
Wajah Ibu Gia menjadi sedih mendengar jawaban Mita. Ia berharap Mita mau memberikan Azam kepadanya karena ia sudah tidak lagi memiliki anak.
“Sebetulnya kami hendak meminta Azam. Kamu sudah menikah. Kamu dan suamimu bisa memiliki anak. Sedangkan kami sudah tidak punya anak lagi. Arifin sudah tidak ada. Kami sudah tua tidak mungkin punya anak lagi. Azam adalah harapan kami satu-satunya,” kata Ibu Gia.
“Maaf Tante, tidak bisa,” jawab Mita dengan tegas.
Tiba-tiba Azam tidak bisa diam. Ia mengulurkan tangannya minta digendong oleh Mita.
“Ma ma ma ma. Nye nyen,” kata Azam.
“Nanti nyusu. Sekarang Azam sama nenek dulu.” Ibu Gia mengusap kepala Azam agar Azam diam.
Azam mengelengkan kepalanya. “Nye nyen,” kata Azam.
Melihat Azam mulai rewel Mita mendekati Ibu Gia ia mengambil Azam dari pangkuan Ibu Gia lalu duduk kembali ke tempat duduknya.
“Nanti nyusu ya, sayang. Sekarang ada tamu.” Mita memberi pengertian kepada Azam. Azam menggosok-gosokkan wajahnya di dada Mita sebagai tanda ia ingin nyusu.
__ADS_1
Melihat Azam yang sudah mulai rewel akhirnya Ibu Gia dan Pak Dudi pamit pulang. Setelah orang tua Arifin pulang, Mita langsung bernafas lega. Ia tidak ingin orang tua Arifin berlama-lama di rumahnya.
Sebetulnya Mita takut jika orang tua Arifin datang ke rumah. Orang tua Arifin pasti akan berusaha untuk mengambil Azam, karena mereka tidak memiliki anak lagi.
Hisyam memberikan penjelasan status anak di luar nikah kepada Mita. Di dalam hukum Islam dan KUHPerdata anak di luar kawin tidak mempunyai hubungan nasab dengan ayah biologisnya. Pasal 63 Ayat (1) Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, lebih lanjut menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibu. Mendengar penjelasan Hisyam, Mita tidak takut lagi menghadapi orang tua Arifin.
Mita menghempaskan tubuhnya ke sofa. Azam yang berada di pangkuannya memukul-mukul dada Mita.
“Nye nyen,” kata Azam.
“Iya sayang. Tunggu sebentar ya, sayang,” ujar Mita sambil membuka kancing bajunya. Setelah itu barulah Mita menyusui Azam.
Apa yang ditakutkan Mita akhirnya terjadi. Ketika Mita pulang kuliah ia menemukan surat yang berada di atas meja. Surat itu ditujukan atas namanya.
Surat dari pengadilan? Tanya Mita di dalam hati. Mita membuka amplop lalu membaca isi surat. Isi surat itu adalah surat pemanggilan Mita untuk mengikuti sidang pengadilan. Orang tua Arifin menuntut Mita atas hak asuh Azam. Ketika Mita sedang membaca isi surat tiba-tiba Hisyam datang. Ia baru pulang dari rumah sakit.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam. Hisyam menghampiri Mita lalu mengecup pipi Mita.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
“Lagi apa? Suami pulang nggak disambut?” Hisyam mengusap punggung Mita.
“Ini, Bang.” Mita memberikan surat itu kepada Hisyam.
Hisyam membaca isi surat tersebut hingga selesai. Hisyam menghela nafas setelah membaca surat tersebut.
“Kamu tidak usah takut. Dasar hukumnya sudah ada, mereka tidak akan menang.” Hisyam menaruh surat itu di atas meja makan.
“Kalau menyewa pengacara mahal, nggak?” tanya Mita.
“Kenapa? Kamu mau nyewa pengacara?” tanya Hisyam.
“Mita takut mereka akan menang,” jawab Mita, “orang tua Arifin adalah orang yang cukup berada, mereka pasti menyewa pengacara agar bisa memenangkan kasus ini.”
“Tidak usah takut. Kita hadapi saja. Hmm.” Hisyam mengusap kepala Mita agar Mita tenang.
__ADS_1
“Baiklah, Bang,” jawab Mita.