
Di sebuah kamar sepasang suami istri baru saja selesai memadu kasih. Sang suami mengecup kening istrinya. Mereka adalah Hisyam dan Mita.
“Abang mandi dulu, ya. Sebentar lagi adzan subuh.” Hisyam mengambil pakaian yang tergeletak di lantai. Ia memberikan daster dan underwear milik Mita kepada Mita lalu ia menggunakan pakaiannya. Setelah itu ia beranjak ke kamar mandi untuk mandi junub.
Mita menggunakan pakaiannya. Lalu ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Ia masuk ke kamar yang berada di sebelah kamarnya. Perlahan ia masuk ke dalam kamar. Ia melihat Azam sedang tidur dengan nyenyak. Semenjak Azam diberi makanan pendamping asi, ia tidak pernah bangun malam. Ia tidur dengan pulas sepanjang malam. Akhirnya Mita dan Hisyam memutuskan agar Azam tidur di kamar sendiri. Mita mengusap kepala Azam. Setelah melihat Azam dalam keadaan baik baik saja Mita kembai ke kamarnya. Ia kembali berbaring di atas tempat tidur.
Dua puluh menit kemudian Hisyam keluar dari kamar mandi. Ia sudah selesai mandi. Sekarang giliran Mita untuk mandi. Mita masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Mita selesai mandi terdengar adzan subuh berkumandang. Hisyam dan Mita menggelar sajadah mereka pun sholat subuh.
Selesai sholat subuh Mita ke dapur untuk menyiapkan sarapan Hisyam dan membuat makanan pendamping asi untuk Azam. Sedangkan Hisyam jogging keliling kompleks.
Ketika Mita sibuk di dapur terdengar suara Azam menangis. Mita menyuruh Bi Ijah dan Mbok Narti melanjutkan pekerjaannnya. Ia ke kamar untuk melihat Azam.
“Kenapa, sayang?” Mita menggendong Azam. Badan Azam terasa panas.
“Badan kamu panas.”
Mita mengganti pospack dan baju Azam lalu menyusui Azam. Azam tidak mau menyusu. Ia malah menangis dengan kencang. Sepertinya ia merasakan ada yang sakit tapi ia tidak bisa mengatakannya kepada Mita.
Mita menggendong Azam dan membawanya keluar kamar. Ketika ia keluar dari kamar Hisyam baru pulang jogging.
“Azam kenapa?” tanya Hisyam.
“Tidak tau, Bang. Sewaktu Mita sedang di dapur tiba-tiba Azam menangis dengan kencang. Badannya juga panas,” jawab Mita.
“Ayo Abang periksa.” Hisyam masuk ke dalam kamar. Mita mengikuti Hisyam.
Mita membaringkan Azam di atas tempat tidur. Tangisan Azam semakin kencang ketika dibaringkan di atas tempat tidur.
“Sebentar, sayang. Diperiksa dulu sama Papa,” kata Hisyam.
Hisyam memeriksa Azam walaupun Azam menangis dengan kencang. Setelah selesai memeriksa Azam, Hisyam menggendong Azam. Ia mendekap Azam di dadanya lalu diusapnya punggung dan kepala Azam. Ia membacakan ayat kursi di dekat telinga Azam.
Perlahan-lahan tangisan Azam pun reda. Azam meletakkan kepalanya di pundak papanya.
“Azam sakit apa Bang?” tanya Mita.
“Mungkin perutnya sakit karena perutnya terasa kembung. Hari ini kamu tidak usah kuliah dulu. Di rumah saja jaga Azam. Tidak usah masak di dapur. Urusan masak serahkan saja ke Bi Ijah dan Mbok Narti,” ujar Hisyam.
__ADS_1
Semenjak mereka menikah ulang, Mita belajar masak. Ia ingin suaminya mencicipi masakannya.
“Baik, Bang,” jawab Mita.
“Azam sama Mama dulu, ya. Papa mau mandi dulu. Papa bau keringat,” kata Hisyam sambil mengusap punggung Azam.
Hisyam memberikan Azam kepada Mita namun Azam menangis. Ia tidak mau lepas dari Hisyam.
“Azam sama Mama. Nanti Papa telat ke rumah sakit.” Mita mengambil Azam dari pelukan Hisyam.
Azam kembali menangis. Mita menggendong Azam dengan kain gendongan. Hisyam masuk ke dalam kamar mandi. Mita menimang-nimang Azam namun Azam masih saja merengek.
Lima belas menit kemudian Hisyam keluar dari kamar mandi. Ia mengambil pakaian dari dalam lemari lalu ia memakainya. Setelah memakai baju Hisyam menghampiri Mita. Ia melihat Azam sedang diam di dekapan Mita. Hisyam mengusap kepala Azam.
“Panasnya sudah turun. Kalau sudah tidak panas tidak usah dikasih obat penurun panas!” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
“Perhatikan pup dan piipisnya!” lanjut Hisyam.
“Baik, Bang,” jawab Mita.
Mereka keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Mereka di kursi makan untuk sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan Hisyam pamit pergi ke rumah sakit.
“Kalau ada apa-apa telepon Abang!” ujar Hisyam.
“Baik, Bang,” jawab Mita.
Hisyam mengusap kepala Azam lalu mengecupnya. Batita itu sedang tidur dipelukan mamanya.
“Abang pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
Hisyam berjalan menuju garasi mobil. Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Ia mengeluarkan mobil sampai ke jalan setelah itu mobilpun melaju meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
***
Hisyam berjalan menuju ke ruang prakteknya. Para suster dan karyawan lain menyapanya.
“Pagi, Dok,” ucap mereka.
“Pagi,” jawab Hisyam dengan ramah.
Diam-diam seseorang mengikuti dari belakang. Orang itu adalah pria yang mendatangi Harumi.
Kenapa dia masih segar bugar? Apa santetnya belum dikirim oleh Mbak Harumi? Tanya pria itu di dalam hati.
“Dokter Tio!” seseorang memanggilnya dari belakang.
Pria itu menoleh ke belakang. Seorang suster lari tergesah-gesah menghampirinya.
“Dokter Tio diminta ke Instalasi Gawat Darurat. Ada seorang wanita korban kecelakaan. Ia sedang hamil sembilan bulan,” kata suster.
“Kenapa harus saya? Kenapa bukan dokter yang lain? Sebentar lagi saya aka nada rapat,” kata dokter Tio dengan kesal.
“Dokter Rudi menyuruh panggil Dokter Tio,” jawab suster.
“Ya sudahlah.” Dokter Tio berjalan menuju ke Instalasi Gawat Darurat.
Ketika siang hari Hisyam masih terlihat segar bugar masih belum terlihat tanda-tanda ia mengalami sakit. Hingga waktunya Hisyam pulang ia terlihat sehat wal afiat.
Bagaimana sih, si Harumi? Si Hisyam masih belum kenapa-kenapa, gerutu dokter Tio di dalam hati.
Dokter Tio mengambil ponselnya lalu ia menelepon Harumi.
“Hallo. Mbak Harumi ini bagaimana, sih? Kenapa dia belum juga kenapa-kenapa?” protes dokter Tio.
“Saya kan sudah bilang kalau dia punya kekuatan,” ujar Harumi.
“Pokoknya saya tidak mau tau. Saya mau dia secepatnya disingkirkan!” seru dokter Tio.
“Baiklah. Akan saya usahakan sekali lagi,” ujar Harumi.
__ADS_1
Dokter Tio menutup teleponnya.