
Hisyam memiringkan badannya lalu memandang wajah istrinya. Mita membalas tatapan wajah Hisyam.
“Namanya Emira Arumi Hisyam dan Erina Ayra Hisyam,” ujar Hisyam.
“Nama mereka cantik-cantik,” puji Mita.
“Secantik wajah mereka,” kata Hisyam.
“Iya, wajah mereka sangat cantik-cantik,” kata Mita.
“Sama cantiknya dengan mama mereka,” ujar Hisyam sambil tersenyum.
“Abang ngerayu, ya? Nggak bakalan mempan. Karena Abang harus puasa selama empat puluh hari!” kata Mita.
“Yah. Kelamaan,” kata Hisyam dengan kecewa.
Mita tertawa melihat suaminya.
“Sekarang Abang tidur dulu! Nanti kalau sudah adzan subuh Mita bangunkan,” kata Mita.
Hisyam pun memejamkan matanya. Ia tidur dengan posisi menghadap ke Mita.
Pukul delapan pagi Azam datang. Ia dijemput oleh Ibu Emilia dan Pak Emir. Begitu pintu kamar dibuka oleh Ibu Emilia, Azam langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
“Mama! Kenapa Abang ditinggalin?” tanya Azam dengan berteriak.
Mita dan Hisyam langsung menoleh ke pintu. Azam mendekati Mita yang sedang menyusui bayi.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Emilia dan Pak Emir.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita dan Hisyam.
Ibu Emilia menyimpan rantang di atas meja. Lalu mereka mendekati Mita. Mereka ingin melihat cucu mereka.
Mita dan Hisyam mencium tangan Pak Emir dan Ibu Emilia.
“Eh, Abang. Cium tangan Papa dan Mama dulu, dong!” kata Hisyam.
Azam mencium tangan Hisyam dan Mita. Kemudian ia kembali memandangi bayi yang sedang menyusu pada Mita.
“Ade aji apa?” tanya Azam kepada adiknya.
“Ade lagi nye nyen,” jawab Mita.
“Abang sudah makan, belum?” tanya Mita. Ia mengusap rambut Azam.
__ADS_1
“Cudah. Dicuapin cama nenek,” jawab Azam. Mata Azam tidak berpaling dari adiknya.
“Hisyam sudah sarapan, belum?” tanya Ibu Emilia.
“Belum, Bu,” jawab Hisyam.
“Sarapan dulu! Ibu bawa sarapan untuk Hisyam,” kata Ibu Emilia.
“Iya, nanti Bu,” jawab Hisyam.
Setelah bosan memandangi adiknya yang sedang menyusu, Azam mencari adiknya lain.
“Mana ade catu aji?” tanya Azam.
“Tuh, lagi bobo.” Mita menunjuk ke box bayi.
“Papa, mau lihat ade catu aji,” kata Azam sambil menarik-narik celana Hisyam.
Hisyam menggendong Azam lalu membawanya ke box bayi. Azam memandangi adiknya yang sedang tidur. Tiba-tiba pintu kamar terbuka Ibu Nella dan Pak Bakhtiar masuk ke dalam kamar.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Nella dan Pak Bakhtiar.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di kamar itu.
Ibu Nella menaruh rantang di atas meja lalu menghampiri Mita. Mita dan Hisyam mencium tangan Ibu Nella dan Pak Bakhtiar.
“Bawa sarapan untuk Hisyam,” jawab Ibu Nella.
“Kok, semua bawa sarapan untuk Bang Hisyam? Untuk Mita mana?” tanya Mita.
“Kamu kan tadi sudah makan,” jawab Hisyam.
“Mita lapar lagi, Bang. Namanya juga harus menyusui bayi kembar,” kata Mita.
“Ya sudah. Kamu pilih mau yang mana. Nanti sisanya untuk Abang,” ujar Hisyam.
Bayi yang sedang disusui oleh Mita sudah tidur dengan nyenyak. Pelan-pelan Mita mencopot susunya lalu ia membaringkan bayi di box bayi. Setelah itu ia mendekati meja sofa lalu membuka rantang satu persatu.
“Banyak sekali sarapan untuk Abang,” kata Mita.
