
Mita berdiri di teras rumahnya sambil memandangi ke halaman tetangga depan rumah sambil mengusap perutnya. Ia sedang memandangi pohon jambu batu milik tetangganya. Terbit air liurnya ketika melihat jambu batu yang berada di atas pohon. Mita sedang mengidam jambu batu milik tetangganya.
“De, sepertinya enak jambunya,” kata Mita kepada janin yang berada di dalam kandungannya.
Hisyam keluar dari dalam rumah. Ia memperhatikan istrinya yang sedang berdiri di teras. Pandangan Mita lurus ke depan seperti sedang memperhatikan sesuatu di rumah tetangganya.
“Kamu lagi apa?” tanya Hisyam.
Mita menoleh ke Hisyam.
“Mita mau jambu batu, Bang,” jawab Mita.
“Jambu batu? Nanti Abang suruh Mbok Narti beli di pasar,” ujar Hisyam.
“Nggak mau yang di pasar. Mita mau yang baru di petik,” kata Mita dengan manja.
“Harus cari dimana? Kita tidak punya pohon jambu batu,” ujar Hisyam.
“Tuh.” Mita menunjuk ke pohon jambu milik tetangganya.
Hisyam menghela nafas. “Ya sudah, Abang bilang dulu ke yang punya pohon. Tapi kalau tidak dikasih jangan marah!.” ujar Hisyam.
“Iya,” jawab Mita.
Hisyam berjalan keluar rumah. Ia berjalan menuju ke rumah yang berada di depan rumahnya. Mita mengikuti dari belakang.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam.” Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah.
“Eh, Pak Dokter Hisyam.” Wanita itu membuka pintu pagar rumahnya.
“Ada apa, Pak Dokter?” tanya wanita itu.
“Saya mau beli jambu batu yang ada di pohon Ibu. Istri saya mau jambu batu. Tapi dia tidak mau membeli yang di pasar. Dia mau langsung dari pohon,” jawab Hisyam.
“Tidak usah beli. Ambil saja sebanyak yang istri Pak Dokter mau!” jawab wanita itu.
“Terima kasih, Bu,” ucap Hisyam.
“Sebentar, saya ambilkan galah dulu.” Wanita itu berjalan menuju ke carport di samping rumahnya untuk mengambil galah.
“Mita mau metik sendiri,” bisik Mita.
“Susah, Mita. Pohonnya tinggi,” kata Hisyam.
“Pokoknya Mita mau ambil sendiri,” rengek Mita.
“Bagaimana caranya?” tanya Hisyam.
“Manjat,” jawab Mita.
“Mita! Kamu lagi hamil tidak boleh manjat pohon!” seru Hisyam.
Wanita tadi datang membawa galah.
__ADS_1
“Ini galahnya, Pak Dokter.” Wanita itu memberikan galah kepada Hisyam.
Hisyam memberikan galah kepada Mita.
“Nih, Mit. Ambil jambunya pakai ini. Sama saja seperti petik sendiri,” ujar Hisyam.
“Nggak mau. Mita petik sendiri.” Mita mendekati pohon itu lalu naik ke atas pohon.
“Ya Allah, Mitaaaa,” ujar Hisyam. Hisyam cemas melihat istrinya yang sedang memanjat pohon. Ia takut istrinya terpeleset.
Mita menanjat pohon dengan tenang. Sepertinya ia sudah terbiasa memanjat pohon. Beruntung jambu di pohon itu tidak terlalu tinggi sehingga dengan mudah Mita memetiknya.
Wanita itu mengambil plastik dari dalam rumah lalu memberikannya kepada Mita dengan menggunakan galah. Mita memasukkan beberapa jambu ke dalam kantong plastik. Akhirnya Mita turun setelah mendapatkan beberapa buah jambu. Hisyam pun bernafas lega setelah Mita turun dari atas pohon.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hisyam dengan cemas.
“Nggak,” jawab Mita tenang.
“Perutnya sakit, nggak?” Hisyam memegang perut Mita. Ia takut kenapa-kenapa dengan kandungan Mita.
“Nggak,” jawab Mita tanpa rasa bersalah.
“Ya sudah, sekarang kita pulang,” ujar Hisyam.
“Terima kasih, Bu,” ucap Hisyam kepada wanita itu.
“Sama-sama, Pak Dokter. Kalau mau jambu lagi ke sini saja!” jawab wanita itu.
“Iya, Bu.” Hisyam dan Mita kembali ke rumah mereka.
