Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
32. Kena Tulah


__ADS_3

Hisyam masuk ke dalam rumahnya melalui garasi. Rumah terlihat sangat sepi sekali. Biasanya jam segini Mita baru pulang dari kampus, Azam sedang tidur dan para pembantu sedang beristirahat di ruang di kamar. Tapi hari ini Mita tidak pergi ke kampus karena harus menemani Azam yang sedang sakit.


Hisam berjalan menuju ke kamarnya. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang sedang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata. Perlahan Hisyam masuk ke dalam kamarnya.


“Assalamualaikum,” ucap Hisyam. Di dalam kamar ia melihat Mita sedang membaca Al-Qur-an dan Azam sedang tidur di tempat tidur. Mita berhenti membaca Al-Qur’an. Ia menoleh ke Hisyam.


“Waalaikumsalam,” jawab Mita.


Mita menghampiri Hisyam lalu mencium tangan Hisyam.


“Bagaimana dengan keadaan Azam?” tanya Hisyam.


“Masih rewel. Ia tidak mau nyusu dan tidak mau makan. Sepertinya ada yang ia rasa,” jawab Mita.


Hisyam berjalan menuju ke kamar mandi untuk cuci tangan. Setelah mencuci tangan ia mengambil stateskop lalu mendekati Azam. Pelan-pelan ia memeriksa tubuh Azam. Batita itu tidak terusik sama sekali ketika sedang diperiksa.


Hisyam menghela napas berat setelah memeriksa Azam.


“Bagaimana, Bang?” tanya Mita dengan khawatir.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Hisyam.


“Lalu kenapa dia rewel sampai tidak mau makan dan tidak mau nyusu?” tanya Mita dengan putus asa.


“Mungkin dia mau tumbuh gigi,” jawab Hisyam.


“Teruskan lagi mengajinya. Abang mau mandi dulu. Sebentar lagi adzan ashar kita sholat ashar berjamaah,” kata Hisyam.


“Iya, Bang.” Mita melanjutkan mengaji. Hisyam ke kamar mandi untuk mandi.


Ketika Hisyam keluar dari kamar mandi ia mendengar suara adzan ashar dari masjid di dekat rumahnya.


“Kita sholat ashar dulu,” kata Hisyam. Hisyam menggunakan sarung lalu menggelar sajadah. Mereka pun sholat ashar berjamaah.


Setelah selesai sholat Hisyam mendekati Azam. Ia membacakan ayat kursi dan surat-surat pendek sambil mengusap kepala Azam. Setelah itu ia mengecup kepala Azam dan berbisik di telinga Azam, “Cepat sembuh ya, Nak.”


Pukul empat lebih tiga puluh Azam membuka matanya. Batita itu tidak rewel ketika bangun. Ia hanya memperhatikan di sekelilingnya. Ia menoleh ke samping kiri papanya sedang tidur dengan pulas.


Ia melihat mamanya sedang mengetik di meja kerja. Azam bangun dari tempat tidur lalu  Ia duduk di samping Hisyam.


“Pa pa pa pa.” Azam menepuk-nepuk dada papanya.

__ADS_1


Merasa ada yang menepuk-nepuk dada, Hisyam pun terbangun. Ketika ia membuka mata ia melihat Azam duduk di sebelahnya sambil menepuk-nepuk dadanya.


“Azam sudah bangun?” tanya Hisyam.


Batita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hisyam memegang kepala Azam untuk mengecek suhu tubuh, suhu tubuh Azam normal. Mita sedang konsentrasi mengerjakan tugas sehingga ia tidak tau kalau Azam sudah bangun.


Hisyam bangun tari tempat tidur. Ia menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur.


“Tuh, Mama lagi belajar.” Hisyam menunjuk ke arah Mita.


“Ma ma ma ma. Nye nyen,” kata Azam.


Mendengar suara Azam, Mita menoleh ke belakang. Ia melihat Azam dan Hisyam sedang duduk di atas tempat tidur.


“Eh, anak Mama sudah bangun,” ujar Mita.


Mita beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Hisyam dan Azam. Ia naik ke atas tempat tidur. Azam mendekati Mita.


“Nye nyen.” Azam menepuk dada Mita.


“Azam mau nye nyen? Ayo kita nye nyen.” Mita menggedong Azam, ia menyandar pada headboard tempat tidur. Lalu ia menyusui anaknya. Azam menyusu sambil menepuk-nepuk dada mamanya. Sesekali ia memainkan kancing baju mamanya.


