Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
14. Azam Arifin


__ADS_3

Setelah selasai Mita di pindahkan ke ruang rawat inap. Hisyam terpaksa memesan kamar VVIP karena paksaan dari Pak Bakhtiar. Semua orang berkumpul di ruang rawat inap. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan bayi.


“Bang, kapan bayi dibawa ke sini?” tanya Mita.


“Nanti, Mit. Sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter anak,” jawab Hisyam.


“Tapi dia baik-baik saja, kan?” tanya Mita dengan cemas.


“Insyaallah. Dia dalam keadaan sehat,” jawab Hisyam.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, seorang suster masuk mendorong box bayi.


“Selamat siang, bayi mau minum susu,” ujar suster.


Semua orang langsung berdiri ingin melihat bayi. Suster mendorong box mendekati tempat tidur Mita. Para nenek ikut mendekati tempat tidur. Mereka ingin melihat cucu mereka. Hisyam memberi ruang kepada para nenek untuk bisa mendekati cucu.


“Ibu belajar menyusui dulu, ya,” kata suster.


Suster menutup tirai pembatas lalu mengatur posisi duduk Mita. Setelah itu barulah suster memindahkan bayi untuk di gendong Mita. Suster mengajari Mita cara memggendong bayi dan menyusui bayi. Mita kegelian ketika bayinya menyusu di dadanya.


“Mita, tidak boleh begitu!” ujar Ibu Emilia melihat Mita yang terus saja geli. Ia takut bayi Mita jatuh.


“Habis geli, Bu,” jawab Mita.


“Nggak apa-apa. Nanti juga terbiasa,” kata suster.


Akhirnya lama kelamaan Mita tidak merasa gelii. Suster pun meninggalkan kamar. Ibu Emilia dan Ibu Nella memperhatikan bayi yang sedang menyusu. Sedangkan Hisyam duduk dengan para kakek.


“Siapa nama bayinya, Syam?” tanya Pak Emir.


“Namanya Azam Arifin,” jawab Hisyam.


“Nama ayah bayi itu Arifin?” tanya Pak Bakhtiar.

__ADS_1


“Iya, Pa,” jawab Hisyam.


Orang tua Mita tahu bahwa orang tua Hisyam sudah mengetahui kalau bayi yang dikandung Mita bukanlah anak Hisyam. Mereka bersyukur karena orang tua Hisyam mau menerima Mita dan bayinya.


***


Sore hari orang tua Mita dan orang tua Hisyam pulang ke rumah. Tinggalah Mita dan Hisyam bersama dengan bayi mereka di kamar. Hisyam harus memperhatikan Mita ketika menggendong bayi, maklumlah Mita masih sangat muda dan belum terbiasa menggendong bayi.


Ketika mendekati adzan magrib Hisyam pamit untuk sholat di masjid rumah sakit sekalian mencari makan malam. Ia menitipkan Mita kepada suster jaga.


“Sus, saya titip istri saya. Saya mau sholat dulu,” kata Hisyam kepada suster jaga.


“Tenang saja, Dok. Istri Dokter akan saya jaga,” jawab suster.


Setelah itu barulah Hisyam berjalan menuju liff, ia turun ke lantai dasar. Ketika ia keluar dari liff tak sengaja ia bertemu dengan Delima.


“Eh, Dokter Hisyam ada di sini?” tanya Delima. Biasanya menjelang sore Hisyam sudah tidak terlihat di rumah sakit kecuali jika ada pasien yang melahirkan.


“Istri Dokter Hisyam?” tanya Delima bingung. Setahu Delima Hisyam adalah seorang duda.


“Iya, istri saya. Saya sudah menikah lagi,” jawab Hisyam.


Tiba-tiba terdengar suara adzan magrib berkumandang.


“Sudah, ya. Sudah adzan. Saya mau sholat magrib,” kata Hisyam.


Hisyam pergi meninggalkan Delima. Tinggallah Delima sendiri yang masih kaget mendengar Hisyam sudah memiliki istri.


***


Hisyam dan Mita sedang tertidur dengan nyenyak. Tiba-tiba terdengar suara rengekan Azam. Ia bangun dari tidurnya karena popoknya basah dan haus. Suara rengekan Azam tidak membangunkan Mita. Mita masih tertidur pulas.


Lama kelamaan Azam menangis dengan kencang namun Mita tetap saja tidak bangun. Hisyam terbangun karena mendengar tangisan Azam. Hisyam menoleh ke tempat tidur Mita. Mita sedang tidur dengan pulas.

__ADS_1


Hisyam beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Azam.


“Azam kenapa?’ tanya Hisyam. Hisyam memegang kain yang menutupi tubuh Azam.


“Pipis, ya?” Hisyam mengambil popok dan kain yang bersih lalu menggantikan popok Azam.


Setelah diganti popoknya tangisan Azam tidak mereda. Hisyam membangunkan Mita.


“Mit. Bangun, Mit! Azam haus.” Hisyam menepuk-nepuk tangan Mita. Akhirnya Mita membuka matanya.


“Ada apa, Bang? Mita masih ngantuk,” tanya Mita.


“Azam bangun. Dia haus mau susu,” jawab Hisyam.


“Nanti aja, Bang. Mita masih ngantuk.” Mita melanjutkan tidurnya, ia tidak memperdulikan anaknya yang menangis.


“Astagfirullahaladzim. Mita, bangun!” seru Hisam dengan suara yang tidak terlalu kencang. Ia takut mengganggu pasien lain.


Mita membuka matanya. “Susui dulu Azam!” ujar Hisyam.


Akhirnya Mita pun bangun. Hisyam mengatur tempat tidur agar Mita bisa menyusui dengan nyaman. Setelah itu Hisyam menggendong Azam lalu diberikan kepada Mita. Mita menggendong Azam lalu menyusui Azam.


“Jangan sampai ketiduran! Nanti Azam jatuh,” ujar Hisyam.


“Tapi Mita masih ngantuk.” Mita merengek.


Hisyam mengusap kepala Mita. “Sabar, ya! Nanti kalau Azam sudah tidur. Kamu bisa tidur lagi,” ujar Hisyam. Hisyam harus banyak bersabar karena istrinya masih kecil. Remaja seusia Mita masih asyik bermain, sedangkan Mita sudah harus mengurus anak.


Hisyam duduk di kursi, ia menemani Mita yang sedang menyusui Azam. Hingga akhirnya Azam tertidur, Hisyam memindahkan Azam ke box bayi.


Mita menurunkan tempat tidur lalu ia tidur kembali. Hisyam pun kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya.


__ADS_1


__ADS_2