***
Hari ini adalah hari minggu. Mita dan Hisyam pergi ke rumah orang tua Mita. Sudah lama mereka tidak pernah berkunjung ke sana. Ketika Hisyam sedang memarkirkan mobil, Mita melihat pohon rambutan milik tetangga yang sedang berbuah dengan lebat. Buahnya merah-merah sepertinya rasanya manis dan menyegarkan. Air liur Mita langsung terbit ketika menatap buah rambutan.
Hisyam turun dari mobil lalu menghampiri Mita yang sedang memandangi pohon rambutan.
“Lagi lihat apa?” tanya Hisyam.
“Sepertinya enak makan rambutan,” jawab Mita. Matanya terus saja menatap pohon rambutan.
“Nanti kita beli sekalian pulang,” ujar Hisyam.
“Nggak mau yang di penjual buah. Mau yang langsung dari pohon,” kata Mita.
Hisyam menghela nafas mendengar perkataan mIta.
“Nanti Abang yang ngomong ke pemilik pohon. Tapi kamu tidak boleh manjat pohon, berbahaya! Kamu sedang hamil,” ujar Hisyam.
Mata Mita berbinar-binar mendengar perkataan suaminya.
“Abang yang petik, ya!” kata Mita.
“Iya. Abang yang petik. Sekarang kita masuk dulu.” Hisyam merangkul bahu Mita. Mereka masuk ke dalam pekarangan rumah orang tua Mita.
“Assalamualaikum,” ucap Mita dan Hisyam ketika berdiri di depan rumah.
__ADS_1
“Waalaikumsalam.” Pak Emir membuka pintu rumah.
“Eh, kalian sudah datang.” Mita dan Hisyam mencium tangan Pak Emir.
“Ibu dimana, Yah?” tanya Hisyam.
“Ada di dapur lagi masak,” jawab Pak Emir.
“Bang, sekarang ambil rambutannya,” kata Mita dengan manja.
“Iya,” jawab Hisyam.
“Rambutan dimana?” tanya Pak Emir.
“Itu.” Mita menunjuk ke pohon rambutan yang berada di rumah tetangga Pak Emir
“Oh, itu. Sebentar Ayah mintakan kepada yang punya,” ujar Pak Emir.
Pak Emir keluar dari rumah dan menghampiri rumah tetangganya. Hisyam dan Mita mengikuti Pak Emir dari belakang. Pak Emir meminta rambutan untuk Mita. Tetangga Pak Emir memperbolehkan untuk mengambil rambutan. Ia meminjamkan galah kepada Pak Emir. Pak Emir mengambil rambutan dengan menggunakan galah.
“Yah, biar Hisyam yang mengambil rambutan,” ujar Hisyam.
Pak Emir memberikan galah kepada Hisyam. Hisyam menjolok buah rambutan dengan galah. Bukan hanya rambutan yang jatuh ke dalam galah namun semut juga ikut jatuh mengenai Hisyam. Hisyam menjolok rambutan sambil mengusir semut yang berada di kepala dan badannya.
“Sudah sini, Ayah saja yang ambil.” Pak Emir mengambil galah dari tangan Hisyam. Hisyam mengusir semut yang berada di kepala dan bajunya.
Setelah rambutannya sudah cukup, mereka kembali ke rumah. Hisyam mengucapkan terima kasih dan memberikan uang sebesar lima puluh ribu kepada tetangga Pak Emir namun tetangga Pak Emir tidak mau menerima uang pemberian Hisyam. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah.
“Mit, usir semut-semut yang menempel di rambut dan badan suamimu! Kasihan dia kegatelan,” ujar Pak Emir.
“Iya, Ayah,” jawab Mita.
Ibu Emila keluar dari rumah dan menghamoiri mereka.
“Ayah darimana?” tanya Ibu Emilia.
“itu dari tetangga sebelah. Mita mau rambutan yang baru dipetik,” jawab Pak Emir.
“Oh,” kata Ibu Emila.
Ibu Emilia melihat Mita yang sedang membersihkan rambut dan badan Hisyam dari semut.
“Dibuka bajunya terus dikibas-kibas!” kata Ibu Emilia.Mita.
“Iya, Bu,” jawab Mita.
Hisyam membuka bajunya lalu diberikan kepada Mita. Mita mengibas-ngibas baju Hisyam agar semutnya jatuh dari baju.
“Aduh, Mit. Semutnya sampai masuk ke celana.” Hisyam berdiri dan mengibas-ngibaskan celananya agar semut jatuh semua.
“Ke kamar saja, Bang. Malu kalau harus buka celana di sini!” kata Mita.
Mita masuk ke dalam rumah, Hisyam mengikuti dari belakang. Mereka menuju ke kamar Mita. Orang tua Mita hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat Hisyam kegatalan karena digigit semut.
__ADS_1