Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
15. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Suara alarm ponsel berbunyi, membangunkan Hisyam yang sedang tidur dengan nyenyak. Hisyam menoleh ke tempat tidur Mita, Mita belum bangun. Hisyam beranjak menuju ke kamar mandi bersiap-siap untuk sholat subuh di masjid.


Ketika Hisyam pulang dari masjid, Hisyam melihat Mita masih tidur dengan nyenyak. Hisyam membiarkan Mita tidur karena Mita bangun tengah malam. Lagi pula Azam belum bangun. Hisyam menyalakan televisi untuk mengusir rasa jenuh.


Tiba-tiba ia mendengar suara mulut bayi yang sedang kecap-kecap. Hisyam beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Azam. Azam sedang asyik memasukkan tangannya ke dalam mulut.


“Eh, anak Papa sudah bangun,” ujar Hisyam.


“Mama masih tidur. Bangunin Mama, gih!” kata Hisyam.


Hisyam menjauhkan tangan Azam dari mulutnya. “Jangan dimakan, Zam. Tangan Azam kotor.” Tapi Azam terus saja ingin memakan tangannya.


Tiba-tiba suster membuka pintu kamar. “Selamat pagi.”


“Pagi, Suster,” jawab Hisyam.


“Bayinya mau dimandikan, Dok,” ujar suster.


“Istri saya masih tidur, Sus,” kata Hisyam.


Suster menoleh ke tempat tidur, ia melihat Mita masih tidur.

__ADS_1


“Mungkin belum terbiasa bangun malam,” ujar suster.


Hisyam langsung membangunkan Mita. “Mit, bangun! Ada suster, tuh.”


Mita langsung bangun. “Ada apa, Bang?” tanya Mita dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Suster mau memandikan Azam,” jawab Hisyam.


“Sus, memandikannya di sini saja!  Biar istri saya belajar memandikan bayi,” ujar Hisyam.


“Baik, Dok.” Suster keluar dari kamar untuk mengambil peralatan mandi bayi.


Selama di rumah sakit Mita diajarkan cara mengurus bayi oleh suster. Agar sepulang dari rumah sakit Mita bisa mengurus bayi sendiri.


***


“Kamu bisa mengurus bayi, nggak?” tanya Ibu Emilia.


Ibu Emilia tidak bisa membantu Mita untuk mengurus Azam karena ia harus membantu suaminya berdagang. Kalau mereka tidak berdagang mereka tidak mendapatkan uang.


“Sedikit-sedikit. Waktu di rumah sakit diajari sama suster,” jawab Mita.

__ADS_1


“Syukurlah kalau sudah bisa,” ucap Ibu Emilia.


“Mau Mama carikan baby sitter?” tanya Ibu Nella.


“Tidak usah, Mah. Mita bisa mengurus sendiri,” jawab Mita.


Mita tidak ingin merepoti mertuanya. Sebisa mungkin ia mengurus Azam sendiri tanpa dibantu oleh pengasuh.


***


Ketika menjelas sore orang tua mereka pamit pulang. Tinggallah Hisyam dan Mita yang harus berjuang mengurus Azam. Untungnya setelah mandi sore Azam langsung tidur. Sehingga Mita dan Hisyam bisa beristirahat.


Ketika tengah malam Azam bangun karena pipis dan lapar. Seperti biasa ia menangis dengan kencang. Mita langsung bangun ketika mendengar tangisan Azam. Ia menghampiri box bayi dan menggantikan popok Azam. Setelah Mita duduk di kursi sofa sambil menyusui Azam.


Setelah setengah jam Azam belum juga tidur. Mita sudah merasa ngantuk tapi Azam masih saja melek.


“Sayang kenapa tidak tidur? Mama masih ngantuk,” kata Mita sambil menahan kantuk.


Mita tidak tega menaruh Azam di box bayi, terpaksa ia membawa Azam ke tempat tidur. Ia menaruh Azam di sebelahnya lalu ia tertidur sambil memeluk Azam.


Pukul setengah lima Hisyam terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke samping, Mita sedang tidur sambil memeluk Azam. Hisyam tersenyum melihat istri dan anaknya yang sedang tidur dengan lelap. Hisyam bangun dari tidurnya lalu mengecup kening istri dan anaknya. Kemudian ia beranjak daro tempat tidur bersiap-siap untuk sholat subuh.

__ADS_1



__ADS_2