Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
33. Mau Dua


__ADS_3

Hisyam keluar dari ruang operasi. Ia baru selesai operasi caesar pasien dokter Tio. Hisyam berjalan menuju ruang khusus untuk dokter ia hendak ganti baju. Ketika melewati tempat suster jaga tiba-tiba para suster jaga memanggilnya.


“Dokter Hisyam,” panggil salah suster. Hisyam menghampiri para suster jaga.


“Ada apa?” tanya Hisyam.


“Sudah dengar kabar, belum?” tanya salah seorang suster.


“Kabar apa?” tanya Hisyam.


“Dokter Tio meninggal dunia,” jawab suster.


“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap Hisyam.


“Kapan meninggalnya?” tanya Hisyam.


“Tadi subuh. Di rumah sakit ini,” jawab suster.


“Ngeri deh, Dok. Badan dokter Tio melepuh. Waktu mau meninggalnya juga tragis, dia teriak-teriak seperti kesakitan. Pokoknya sangat mengerikan,” kata suster.


“Sudah jangan dibicarakan lagi. Tidak baik membicarakan aib orang yang sudah meninggal! Yang penting sekarang dokter Tio sudah tenang,” ujar Hisyam.


“Iihh beneran Dok. Semua orang menyaksikan sendiri kejadiannya sewaktu di IGD,” kata suster.


“Yang penting sekarang Dokter Tio sudah tenang. Sudah ya, saya mau ganti baju dulu. Perut saya lapar belum sarapan.” Hisyam pergi meninggalkan tempat itu.


***


Hisyam dan Mita datang berkunjung ke rumah orang tua Hisyam. Biasanya kalau weekend Hisyam dan Mita mengunjungi rumah orang tua mereka secara bergantian. Sekarang waktunya mereka mengunjungi orang tua Hisyam.


Hisyam dan Pak Bakhtiar duduk-duduk di ruang keluarga  sambil memperhatikan Azam yang sudah mulai tidak bisa diam. Sedangkan Mita dan Ibu Nella sedang berada di dapur menyiapkan makan siang.


“Syam, sampai kapan kamu praktek di rumah sakit milik orang lain?” tanya Pak Bakhtiar.


Hisyam menoleh ke Pak Bakhtiar. “Sampai pensiun, Pa,” jawab Hisyam.


“Apa kamu nggak cape kerja di tempat orang?” tanya Pak Bakhtiar.


“Cape, Pa. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga cari uang untuk anak dan istri,” jawab Hisyam.


Hisyam memperhatikan Azam yang sedang memainkan mainannya. Ia takut ada mainan yang masuk ke dalam mulut Azam.


“Bagaimana kalau kamu membuat rumah sakit bersalin sendiri? Daripada seumur hidup praktek di rumah sakit orang,” tanya Pak Bakhtiar.

__ADS_1


“Hisyam juga mau, Pa. Tapi belum ada uang untuk membangun rumah sakit bersalin sendiri,” jawab Hisyam.


“Papa kasih modalnya untuk membangun  rumah sakit bersalin. Kamu tinggal mengurus ijinnya. Kalau pemiliknya dokter kandungan biasanya gampang mendapatkan ijin. Daripada Papa yang mengajukan ijin,” ujar Pak Bakhtiar.


“Nanti rumah sakitnya milik siapa? Papa atau Hisyam?” tanya Hisyam.


“Milik kamu lah. Masa milik Papa? Papa tidak tau cara mengoperasionalkan rumah sakit,” jawab Pak Bakhtiar.


“Hisyam pikirkan dulu, Pa,” kata Hisyam.


Tiba-tiba Azam bisa berdiri sendiri sambil nyengir memperlihatkan giginya yang baru mau tumbuh.


“Azam pinter biasa berdiri sendiri,” puji Hisyam.


Mita sedang berada di ruang makan mendengar perkataan Hisyam. Cepat-cepat Mita menghampiri Hisyam. “Mana? Mama mau lihat,’ kata Mita.


Mita melihat Azam sedang berdiri. “Anak Mama pintar sudah bisa berdiri,” puji Mita. Tapi ketika melihat Mita, Azam kembali ngerondang. Ia menghampiri Mita. “Nye nyen,” kata Azam dengan manja.


“Yah, melihat Mamanya jadi manja. Dari tadi anteng main sendiri,” ujar Pak Bakhtiar.


