
Hari sabtu pagi rumah Hisyam dan Mita terlihat lebih ramai dari biasanya. Rumah mereka kedatangan orang tua Mita, orang tua Hisyam dan keluarga dekat mereka. Hari ini adalah hari pernikahan ulang Hisyam dan Mita. Hisyam memutuskan menikah ulang karena sewaktu mereka menikah Mita sedang hamil anak Arifin bukan anak Hisyam. Agar lebih sah Hisyam memutuskan untuk melakukan ijab qobul kembali dengan Mita.
Pernikahan ulang ini Hisyam dan Mita tidak mengundang banyak tamu. Pernikahan ini hanya dihadiri orang tua dan keluarga yang terdekat. Pukul sembilan Pak Penghulu datang tanda akad nikah akan segera dimulai. Hisyam duduk di hadapan Pak Emir. Ia menggunakan setelan suit hitam, kemeja putih serta dasi yang warnanya sesuai dengan warna suit hitam. Sebagai saksi adik dari Pak Bakhtiar dan kakak dari Pak Emir.
Setelah semua sudah siap barulah Mita keluar dari kamarnya di dampingi oleh Ibu Emilia. Sedangkan Ibu Nella duduk bersama dengan para tamu sambil menggendong Azam. Mita menggunakan gamis berbahan brokat berwarna putih serta kerudung berwarna putih. Mita duduk di sebelah Hisyam. Kemudian ijab qobul pun dimulai.
Dalam satu tarikan terdengar suara sah dari para saksi. Kini Mita sudah benar-benar resmi menjadi istri Hisyam. Mita mencium tangan Hisyam dan Hisyam mencium kening Mita. Setelah selesai Hisyam dan Mita difoto berdua. Mereka bagaikan pengantin baru yang berbahagia.
Tiba-tiba terdengar suara rengekan Azam yang ingin digendong oleh Mita.
“Ma ma ma ma ma ma nye nyen.” Azam merengek sambil mengulur kedua tangannya ingin digendong oleh Mita.
Ibu Nella menggendong Azam lalu mendekati Mita. Mita pun menggendong Azam.
“Nye nyen,” rengek Azam sambil memegang dada mamanya.
__ADS_1
“Nanti dulu nye nyennya. Sekarang Azam di foto dulu sama Mama dan Papa,” kata Hisyam menenangkan anaknya.
Seperti sudah biasa difoto, Azam pun mulai berpose sambil memperlihatkan gusinya yang belum tumbuh gigi. Hisyam dan Mita difoto bersama dengan Azam. Setelah selesai di foto barulah Mita membawa Azam ke kamar untuk disusui.
Sudah setengah jam Azam di susui namun belum juga tidur. Mita membawa Azam keluar dari kamar. Ibu Emilia menghampiri Mita.
“Sini Azam sama nenek.” Ibu Emilia menggendong Azam. Ia jarang bertemu dengan Azam karena ia sibuk membantu suaminya berdagang ikan di pasar. Jika ada kesempatan seperti ini dipergunakan sebaik mungkin oleh Ibu Emilia untuk bermain bersama cucu.
Mita duduk bergabung bersama suami dan keluarganya.
“Nggak kemana-mana, Pa. Di rumah saja. Hisyam harus praktek dan Mita harus kuliah,” jawab Hisyam.
“Bulan madu, dong. Walau cuma menginap sehari di hotel. Minggu depan long week end. Ada kesempatan kalian untuk bulan madu,” ujar Pak Bakhtiar.
“Azam ikut ya, Pa?” tanya Mita kepada Pak Bakhtiar.
__ADS_1
“Oh, jangan! Azam di rumah saja sama Mama dan Papa. Ibu dan Ayah kan sibuk dagang di pasar. Jadi Azam sama Mama dan Papa,” jawab Pak Bakhtiar.
“Nanti merepotkan Mama dan Papa,” kata Mita.
“Tidak, ah. Justru Mama dan Papa senang karena di rumah ada cucu,” jawab Pak Bakhtiar.
“Kalian mau bulan madu di mana? Lembang? Ciater? Atau mau di hotel kota Bandung? Kalian pilih tempatnya! Nanti Papa booking tempat,” ujar Pak Bakhtiar.
“Tidak usah, Pa. Terima kasih. Biar Hisyam booking sendiri,” jawab Hisyam.
“Papa saja yang booking. Kalian tinggal datang menginap,” ujar Pak Bakhtiar.
Hisyam menghela napas. Papanya selalu saja tidak mau kalah, semua keinginannya harus turuti tidak boleh berkata tidak. Hisyam menoleh ke Mita.
“Kamu mau menginap dimana?” tanya Hisyam.
__ADS_1
“Mita mau menginap di…..”