Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
22. Menginap Di Hotel


__ADS_3

Mita memilih untuk menginap di hotel di kota Bandung. Jika menginap di resort atau hotel di luar kota tidak enak rasanya kalau tidak membawa Azam. Sekarang mereka sudah berada di sebuah hotel mewah di kota Bandung. Kamarnya sangat mewah dan luas, bahkan terlalu luas untuk mereka berdua. Alangkah senangnya jika membawa Azam, dia pasti senang jika melihat pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Kalau sudah menjadi orang tua yang dipikirkan hanya anak. Tak lengkap rasanya kalau bersenang-senang tidak bersama dengan anak.


Hisyam berdiri di belakang Mita lalu memeluk Mita dari belakang. Kemudian mengecup rambut Mita.


“Lagi lihat apa?” tanya Hisyam.


“Bang, kalau bawa azam ke sini pasti dia senang bisa melihat pemandangan kota Bandung dari atas,” kata Mita.


“Kapan-kapan kita ajak Azam ke sini,” kata Hisyam.


“Sekarang.” Hisyam melepaskan pelukannya.


“Kita menghabiskan.” Hisyam memutar badan Mita untuk menghadapnya.


“Waktu berdua.” Hisyam mengecup bibir istrinya.


Mita menutup matanya dan menikmati kecupan suaminya.


***


Mita membuka matanya. Dadanya terasa sakit sekali dan terasa basah. Sepertinya asinya merembes. Mita menoleh ke sebelah Hisyam sedang  tidur dengan nyenyak. Suaminya kecapean setelah menggaulinya. Sekarang ia sudah benar-benar resmi menjadi istri Hisyam. Mita bangun dari tempat tidur lalu mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai. Ia menggunakan pakaianya. Ia mengambil alat pemompa asi lalu memompanya agar asinya keluar.

__ADS_1


Hisyam terbangun dari tidurnya. Ia melihat istri sedang duduk di sofa sambil memompa asi. Ia bangun lalu duduk di tempat tidur.


“Asinya penuh?” tanya Hisyam dengan suara kas bangun tidur.


“Iya. Sampai merembes keluar,” jawab Mita sambil memompa.


Hisyam melihat jam yang menempel di dinding, jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit. Ia mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu memakainya. Setelah memakai baju ia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


“Abang mandi dulu,” kata Hisyam. Mita menoleh ke Hisyam.


“Iya, Bang,” jawab Mita. Hisyam masuk ke dalam kamar mandi.


Mita melanjutkan memompa asi. Setelah asinya kosong, Mita memasukkan asi ke dalam botol kaca di simpan di dalam kulkas.


Dinda :


[Mit. Nanti siang kita nonton, yuk. Rame-rame sama cowok-cowok juga.]


Mita membalas pesan Dinda.


Mita :

__ADS_1


[Sorry, Din. Aku Nggak bisa. Aku sudah ada acara.]


Mita mengirim pesan tersebut.


Mita mematikan ponselnya lalu mengisi daya baterai. Setelah itu ia kembali rebahan di tempat tidur. Dua puluh menit kemudian Hisyam keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk.


“Mandi dulu, Mit. Sebentar lagi adzan subuh,” ujar Hisyam.


“Iya, Bang.” Mita beranjak dari tempat tidur lalu  menghampir suaminya. Ia berdiri di depan suaminya sambil memonyongkan bibirnya.


“Cium,” kata Mita.


Hisyam mengecup sekilas bibir Mita.


“Sudah, sana mandi!” ujar Hisyam. Mita pun masuk ke dalam kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian Mita keluar dari kamar mandi. Mereka pun bersiap-siap suntuk sholat subuh.


Setelah selesai sholat subuh, tidak ada yang mereka lakukan. Mereka hanya tidur-tiduran di atas tempat tidur sambil menonton televisi.


“Kamu mau sarapan dimana? Di kamar atau di dining room?” tanya Hisyam.

__ADS_1


“Di dining room saja. Bosan di kamar terus,” jawab Mita.


“Nanti jam tujuh kita ke dining room,” ujar Hisyam.


__ADS_2