjut Mita.


Mita berdiri dari kursi lalu mengambil tugas dan foto USG miliknya yang berada di atas meja.


“Selamat siang.” Mita keluar dari ruang kerja Dwi.


Pukul tiga sore Mita sudah selesai kuliah. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, ia hendak memesan taksi online. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Hisyam.


Abang Hisyam:


[Assalamualaikum.]


[Sudah pulang, belum?]


[Abang jemput, ya?]


Mita senyum-senyum membaca pesan Hisyam


Mita:


[Waalaikumsalam, Abang ganteng.]


[Baru saja bubar dan mau pesan taksi.]


[Boleh. Mita tunggu, ya.]


Abang Hisyam :


[ Oke. Otw.]


Mita memasukkan ponselnya lalu ia mencari tempat duduk untuk menunggu Hisyam. Ia memutuskan untuk duduk di tangga menuju audithorium kampus sambil membaca buku paket.


Dua puluh menit kemudian Hisyam datang. Mita tersenyum senang ketika melihat mobil suaminya berhenti di depan kampus. Ia berjalan menghampiri mobil Hisyam lalu ia masuk ke dalam mobil.


“Abang tumben pulang cepat?” tanya Mita.


“Kebetulan pasiennya sedang sepi. Jadi Abang bisa pulang cepat,” jawab Hisyam. Mita memakai seatbelt lalu Hisyam menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Mita ada seseorang memperhatikan Mita dari dalam mobil. Ketika mobil Hisyam jalan mobil itu mengikuti mobil Hisyam.


__ADS_2