
Di sebuah ruangan yang berukuran sedang duduklah seorang wanita. Wanita itu dandannya agak mencolok. Wajahnya yang sudah setengah baya menggunakan maku up yang mencolok. Ia menggunakan lipstick merah darah, eye shadow berwarna biru, eye liner berwarna hitam dan blush on warna merah yang mencolok. Penampilannya sangat kontras dengan usianya yang sudah setengah baya.
Dia adalah Harumi seorang dukun sakti yang sangat terkenal. Semua yang ia kerjakan tidak pernah gagal. Para kliennya puas dengan hasil kerja Harumi.
Di depan meja kerja Harumi duduklah seorang pria yang sudah paruh baya yang menggunakan kaca mata. Penampilan pria itu nampak bersih dan rapih. Terlihat dari penampilannya pria itu berpendidikan.
“Ada keperluan apa kamu ke sini?” tanya Harumi. Suara Harumi terdengar seperti orang berbisik dan sedikit serak.
“Saya mau Mbak Harumi memusnahkan seseorang,” jawab pria itu.
“Hmm. Apa kau membawa fotonya?’ tanya Harumi.
Pria itu memberikan sebuah foto kepada Harumi. Harumi memandangi foto itu. Di foto itu nampak seorang pria tampan yang berusia tiga puluhan.
“Dia adalah dokter Hisyam Bakhtiar. Dia seorang dokter kandungan di sebuah rumah sakit swasta tempat saya bekerja. Dia adalah satu-satunya dokter pria saingan berat saya. Pasiennya sangat banyak bahkan melebihi dokter kandungan yang sudah senior. Bahkan di tempat praktek pribadinya pasiennya sangat banyak. Dan kariernya di rumah sakit tempat kami bekerja sangat bagus. Saya dengar dia menjadi salah satu kandidat calon kepala rumah sakit tempat kami bekerja ,” jawab pria tersebut.
“Hmm. Kamu ingin dia diapakan?” tanya Harumi.
__ADS_1
“Saya ingin dia dimusnahkan kalau perlu dia tidak ada lagi di bumi ini,” jawab pria tersebut.
“Oh, iya. Saya punya foto istri dan anaknya.” Pria itu memberikan sebuah foto kepada Harumi. Di dalam foto itu ada foto Mita dan Azam yang sedang berada di depan rumah. Entah kapan pria itu memfoto Mita dan Azam.
“Istrinya bernama Mita Miranda, sedangkan anaknya bernama Azam Arifin,” kata pria tersebut.
Harumi memperhatikan foto Mita dan Azam.
“Hmmm sepertinya ada yang beda dari anak ini,” kata Harumi.
“Apa maksud Mbak Harumi?” tanya pria tersebut.
“Apa Dokter Hisyam mempunyai ilmu atau mempunyai jimat?” tanya pria tersebut.
“Bukan-bukan itu,” jawab Harumi.
“Lalu apa, Mbak Harumi?” tanya pria tersebut dengan penasaran.
__ADS_1
“Kekuatan ini belum pernah saya lihat. Dan kekuatan ini ia pergunakan untuk menutupi anak dan istrinya,” jawab Harumi.
“Pokoknya saya ingin dia hancur dan dimusnahkan! Caranya terserah Mbak Harumi,” kata pria itu.
“Baiklah. Akan saya usahakan,” jawab Harumi.
Pria itu mengeluarkan amplop besar berwarna coklat. Amplop itu cukup tebal.
“Saya bayar setengahnya dulu sebesar lima puluh juta. Sisanya saya bayar setelah pekerjaan Mbak Harumi berhasil,” kata pria tersebut.
“Tidak bisa! Berhasil atau gagal kamu tetap harus membayar kekurangannya!” ujar Harumi.
“Loh? Kalau gagal kena saya harus tetap bayar kekurangannya?” tanya pria tersebut.
“Sebab baru kali ini saya mendapatkan lawan yang sangat kuat. Jadi saya harus pastikan kalau kamu akan membayar kekurangannya,” jawab Harumi.
Pria itu menghela nafas.
__ADS_1
“Baiklah akan saya bayar setengahnya walaupun misi ini gagal,” ujar pria tersebut.
“Sekarang kamu pulang! Sebab saya hendak menyiapkan semuanya. Besok subuh akan saya kirim santet kepada Dokter Hisyam,”