Hisyam mendekati Mita. “Dia mau nyusu?” tanya Hisyam sambil memperhatikan Azam yang sedang menyusu sambil memainkan kancing baju.


“Abang mau makan sekarang?” tanya Mita. Biasanya kalau mau pergi praktek Hisyam memajukan makan malam menjadi makan sore karena setelah sholat magrib Hisyam pergi ke tempat praktek.


“Hari ini Abang tidak praktik. Abang minta tolong ke Dokter Firman untuk menggantikan Abang,” jawab Hisyam.


“Abang mau menemani kamu mengurus Azam,” lanjut Hisyam.


Hisyam merangkul bahu Mita kemudian Mita menyandarkan kepalanya di pundak Hisyam. Mereka berdua memperhatikan Azam yang sedang menyusu. Mereka merasa lega karena anak mereka sekarang sudah sembuh.


***


Hisyam sedang menonton film di kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya yang berada diatas nakas. Di layar ponselnya tertera nomor rumah sakit tempatnya praktek.


“Assalamualaikum,” ucap Hisyam. Hisyam diam dan  mendengarkan perkataan lawan bicaranya.


Mita menoleh ke arah suaminya. Hisyam terlihat serius sedang berbicara dengan lawan bicaranya. Akhirnya Hisyam menutup teleponnya.


“Telepon dari siapa, Bang?” tanya Mita.

__ADS_1


“Dari rumah sakit. Besok subuh Abang diminta untuk melakukan operasi caesar menggantikan Dokter Tio,” jawab Hisyam.


“Dokter Tio kenapa?” tanya Mita.


“Dokter Tio sakit tidak bisa bangun dari tempat tidur,” jawab Hisyam.


“Sepertinya sakitnya mendadak. Sewaktu di rumah sakit Abang lihat dia sehat-sehat saja tidak kenapa-kenapa,” lanjut Hisyam.


“Ya sudah. Sekarang Abang tidur, jangan nonton lagi. Nanti tidak bisa bangun jam setengah empat,” ujar Mita.


“Sebentar lagi. Filmnya lagi seru,” jawab Hisyam. Hisyam kembali fokus pada televisi.


Mita memasang alarm di ponselnya agar ia bisa membangunkan suaminya. Setelah itu ia tidur sambil memeluk Azam. Untuk sementara waktu Azam tidur bersama dengan dengan orang tuanya. Kalau ia sudah benar-benar pulih barulah Azam kembali tidur di kamarnya.


***


Keesokan harinya di kediaman Harumi. Seseorang klien datang ingin bertemu dengan Harumi namun ditolak oleh pegawai Harumi.


“Maaf, Bu. Bu Harumi untuk sementara ini tidak bisa menerima tamu. Bu Harumi sedang sakit. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidur,” ujar pegawai Harumi.


“Ya sudah. Kapan-kapan saya ke sini lagi,” kata orang tersebut. Orang itu pergi meninggalkan rumah Harumi.


Sementara itu di kamar Harumi. Seorang laki-laki paruh baya sedang memijat kaki Harumi. Ia adalah Joko Tingkir suami Harumi.


“Ibu ini sakit apa, sih?” tanya Joko Tingkir.


“Ibu kena tulah gara-gara menyantet orang kuat,” jawab Harumi.


“Sssttt haduh,” Harumi meringis kesakitan pada punggungnya.


“Sini, Bapak usap-usapin punggungnya.” Joko Tingkir membalikkan tubuh Harumi lalu mengusap punggung Harumi.


“Orang kuat apa, toh? Emang dia punya ilmu yang lebih hebat dari Ibu?” tanya Joko Tingkir.


“Ibu juga tidak tau, Pak. Orang itu punya kekuatan apa. Ibu seperti baru lihat,” jawab Harumi.


“Lain kali kalau disuruh membereskan orang yang seperti itu, ibu jangan mau! Daripada Ibu jadi sakit begini,” ujar Joko Tingkir.


“Iya, Pak. Ibu nggak lagi melawan orang yang sehebat itu,” jawab Harumi.


“Pak, nanti kalau Dokter Tio datang ke sini kembalikan uangnya kepada Dokter Tio. Uangnya ada di lemari,” kata Harumi.

__ADS_1


“Iya, nanti Bapak kembalikan uangnya ke Dokter Tio,” jawab Joko Tingkir.


__ADS_2