
Hisyam sedang membuka sarung. Ia baru selesai sholat subuh bersama Mita. Tiba-tiba ponselnya berdering. Cepat-cepat Hisyam melipat sarung dan sajadahnya. Kemudian ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Di layar ponselnya tertuling Papa calling. Hisyam menjawab telepon dari papanya.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
Hisyam diam mendengarkan papanya berbicara. Mita mendekati suaminya dan memperhatikan suaminya yang sedang mendengarkan Pak Bakhtiar berbicara. Ia ingin tau apa yang sedang dikatakan oleh mertuanya.
“Baik, Pah. Nanti Hisyam ke sana,” ujar Hisyam.
“Waalaikumsalam,” jawab Hisyam.
Hisyam mengakhiri pembicaraannya.
“Ada apa?” tanya Mita penasaran.
“Mama kena vertigo. Abang sekarang mau ke sana mau periksa Mama.” Hisyam beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk mandi.
“Mita ikut ya, Bang,” kata Mita.
“Jangan. Kamu di rumah saja! Kamu kan lagi bedrest,” jawab Hisyam.
“Mita mau jenguk Mama,” rengek Mita.
Hisyam menghela nafas mendengar perkataan istrinya. Ia menghampiri Mita.
“Nanti Abang kasih tau tentang keadaan Mama. Kamu tunggu di rumah. Ingat kamu harus bedrest total!” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
Hisyam tidak mengijinkan Mita untuk ikut ke rumah orang tuanya karena kehadiran Mita takut memperburuk keadaan mamanya. Ditambah dengan keadaan kehamilan Mita yang harus bedrest total.
“Abang mandi dulu.” Hisyam berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Hisyam langsung pergi ke rumah orang tuanya. Ia tidak sempat sarapan pagi. Setelah suaminya pergi Mita langsung mengatur strategi. Ia mencari tahu makanan untuk orang-orang yang terkena vertigo. Apalagi tadi Hisyam mengatakan kalau Ibu Nella tidak bisa minum dan makan sama sekali karena perutnya mual.
Mita menyuruh Mbok Narti memasak makanan untuk Ibu Nella. Setelah makanan sudah matang Mita bersiap-siap untuk pergi ke rumah mertuanya. Ia akan nekad datang ke rumah mertuanya. Sebelumnya Mita harus memastikan dulu kalau suaminya sudah pergi ke rumah sakit. Setelah itu Mita baru pergi ke rumah mertuanya.
Mbok Narti mencegah Mita pergi karena Mita harus bedrest.
“Jangan pergi, Non! Mbok takut terjadi apa-apa sama Non. Suruh supir ojek aja yang mengantarkan makanan!” ujar Mbok Narti.
“Nggak apa-apa, Mbok. Saya sudah sehat,” jawab Mita.
Mita memesan taksi online. Ia nekad untuk pergi. Mbok Narti hanya bisa menghela nafas ketika melihat Mita yang nekad pergi ke rumah mertuanya.
***
Taksi online yang ditumpangi Mita berhenti di depan rumah Ibu Nella. Setelah membayar ongkos taksi Mita turun dari mobil. Ia membawa rantang yang di simpan di dalam tas kain.
Mita berdiri di depan rumah mertuanya. “Assalamualikum,” ucap Mita.
Pak Joko penjaga rumah menghampirinya. “Waalaikumsalam,” jawab Pak Joko. ia mengintip dari balik pagar.
“Oh, Non Mita.” Pak Joko membuka pintu pagar.
“Mama ada, Pak?” tanya Mita.
“Ada, Non. Ibu sedang sakit. Tadi pagi Den Hisyam datang ke sini. Tapi sekarang sudah pergi ke rumah sakit,” jawab Pak Joko.
__ADS_1
Mita masuk ke dalam rumah melalui garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Mita ketika berdiri di pintu masuk menuju ruang keluarga. Ia tidak berani masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam.” Seorang pembantu keluar dari dapur dan menghampiri Mita.
“Eh, Non Mita. Masuk, Non!” kata Bi Suti.
“Papa ada, Bi?”
“Ada, Non. Di kamar nemenin Ibu,” jawab Bi Suti.
Mia masuk ke dalam rumah. Ia menyimpan rantang di atas meja lalu ia berjalan menuju kamar Ibu Nella. Mita mengetuk pintu kamar, tak lama kemudian pintu kamar dibuka. Pak Bakhtiar berdiri di depan pintu.
“Mita.” Pak Bakhtiar kaget melihat Mita.
“Apakah Mita boleh menjenguk Mama?” tanya Mita.
“Tunggu sebentar, Papa bicara dulu sama Mama,” jawab Pak Bakhtiar.
Pak Bakhtiar masuk ke dalam kamar. Ia mengatakan kepada istrinya kalau Mita datang untuk menjenguk Ibu Nella menolak dijenguk oleh Mita. Ia malah menyuruh Pak Bakhtiar mengusir Mita. Tanpa mereka sadari Mita mendengar semua perkataan Ibu Nella. Mita sedih mendengar penolakan dari Ibu Nella. Mita keluar dari rumah dan duduk di teras. Mita menangis meratapi nasibnya.
