
Hisyam baru pulang dari rumah sakit. Ia masuk ke dalam rumah melalui garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam ketika berada di dalam rumah. Rumahnya terlihat sepi yang terdengar hanya suara orang sedang memasak di dapur.
“Waalaikumsalam,” jawab Mbok Narti dari dapur.
Hisyam menghampiri Mbok Narti yang sedang memasak di dapur.
“Mbok. Tadi Mita makan, nggak?” tanya Hisyam.
“Makan, Pak Dokter. Tapi cuma sedikit,” jawab Mbok Narti.
“Makan sama apa?” tanya Hisyam.
“Sama bubur dikasih bawang goreng dan ikan teri. Non Mita mintanya begitu. Sekarang Mbok lagi masak bubur. Barusan Non Mita minta bubur lagi,” jawab Mbok Narti.
“Ya sudah, yang penting dia mau makan,” ujar Hisyam.
“Saya ke kamar dulu, Mbok,” kata Hisyam.
“Iya, Pak Dokter,” jawab Mbok Narti.
Hisyam berjalan menuju ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar.
“Assalamualaikum.” Hisyam masuk ke dalam kamar. Mita sedang rebahan di atas tempat tidur sambil menonton film.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
Hisyam menghampiri Mita. Mita mencium tangan suaminya. Di sebelah Mita ada Azam yang sedang tidur.
“Kenapa jagoan tidur di sini?” tanya Hisyam.
“Kata Abang, Abang mau jaga ade biar adenya nggak diambil orang,” jawab Mita.
__ADS_1
“Abang mandi dulu, ya.” Hisyam berjalan menuju ke kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian Hisyam keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian rumah. Ia melihat Mita yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil makan. Hisyam mendekati Mita. Ia melihat isi mangkok Mita. Di dalamnya ada bubur yang sudah di aduk rata.
“Makan bubur pakai apa?” tanya Hisyam.
“Pakai bawang goreng dan kerupuk,” jawab Mita.
“Kok nggak pakai telor? Nanti nggak ada gizinya,” tanya Hisyam.
“Nggak mau. Rasanya enek,” jawab Mita.
“Ya, nggak apa-apa. Makan yang banyak, ya!” Hisyam naik ke atas tempat tidur. Ia merebahkan dirinya di sebelah Azam lalu ia tidur bersama dengan Azam. Sore ini Hisyam tidak ada jadwal praktek sehingga ia bisa beristirahat bersama istri dan anaknya.
Malam hari setelah selesai sholat magrib, Hisyam mengajak Mita ke tempat praktek pribadinya untuk diperiksa. Azam ikut bersama orang tuanya karena ia ingin melihat adik bayi. Ia duduk di belakang dengan menggunakan kursi bayi. Mula-mula Azam menolak untuk duduk di kursi bayi. Tapi setelah diberi pengertian akhirnya ia mau duduk di kursi bayi.
Malam ini lalu lintas di jalan raya masih ramai. H isyam mengendarai mobilnya dengan tenang. Azam asyik melihat pemandangan di luar sambil berceloteh sendiri. Sesekali Hisyam dan Mita menanggapi celotehan anak mereka.
“Ayo, Bang. Kita turun.” Hisyam menggendong Azam lalu menutup pintu. Mereka berjalan masuk ke dalam apotik.
Hisyam membuka kunci pintu ruang praktek lalu mereka masuk ke dalam. Hisyam menaruh Azam di kursi.
“Abang duduk di sini, ya! Papa mau periksa Mama dulu.,” ujar Hisyam. Batita itu menjawab dengan mengangguk.
Hisyam menyalakan AC dan mesin USG. Ia kembali mendekati Azam.
“Abang lihat ade dari layar itu.” Hisyam menunjuk ke layar televisi yang menempel di dinding. Azam menjawab dengan mengangguk.
Hisyam membantu Mita naik ke atas tempat tidur. Kemudian Mita berbaring di tempat tidur. Hisyam mengangkat pakaian Mita agar memudahkan untuk diperiksa. Setelah itu ia mulai menjalankan transduser di atas perut Mita. Pandangan Hisyam tertuju pada layar monitor. Ia memeriksa rahim istrinya.
Hisyam senyum-senyum ketika melihat rahim istri di layar monitor. Mita memperhatikan wajah suaminya lalu kembali lagi ke monitor. Ia tidak mengerti mengapa suaminya senyum-senyum sendiri.
“Kenapa Abang senyum-senyum sendiri?” tanya Mita.
__ADS_1
Hisyam menoleh ke Mita. “Anak kita kembar dua,” jawab Hisyam.
“Abang tau darimana kalau anak kita kembar dua?” tanya Mita.
“Ini kamu lihat kantong bayinya ada dua.” Hisyam menunjuk ke layar monitor.
“Alhamdullilah,” ucap Mita.
Azam memperhatikan orang tuanya yang sedang berbicara berdua sambil menunjuk ke layar monitor. Ia langsung turun dari kursi dan menghampiri Hisyam.
“Au iat, Papa,” kata Azam sambil menarik-narik celana Hisyam.
“Abang lihat dari sana,” Hisyam menunjuk ke layar monitor yang menempel di tembok.
“Au iat yang itu.” Azam menunjuk ke layar monitor USG.
Terpaksa Hisyam mengangkat tubuh Azam lalu memangkunya.
“Adik Abang ada dua. Nih lihat.” Hisyam menunjukkan kantung bayi kepada Azam.
“Abang au ade yang melah dan yang olen,” kata Azam sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah.
“Itu adik bayi, Bang. Bukan permen,” ujar Mita.
“Pelempuan cama laki-laki aja,” kata Azam.
“Abang doain supaya adiknya sehat,” ujar Hisyam.
Azam mengangkat kedua telapak tangannya lalu mulutnya komat-kamot membacakan doa untuk adiknya. Lalu ia mengusap kedua telapak tangannya ke muka.
“Amin. Udah,” kata Azam. Hisyam dan Mita tersenyum melihat apa yang Azam lakukan.
Kemudian Hisyam menurunkan Azam dan ia melanjutkan memeriksa Mita. Setelah selesai memeriksa Mita mereka pun pulang ke rumah.
__ADS_1