Mita menggendong Azam. “Azam haus, ya?” tanya Mita. Mita membawa Azam ke kursi sofa lalu menyusui Azam. Hisyam menghampiri Mita lalu duduk di sebelah Mita. Ia mengusap kepala Azam yang sedang menyusu.


“Papa menawarkan modal untuk membangun rumah sakit bersalin sendiri. Biar tidak usah praktek di rumah sakit milik orang lain,” ujar Hisyam.


“Terserah Abang. Abang maunya bagaimana?” tanya Mita.


“Kalau rumah sakit milik sendiri berat tanggung jawabnya,” ujar Hisyam.


“Praktek di rumah sakit lain dan praktek sendiri juga berat tanggung jawabnya. Sama-sama berurusan dengan nyawa manusia,” kata Mita.


“Iya juga,” jawab Hisyam.


“Nanti deh, Abang pikirkan dulu,” ujar Hisyam.


Azam yang sedang menyusu lama kelamaan memejamkan matanya. Sepertinya batita itu sudah mengantuk. Hisyam mengusap-usap kepala Azam.


***


Waktu terus berlalu. Akhirnya Hiyam memutuskan untuk membangun rumah sakit bersalin. Sementara rumah sakit sedang dibangun Hisyam masih tetap praktek di rumah sakit dan tempat praktek pribadi. Sekarang rumah sakit bersalin milik Hisyam sudah dalam tahap penyelesaian.


Azam sekarang sudah berusia dua tahun. Batita itu sekarang sedang tidak bisa diam selalu saja ada yang ia eksplore sehingga ia perlu pengawasan ekstra dari orang tua dan pengasuhnya.


Sudah seminggu Mita sedang dalam keadaan tidak fit. Hari ini ketika bangun tidur ia muntah-muntah. Perutnya rasanya seperti diaduk-aduk. Hisyam khawatir melihat keadaan Mita yang tidak berhenti muntah. Tidak ada seteguk airpun yang masuk ke perut Mita, semuanya ia muntahkan.

__ADS_1


Akhirnya Hisyam memutuskan untuk tidak ijin tidak masuk kerja. Tapi Mita menolak.


“Abang kerja saja. Mita tidak apa-apa nanti juga berhenti muntahnya,” ujar Mita.


“Muka kamu pucat sekali. Badan kamu lemas sekali. Abang takut kamu dehidrasi,” kata Hisyam dengan cemas.


“Mita tidak apa-apa, Bang. Waktu Mita hamil Azam juga begini. Tapi lama kelamaan juga sudah biasa,” ujar Mita.


Hisyam bingung mendengar perkataan Mita. Ia mengerut keningnya.


“Maksud kamu apa?” tanya Hisyam.


Mita tersenyum menatap suaminya. Bagaimana bisa suaminya seorang dokter kandungan tidak bisa mengerti tanda-tanda yang dialami Mita.


“Mita sudah telat tiga minggu, Bang,” jawab Mita. Hisyam berpikir sejenak mencoba mencerna perkataan Mita.


“Maksud kamu, kamu hamil?” tanya Hisyam. Mita tersenyum lalu mengangguk.


“Alhamdullilah.” Hisyam langsung sujud syukur.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Azam berlari masuk ke dalam kamar. Ia melihat Hisyam sedang sujud.


“Papa napa?” tanya Azam.


“Papa lagi sujud syukur,” jawab Mita.


Azam ikut sujud di sebelah Hisyam. Tak lama kemudian Hisyam bangun dari sujudnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Azam mengikuti gerakan Hisyam. Hisyam menoleh ke Azam.


“Azam sudah besar tidak boleh lagi minta gendong sama Mama! Azam di gendong Papa, Bi Ijah dan Mbok Narti,” ujar Hisyam.


“Napa?” tanya Azam sambil cemberut. Ia duduk di pangkuan Hisyam.


“Karena di perut Mama ada adik bayi. Mama tidak boleh menggendong Abang Azam lagi,” jawab Hisyam.


“Ade bayinya aja belapa?” tanya Azam.


“Papa belum tahu. Nanti sore kita lihat adik bayi,” jawab Hisyam.


“Azam mau dua. Catu yang putih, catu laji yang itam,” kata Azam sambil berhitung dengan menggunakan jari tangannya.


“Adik bayinya satu aja. Kalau dua kasihan Mama nanti repot mengurus adik,” kata Hisyam.


“Au dua ya, Pa,” rengek Azam.

__ADS_1


“Nanti kita lihat ade Azam ada berapa,” ujar Hisyam dengan sabar.


__ADS_2