
Tak terasa kehamilan Mita sudah sembilan bulan. Besok adalah hari perkiraan lahir. Mita sudah mempersiapkan pakaian yang akan di bawa ke rumah sakit. Rencananya Mita akan melahirkan di rumah sakit bersalin milik suaminya.
Hari ini Hisyam memutuskan untuk cuti, ia akan di rumah untuk menemani Mita. Selama di rumah Hisyam mengajak Azam bermain. Batita itu senang karena papanya ada di rumah. Ia mengajak Hisyam untuk bermain lego. Mereka membuat robot dan mobil dari lego.
Mita tidak ikut bergabung bergabung bersama suami dan anaknya. Ia hanya duduk di sofa sambil memperhatikan Azam dan Hisyam yang sedang bermain. Tiba-tiba Mita merasakan underwearnya basah, padahal ia tidak merasa buang air kecil.
“Abang!” Mita memanggil Hisyam.
Hisyam yang sedang membuat robot menoleh ke Mita. “Kenapa?” tanya Hisyam.
“Underwear Mita basah,” kata Mita dengan panik.
“Abang main sendiri dulu. Papa mau periksa Mama,” ujar Hisyam.
“Iya, Pa,” jawab Azam.
Hisyam berdiri lalu menghampiri Mita. “Ayo, Abang periksa dulu.”
Hisyam membantu Mita berdiri lalu membimbingnya menuju ke kamar. Hisyam membaringkan Mita di atas tempat tidur kemudian Hisyam mengunci pintu kamar. Ia tidak ingin Azam melihat ketika ia sedang memeriksa Mita.
Hisyam ke kamar mandi untuk mencuci tangannya lalu ia menggunakan sarung tangan. Kemudian Ia memeriksa Mita.
“Baru pembukaan satu. Masih lama,” ujar Hisyam.
“Air yang keluar air apa?” tanya Mita.
“Air ketuban,” jawab Hisyam.
“Bahaya tidak, Bang?” tanya Mita dengan cemas.
“Tidak. Wajar karena sudah ada pembukaan,” jawab Hisyam.
Tiba-tiba ada yang hendak membuka pintu kamar. “Iiihhh. Kok cucah dibuka?” Terdengar suara Azam di luar kamar.
Kemudian Azam mengetuk pintu. “Buka pintunya!” seru Azam dari luar kamar.
“Jangan dibuka! Biarkan saja dulu. Abang mau cuci tangan,” ujar Hisyam.
Hisyam membuka sarung tangan lalu membuang sarung tangan ke tempat sampah. Kemudian ia mencuci tangan di kamar mandi. Setelah itu Ia mengganti celana pendeknya dengan celana panjang. Barulah Hisyam membuka pintu kamar.
“Napa lama cekali buka pintunya?” tanya Azam dengan wajah cemberut.
“Abang mau apa?” Hisyam balik bertanya kepada Azam.
“Abang mau macuk,” jawab Azam.
Azam memperhatikan papanya yang sudah memakai celana panjang.
“Papa mau kemana?” tanya Azam.
__ADS_1
“Papa mau ke supermarket beli pospak untuk Mama,” jawab Hisyam.
“Abang mau ikut,” kata Azam.
“Boleh. Salam dulu sama Mama!” jawab Hisyam.
Azam mendekati Mita. Mita masih berbaring di tempat tidur. Kemudian Azam mencium tangan Mita.
“Acalamualaikum,” ucap Azam.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita. Hisyam dan Azam keluar dari kamar.
Tiga puluh menit kemudian Hisyam dan Azam sudah kembali. Hisyam membawa kantog plastik berisi pospak. Sedangkan Azam sedang memakan ice cream.
“Apa tuh, Bang?” tanya Mita.
“Ekim,” jawab Azam.
“Mama dibeliin, nggak?” tanya Mita.
“Dibeliin,” jawab Azam. Azam menoleh ke papanya.
“Papa, mana ekim buat Mama?” tanya Azam.
“Ada, nih.” Hisyam memberikan plastik yang berisi ice cream kepada Azam. Lalu Azam memberikan plastik itu kepada Mita.
“Terima kasih, Abang,” ucap Mita.
Mita menyimpan plastik yang berisi ice cream di atas nakas. Lalu ia membuka bungkus pospak dan mengambil satu pospak. Ia membawa ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian Mita keluar dari kamar mandi namun Azam sudah tidak ada di dalam kamar. Yang ada hanya Hisyam yang sedang menonton televisi.
