Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
38. Paduka Baginda Raja Hisyam Bakhtiar


__ADS_3

Hari ini adalah pembukaan rumah sakit bersalin milik Hisyam. Banyak tamu yang di undang di acara pembukaan rumah sakit bersalin ini. Tamu yang diundang terdiri dari keluarga, teman-teman Hisyam dan Mita, rekan-rekan bisnis Pak Bakhtiar dan teman-teman sejawat Hisyam.


Pesta pembukaan berlangsung secara meriah. Tamu undangan hampir semua hadir di acara pembukaan ini. Nampak Mita yang wara wiri dengan perutnya yang mulai membesar. Ia sekarang sudah hamil lima bulan. Mita sedang sibuk memastikan jika hidangan untuk para tamu apakah sudah siap atau belum? Ia tidak ingin mengecewakan tamu yang datang.


Azam mengikuti kemana saja mamanya pergi. Anak itu rasa ingin taunya cukup besar. Ibu Emilia memperhatikan putrinya yang tidak bisa diam dengan perutnya yang mulai membesar. Ia menghampiri putrinya.


“Mita! Kamu duduk saja tidak usah cape bulak-balik seperti itu!” kata Ibu Emilia.


“Urusan makanan sudah ada catering yang mengatur. Kamu tinggal duduk dengan manis di sebelah Hisyam!” lanjut Ibu Emilia.


“Iya, Bu. Mita mau memastikan dulu kalau hidangannya sudah siap tersedia,” jawab Mita. Mita masih saja berkeliling memperhatikan hidangan yang akan di sajikan.


“Mita! Sudah, Mita. Sekarang kamu duduk! Kasihan bayi-bayi di dalam kandunganmu kalau kamu cape.” Ibu Emilia membimbing Mita agar kembali ke tempat duduk.


“Azam! Ayo ikut, Nenek!” ujar Ibu Emilia. Azam mengikuti nenek dan mamanya.


Mita duduk kembali di sebelah Hisyam. Sedangkan Azam duduk bersama neneknya.


“Kamu darimana?” tanya Hisyam sambil berbisik.


Sekarang ini mereka sedang mendengarkan sambutan dari ketua IDI.


“Habis ngecek makanan,” jawab Mita.


“Ngapain ngecek, makanan? Kan, sudah ada catering yang mengurus,” bisik Hisyam.


“Mita cuma memastikan kalau hidangannya sesuai dengan rencana,” jawab Mita.


“Diam di sini sama Abang!” Hisyam mengambil tangan Mita lalu mengecupnya. Ia pun menggenggam tangan Mita di atas pangkuannya.


Setelah kata sambutan dari tamu yang hadir, sekarang tibalah saatnya peresmian pembukaan rumah sakit bersalin. Pembukaan dilakukan dengan pengguntingan pita oleh Ketua IDI. Setelah pengguntingan pita para tamu diajak  berkeliling untuk melihat fasilitas yang ada di rumah sakit tersebut.


Setelah berkeliling melihat rumah sakit, para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan. Hisyam mempersilahkan tamu-tamunya untuk menikmati hidangan. Tiba-tiba seorang satpam datang menghampiri Hisyam.


“Pak Dokter, ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Dokter,” kata satpam itu.


“Siapa?” tanya Hisyam.

__ADS_1


“Namanya Joko Tingkir. Dia datang dengan menggunakan ambulan. Ia membawa seorang pasien,” jawab satpam.


“Pasien apa? Ibu-ibu mau melahirkan?” tanya Hisyam.


“Bukan, Pak. Pasiennya ibu-ibu dengan luka melepuh sambil merintih ke sakitan,” jawab satpam.


Mita memperhatikan ketika satpam itu mengatakan sesuatu kepada Hisyam. Mita penasaran, ia pun menghampiri Hisyam.


“Ada apa?” tanya Mita kepada Hisyam.


“Ini ada yang datang membawa pasien, tapi bukan ibu-ibu yang akan melahirkan,” jawab Hisyam.


“Kenapa di bawa ke sini? Kenapa bukan ke rumah sakit umum?” tanya Mita.


“Itu, Bu. Katanya cuma Pak Dokter Hisyam yang bisa menyembuhkan penyakit istrinya,” jawab satpam.


“Memang sakit apa, Bang?” tanya Mita.