Pak Bakhtiar mencoba untuk membujuk Ibu Nella tapi Ibu Nella tetap dengan pendiriannya. Pak Bakhtiar keluar kamar mencari Mita namun Mita tidak ada. Ia keluar rumah mencari Mita. Ia mendapati Mita yang sedang menangis di teras.
Pak Bakhtiar mendekati Mita.
“Mita,” panggil Pak Bakhtiar.
Mita menghapus aitr matanya dan berdiri.
“Lebih baik kamu pulang saja, ya! Diantar supir,” kata Pak Bakhtiar.
Pak Bakhtiar menghela nafas. Istri dan menantunya sama-sama keras kepala.
“Papa coba bujuk Mamamu lagi,” kata Pak Bakhtiar. Pak Bakhtiar masuk ke dalam rumah. Mita berdoa agar mertuanya mau memaafkannya.
Pak Bakhtiar kembali ke kamar ia mencoba untuk membujuk istrinya.
“Mah, jangan terlalu keras kepada Mita. Dari awal Mita tidak pernah menipu Hisyam. Hisyam sendiri yang berkeinginan untuk menikahi Mita. Coba Mama lihat Hisyam sekarang, ia terlihat bahagia setelah menikah dengan Mita,” ujar Pak Bakhtiar.
Ibu Nella hanya diam mendengar perkataan suaminya. Ia memang melihat perubahan dari Hisyam. Sekarang Hisyam terlihat lebih ceria dan lebih terawat. Tidak ada terpancar rasa sedih di wajah Hisyam. Sepertinya Mita sudah membuat anaknya bahagia.
“Mama tau nggak, Mita itu seharusnya bedrest tapi dia nekad datang ke sini untuk menjenguk Mama,” ujar Pak Bakhtiar.
Ibu Nella menoleh ke suaminya.
“Dia kenapa harus bedrest?” tanya Ibu Nella.
“Kata Hisyam, Mita keluar flek,” jawab Pak Bakhtiar.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Ibu Nella.
Jangan-jangan gara-gara kejadian kemarin, kata Ibu Nella di dalam hati. Ibu Nella jadi merasa bersalah telah berkata kasar kepada Mita.
“Sekarang dia dimana?” tanya Ibu Nella.
***
__ADS_1
Mita berdiri di depan kamar Ibu Nella, ia ragu untuk masuk ke dalam kamar Ibu Nella. Pak Bakhtiar berdiri di belakang Mita.
“Masuklah!” ujar Pak Bakhtiar.
Mita masuk ke dalam kamar Ibu Nella. Ibu Nella sedang berbaring di atas tempat tidur.
“Assalamualaikum,” ucap Mita.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Nella.
Mita mendekati Ibu Nella lalu mencium tangan Ibu Nella.
“Duduk!” ujar Ibu Nella.
Mita duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Ibu Nella.
“Kata Papa, kamu sedang bedrest?” tanya Ibu Nella.
Mita menjawab dengan mengangguk.
“Lalu kenapa kamu nekad ke sini?” tanya Ibu Nella.
“Mau jenguk Mama,” jawab Mita dengan pelan.
“Kandunganmu sudah berapa bulan?” tanya Ibu Nella.
“Dua bulan,” jawab Mita.
“Jaga kandunganmu baik-baik,” ujar Ibu Nella.
“Iya, Mah,” jawab Mita.
Kemudian mereka hanya diam tidak tau mau bicara apa. Mita tidak berani bicara banyak karena takut salah bicara. Akhirnya ia teringat dengan makanan yang ia bawa.
“Mama sudah makan?” tanya Mita.
“Belum. Mama tidak bisa makan perut Mama mual,” jawab Ibu Nella.
“Mita bawa nasi tim untuk Mama. Mita suapi, ya?” tanya Mita.
“Heem.” Ibu Nella mengangguk tanda setuju.
Mita keluar dari kamar untuk mengambil nasi tim. Sepuluh menit kemudian ia baru kembali membawa nasi tim.
“Maaf lama. Tadi Mita memanaskan nasi tim dulu,” kata Mita.
Mita menaruh nasi tim di atas nakas lalu ia mengangkat kepala Ibu Nella. Ia menumpuk bebetapa bantal di bawah kepala Ibu Nella.
“Pusing nggak, Ma?” tanya Mita.
“Nggak,” jawab Ibu Nella.
Mita mengambil nasi tim lalu menyuapi Ibu Nella. Ibu Nella mengunyah pelan-pelan makanannya. Diam-diam Pak Bakhtiar membuka pintu kamar dan mengintip dari luar. Ia melihat istrinya sedang disuapi oleh Mita.
“Alhamdullilah,” ucap Pak Bakhtiar.
Akhirnya istrinya mau menerima kehadiran Mita.
__ADS_1