“Azam kemana, Bang?” tanya Mita.
“Ada di ruang tengah sedang disuapi sama Bi Ijah,” jawab Hisyam.
“Abang nggak makan?” tanya Mita.
“Nanti bareng sama kamu,” jawab Hisyam.
“Tapi Mita mau makan ice cream dulu,” kata Mita.
“Iya. Nggak apa-apa. Abang tungguin,” jawab Hisyam.
Mita mengambil plasik ice cream dari atas nakas. Ia membuka bungkus ice cream dan memakan ice cream.
***
Mita terbangun dari tidurnya. Ia merasa perutnya terasa mules sekali. Mita mengusap-usap perutnya namun rasa mulesnya tidak hilang juga. Mita bangun dari tempat tidur. Ia pergi ke kamar mandi karena ia merasa ingin buang air.
Namun, ketika ia membuka underwearnya ia melihat ada flek pada underwearnya. Mita hendak memberitahu suaminya tapi ia ingin buang air. Mita memutuskan untuk buang air terlebih dahulu. Setelah selesai Mita kembali ke tempat tidur dan membangunkan suaminya.
__ADS_1
“Bang. Bangun, Bang!” Mita memepuk-nepuk badan suaminya.
Hisyam membuka matanya. “Ada apa, Mit?” tanya Hisyam.
“Mita keluar flek, Bang,” jawab Mita.
Hisyam bangun dari tempat tidur. “Abang periksa dulu,” kata Hisyam.
Hisyam mengambil sarung tangan dari dalam kotak lalu ia menggunakan sarung tangan. Hisyam memeriksa Mita.
“Sudah pembukaan delapan,” ujar Hisyam.
“Kita siap-siap ke rumah sakit,” lanjut Hisyam.
Mita dan Hisyam mengganti baju untuk pergi ke rumah sakit. Hisyam memasukkan koper ke bagasi mobil lalu ia membangunkan para pembantunya.
“Mbok, titip Azam. Saya mau ke rumah sakit, Mita sudah pembukaan delapan,” ujar Hisyam.
“Baik, Pak Dokter,” jawab Mbok Narti.
Hisyam memapah Mita menuju mobil. Mita berjalan sambil merintih menahan rasa mules yang luar biasa. Hisyam membantu Mita duduk di dalam mobil. Setelah itu Hisyam masuk ke dalam mobil lalu ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Mereka sampai di rumah sakit pukul dua malam. Hisyam memapah Mita menuju ke ruang bersalin. Ketika sampai di ruang bersalin, suster jaga langsung menghampiri mereka.
“Tolong hubungi Dokter Retno dan Dokter Inka!” kata Hisyam.
“Baik, Dok,” jawab suster.
Hisyam membantu Mita berbaring di tempat tidur.
“Bang, sakit sekali perutnya,” kata Mita.
“Sabar, ya. sebentar lagi dokternya datang,” ujar Hisyam.
Hisyam mengusap kerudung Mita. Mita mencekram tangan Hisyam, menahan rasa mules yang luar biasa.
Tiga puluh menit kemudian dokter Retno dan dokter Inka datang. Dokter Retno adalah dokter kandungan yang akan membantu persalinan Mita. Sedangkan dokter Inka adalah dokter anak yang akan memeriksa bayi-bayi Mita jika lahir nanti.
Dokter Retno memeriksa Mita. Ternyata Mita sudah pembukaan sepuluh. Proses persalinanpun dimulai. Hisyam mendampingi Mita selama proses persalinan. Akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan. Bayi itu langsung ditangani oleh dokter anak.
“Ayo, Bu. Masih ada satu lagi bayinya,” kata dokter Retno.
Mita kembali menjalanin proses persalinan. Dan akhirnya lahir juga bayi mereka yang kedua. Bayi itu bayi perempuan. Hisyam mengadzani kedua bayi mereka. Rona bahagia terpancar di wajah pasangan tersebut. Setelah di adzan kedua bayi itu diberikan kembali kepada dokter anak untuk dilanjutkan pemeriksaannya.
Setelah selesai melahirkan Mita dipindahkan ke kamar rawat inap. Akhirnya Mita dan Hisyam bisa beristirahat dengan tenang.
“Bang,” panggil Mita.
“Hmm,” jawab Hisyam.
__ADS_1
Hisyam sedang berbaring di ekstra bed sambil memejamkan matanya. Ia merasa letih setelah menemani istrinya melahirkan.
“Bayi-bayi kita siapa namanya?” tanya Mita.