Mita mengambil makanan yang ia mau lalu ia bawa ke tempat tidur. Mita makan di atas tempat tidur. Mita makan dengan lahap. Hisyam mengusap kerudung Mita.
“Lapar, ya?” tanya Hisyam.
“Iya, lapar berat,” jawab Mita.
__ADS_1
“Hisyam. Makan dulu! Sekarang sudah siang. Nanti kamu sakit karena telat makan,” ujar Ibu Emilia.
“Iya, Bu,” jawab Hisyam.
Hisyam berjalan menuju ke meja sofa. Lalu ia mengambil makanan yang tersisa. Ia membawa makanan itu dan duduk di dekat tempat tidur Mia. Ia makan bersama dengan Mita.
***
Tiga tahun kemudian.
Mita berjalan menuju ke ballroom di kampusnya. Hari ini ia akan diwisuda. Ia nampak cantik dengan menggunakan kebaya. Perut Mita nampak membuncit karena ia sedang hamil lima bulan. Di sampingnya ada Ibu Emilia yang berjalan sambil menuntun Azam. Di belakang mereka ada Pak Emir dan Hisyam. Hisyam berjalan sambil mendorong stoller batita kembar mereka. Kedua batita itu dibawa untuk mengikuti acara wisuda Mama mereka. Di belakang Hisyam ada pengasuh anak-anak mereka.
Setelah sampai ballroom hanya Pak Emir dan Ibu Emilia yang masuk ke dalam Ballroom. Sedangkan Hisyam, anak-anaknya dan pengasuh anak-anak menunggu di luar. Karena satu mahasiswa hanya mendapat jatah dua tempat untuk orang tua mereka. Hisyam dan anak-anak melihat acara wisuda melalui layar yang di sediakan oleh panitia.
Beruntung anak-anak Mita tidak rewel karena mereka asyik bermain di luar ballroom. Dua jam kemudian acara wisuda selesai. Resmilah sudah Mita menjadi sarjana ekonomi. Hisyam dan anak-anak menunggu Mita keluar dari ballroom.
Ketika keluar dari ballroom Mita langsung menghampiri suaminya dan meluk tubuh suaminya.
“Selamat ya, sayang,” ucap Hisyam. Ia mengecup kening istrinya.
“Terima kasih, Abang,” jawab Mita.
Tiba-tiba ada yang menarik-narik kain Mita. Mita melepaskan pelukannya dan menoleh ke samping. Ketiga anaknya berdiri mengelilingi mereka.
“Mau cium Mama uga,” kata Emira.
Mita tersenyum lalu ia jongkok. Ia mensejajari tubuhnya dengan ketiga anaknya. Satu persatu anak-anaknya mencium pipi Mita.
“Terima kasih, sayang,” ucap Mita setelah anak-anaknya selesai mencium pipi Mita.
“Ayo kita ke rumah nenek Nella dan kakek Bakhtiar! Mereka sudah menunggu kita,” kata Hisyam.
Hisyam menaikkan satu persatu anak kembarnya ke atas stoller lalu mereka berjalan meninggalkan ballroom.
Dari kampus Mita mereka pergi menuju ke rumah Ibu Nella dan Pak Bakhtiar. Ibu Nella mengadakan acara syukuran karena Mita sudah diwisuda. Mereka semua berkumpul bersama di rumah Ibu Nella sambil makan-makan.
Mita memandangi keluarganya. Anak-anaknya sedang berceloteh dengan ceria. Orang tua dan mertuanya tersenyum bahagia mendengar celotehan cucu mereka.
Hisyam menghampiri Mita dan merangkul punggungnya. Mita menoleh ke suaminya.
“Kenapa?” tanya Hisyam.
“Tidak apa-apa,” jawab Mita.
Ia merebahkan kepalanya di bahu suaminya.
__ADS_1
Allah memberikan kebahagiaan yang tiada tara kepadanya. Ia diberikan anak yang soleh dan soleha yang lucu dan pintar. Orang tua dan mertua yang menyayanginya. Suami yang mencintainya dan selalu mendukungnya. Ini semua karunia yang Allah berikan kepadanya. Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.
TAMAT.