
Mita terbangun di malam hari. Ia ingin buang air kecil. Perlahan ia bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi. Ia naik ke atas tempat tidur, ia tidur di sebelah suaminya. Ia mencium bau tubuh suaminya.
Hmm. Baunya enak, kata Mita di dalam hati.
Mita memeluk tubuh suaminya dan menempelkan hidungnya ke ketiak suaminya. Mita pun tidur dengan nyenyak.
Pukul empat subuh Hisyam terbangun dari tidurnya. Ia hendak pergi ke kamar mandi namun ia sulit untuk bangun karena Mita memeluknya dengan erat. Hisyam berusaha untuk melepaskan tangan Mita namun sulit karena Mita memeluknya dengan erat.
Hisyam berusaha lagi untuk melepaskan pelukan Mita. “Hmh, Abang ngak boleh bangun!” kata Mita dengan mata terpejam.
“Abang mau ke kamar mandi, Mit,” ujar Hisyam.
Mita membuka matanya. “Tapi nanti balik lagi ke tempat tidur,” kata Mita.
“Iya, Mit. Memangnya Abang mau kemana?” ujar Hisyam.
Mita melepaskan pelukannya sehingga Hisyam bisa ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi Hisyam kembali ke tempat tidur. Mita langsung memeluk tubuh suaminya dan menempelkan hidungnya ke ketiak suaminya.
“Hemm, enak baunya,” kata Mita.
Mita kembali memejamkan matanya. Hisyam memeluk Mita dan mengusap-usap punggung Mita.
***
Hisyam baru saja selesai mandi. Ia mengambil pakaian dari dalam lemari lalu memakainya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka Mita dan Azam masuk ke dalam kamar.
“Bang, sarapannya sudah siap,” kata Mita.
“Sebentar Abang pakai baju dulu,” jawab Hisyam.
Mita menghampiri suaminya, ia hendak mengambil handuk bekas dipakai suaminya untuk dijemur. Tiba-tiba ia mencium bau yang menusuk hidung. Seketika perut Mita bergejolak, Ia hendak muntah. Mita menutup mulutnya dengan tangan. Cepat-cepat Mita berjalan ke kamar mandi.
Hisyam khawatir melihat istrinya. Hisyam menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan closet.
“Kamu kenapa?” tanya Hisyam dengan khawatir.
Mita hendak muntah namun tidak keluar. Mita membanjur closet lalu kumur-kumur di wastafel. Ketika Mita hendak keluar dari kamar mandi ia mencium wangi itu lagi. Cepat-cepat Mita menutup hidungnya dengan tangannya.
“Abang pakai parfum apa?” tanya Mita dengan melotot.
“Abang belum pakai parfum. Abang baru selesai mandi,” jawab Hisyam.
“Bau Abang tidak enak. Bikin perut Mita menjadi mual dan kepala Mita jadi pusing,” kata Mita.
“Masa?” Hisyam mencium badan dan pakaiannya.
__ADS_1
“Perasaan baunya biasa saja,” ujar Hisyam.
“Abang jangan dekat-dekat ke Mita! Abang bau,” kata Mita.
Hisyam menjauh dari istrinya. Mita cepat-cepat keluar dari kamar. Azam memperhatikan percakapan orang tuanya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak biasanya mamanya marah-marah kepada papanya.
“Papa, Mama napa? Napa Mama malah-malah?” tanya Azam kepada Hisyam.
Hisyam menoleh ke Azam lalu tersenyum. Ia mengusap kepala anak sambungnya.
“Mama tidak marah-marah. Hidung Mama kamu lagi sensitive tidak bisa mencium wangi yang mencolok,” jawab Hisyam.
“Azam sudah makan, belum?” tanya Hisyam.
“Bolom. Tata Mama, mamamnya baleng cama Papa,” jawab Azam.
“Ayo sekarang kita makan,” ujar Hisyam.
Hisyam mengajak Azam keluar dari kamar. Tadinya Hisyam hendak memakai parfum, tapi tidak jadi. Ia takut istrinya jadi uring-uringan mencium bau parfumnya.
Ketika sedang sarapan Mita memilih sarapan di depan televisi bersama Azam. Membiarkan suaminya sarapan sendiri di meja makan. Hisyam memaklumin Mita bertingkah seperti itu karena perubahan hormon. Nanti juga biasa lagi.
***
Hisyam baru pulang dari rumah sakit. Ia membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar.
Mita sedang duduk di atas tempat tidur. Ia sedang makan sesuatu sambil menonton televisi.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
Hisyam mendekat Mita lalu mengulurkan tangannya. Mita mencium tangan Hisyam.
“Lagi makan apa?’ tanya Hisyam.
“Lagi makan buah kecapi. Enak seger,” kata Mita.
“Dapat buah kecapi dari mana?” tanya Hisyam.
“Beli online,” jawab Mita.
“Jangan makan buah kecapi terlalu banyak! Nanti lambung kamu sakit,” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
Mita melihat Hisyam membawa kantong plastik.
__ADS_1
“Itu apa, Bang?” Mita menunjuk ke kantong plastik yang dibawa oleh Hisyam.
“Oh, ini sabun mandi. Abang beli sabun yang baunya yang lembut biar kamu tidak mabok mencium bau Abang,” jawab Hisyam.
“Coba Mita lihat.” Mita mengadahkan tangannya meminta bungkusan plastik itu.
Hisyam memberikan platik itu kepada Mita. Mita mengeluarkan sabun dari dalam plastik dan mencium baunya.
“Baunya enak,” kata Mita.
Mita memberikan sabun kembali kepada Hisyam.
“Abang mau mandi dulu.” Hisyam berjalan menuju kamar mandi.
“Abang sini dulu!” Mita memanggil Hisyam.
Hisyam membalikkan badannya. “Ada apa lagi?” tanya Hisyam.
“Abang ke sini!” Mita melambaikan tangannya agar Hisyam mendekat kepadanya.
Hisyam mendekati Mita. Mita menge*ndus-e*ndus badan Hisyam. Hisyam memperhatikan istrinya yang sedang menge*ndus-e*ndus seluruh tubuhnya.
“Abang baunya enak,” kata Mia.
Hisyam mencium baju dan ketiaknya. “Bau keringat,” ujar Hisyam.
“Tapi baunya enak,” kata Mita.
“Abang tidur di sini!” Mita menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
“Nanti saja. Sekarang Abang mau mandi,” ujar Hisyam.
“Mita maunya sekarang. Nanti baunya jadi hilang,” kata Mita sambil merengek.
Hisyam menghela nafas. Terpaksa ia mengikuti keinginan Mita. Ia berbaring di sebelah Mita. Mita memeluk tubuh Hisyam lalu menge*ndus seluruh tubuh suaminya.
“Baunya enak,” kata Mita sambil menge*ndus-nge*ndus tubuh suaminya.
Hisyam membiarkan istrinya menge*ndus-e*ndus. Asalkan istrinya senang dan nggak marah-marah lagi seperti tadi pagi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Azam berdiri di depan pintu. Batita itu baru bangun tidur.
“Eh, jagoan sudah bangun,” ujar Hisyam.
Azam menutup pintu kamar lalu naik ke atas tempat tidur. Ia tidur di sebelah Hisyam.
__ADS_1
“Abang temani Mama, ya. Papa mau mandi dulu.” Hisyam beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Azam tidur di sebelah Mita sambil memeluk tubuh Mita. Mita mengusap-usap rambut Azam.