“Abang juga tidak tau,” jawab Hisyam.


“Abang temui saja! Mumpung semua tamu sedang makan,” kata Mita.


Seorang laki-laki separuh baya keluar dari mobil ambulan. Ia menghampiri Hisyam dan langsung mencium tangan Hisyam.


“Ampun paduka baginda raja Hisyam Bakhtiar,” ujar Joko Tingkir.


Hisyam langsung menarik tangannya. “Apa-apaan ini?!” seru Hisyam dengan kesal.


“Maafkan atas kekurang ajaran saya, Pak Dokter. Hanya Pak Dokter yang bisa menyembuhkan istri saya,” ucap Joko Tingkir.


“Istri Bapak sakit apa?” tanya Hisyam.


Joko Tingkir membuka pintu ambulance. Di dalam ambulan ada seorang wanita paruh baya yang kulitnya hitam dan melepuh. Wanita itu merintih kesakitan. Mita melihatnya langsung menutup matanya dengan tangan.


“Kenapa istri Bapak dibawa ke sini? Saya ini dokter spesialis kandungan, bukan dokter spesialis internis dan dokter spesialis  kulit. Sepertinya istri Bapak harus dibawa ke rumah sakit umum,” ujar Hisyam.


“Ada yang harus saya katakan tentang istri saya kepada Pak Dokter,” kata Joko Tingkir.

__ADS_1


Joko Tingkir menceritakan apa yang sudah Harumi perbuat terhadap Hisyam. Bahkan ia memberitahu siapa yang menyuruh istrinya. Mita mendengarkan cerita Joko Tingkir sambil bergidik ngeri.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Hisyam setelah mendengar cerita Joko Tingkir.


“Pak, dengarkan! Saya tidak punya kekuatan apapun. Saya ini hanya manusia biasa yang minta perlindungan kepada Allah SWT,” ujar Hisyam.


“Tapi kekuatan Pak Dokter bisa membalikkan semuanya kepada istri saya dan Dokter Tio,” kata Joko Tingkir.


“Waktu itu anak saya sedang sakit, saya dan istri saya berdoa agar anak kami cepat sembuh. Sudah, itu saja. Tidak ada ritual yang lain,” ujar Hisyam.


“Waktu itu anak Pak Dokter sudah terkena santet yang dikirim oleh istri saya. Tapi Pak Dokter sudah mengirim balik santet itu kepada istri saya dan Dokter Tio,” kata Joko Tingkir.


“Tolong lakukan hal yang sama kepada istri saya, seperti Pak Dokter lakukan kepada anak Pak Dokter. Agar santet itu pergi dari istri saya,” lanjut Joko Tingkir.


“Baiklah akan saya bantu. Tapi nanti Bapak harus melakukannya sendiri di rumah! Bapak bisa mempelajari dari youtube,” ujar Hisyam.


Hisyam mulai membacakan ayat kursi dan surat-surat pendek lainnya. Harumi terlihat jejeritan ketika Hisyam membacakan ayat kursi dan surat-surat pendek. Mita mengumpet dibalik tubuh Hisyam karena ketakutan. Namun lama kelamaan Harumi menjadi tenang.


“Ibu, coba dengarkan saya! Ikuti apa yang saya katakan!” seru Hisyam.


Hisyam membimbing Harumi seperti membimbing orang yang hendak meninggal. Harumi mengikuti perkataan Hisyam walaupun terasa sulit.


“Nanti Bapak lakukan berulang kali di rumah! Agar istri Bapak terbiasa mengucapkannya,” ujar Hisyam.


“Baik, Pak Dokter,” jawab Joko Tingkir.


“Semoga lekas sembuh istrinya,” kata Hisyam.


“Lekas sembuh ya, Bu!” ujar Hisyam kepada Harumi.


Harumi menjawab dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Joko Tingkir menutup pintu ambulance.


“Terima kasih banyak, Pak Dokter,” ucap Joko Tingkir.


“Sama-sama, Pak,” jawab Hisyam.


Joko Tingkir masuk ke dalam mobil dan ambulance pun meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Hisyam menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja kejadian ia alami hari ini.

__ADS_1


“Ayo, kita masuk.” Hisyam merangkul bahu Mita, mereka pun masuk ke dalam rumah sakit.


__ADS_2