
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah mereka. Mita tidak menceritakan kejadian tadi pagi kepada suaminya. Ia takut Hisyam menjadi emosi dan mengganggu konsentrasi Hisyam ketika sedang menyetir. Mita memutuskan untuk menceritakan nanti saja kalau sudah sampai di rumah.
Hisyam menoleh ke kaca spion mobilnya. Ia merasa ada mobil yang sedang membuntuti mereka.
“Itu mobil siapa, ya?” tanya Hisyam. Pandangan matanya ke depan dan juga memperhatikan kaca spion tengah dan samping.
Mita yang sedang memperhatikan jalan langsung menoleh ke Hisyam. “Kenapa, Bang?” tanya Mita.
“Ada mobil membuntuti kita,” jawab Hisyam.
Mita menoleh ke belakang memperhatikan ke mobil yang berada di belakang mobil Hisyam. Tapi ia tidak mengenal itu mobil siapa? Mita kembali menghadap ke depan.
“Mobil yang di belakang mobil kita?” tanya Mita.
“Iya,” jawab Hisyam.
“Kamu tahu itu mobil siapa?” tanya Hisyam.
“Mita tidak mengenal mobil itu,” jawab Mita.
Akhirnya mereka sampai di rumah mereka. Hisyam turun dari mobil untuk membuka pintu pagar. Ia menoleh ke belakang dan memandangi ke mobil yang membuntuti mereka. Mobil itu berhenti agak jauh dari rumah Hisyam.
Hisyam membuka pintu pagar lalu memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan memarkirkan mobil di halaman. Nanti malam Hisyam harus praktek di apotik, jadi ia tidak perlu memasukkan mobil ke dalam garasi.
Hisyam turun dari mobil lalu ia berjalan menuju ke pintu pagar. Ia menoleh ke arah mobil tersebut. Mobil itu masih berada di tempat semula. Kemudian Hisyam menutup pintu pagar.
Tiba-tiba pintu depan rumah mereka terbuka Azam berlari keluar rumah. “Hole Mama cudah puyang,” kata Azam.
Azam memeluk kaki Mita. Kepalanya menengadah ke atas menatap Mita. Mita mengusap kepala Azam.
“Abang Azam sudah mandi, belum?” tanya Mita.
“Bolom. Abang balu bangun tidul,” jawab Azam.
“Gendong!” kata Azam dengan manja.
“Mama sedang hamil jadi tidak boleh menggendong Abang,” ujar Mita.
Hisyam menghampiri Mita dan Azam.
“Sini Papa gendong,” ujar Hisyam.
__ADS_1
Azam mengangkat kedua tangannya pertanda ia ingin digendong. Hisyam menggendong Azam lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Ketika mereka hendak masuk ke dalam rumah, mobil yang membuntuti mereka melewati depan rumah mereka. Hisyam menoleh keluar dan memperhatikan mobil tersebut. Terlihat dari balik kaca jendela si pengemudi mobil menoleh ke arah rumah mereka. Hisyam memandang tajam ke pengemudi tersebut. Mita menoleh ke suaminya yang sedang memandang tajam mobil tersebut.
“Siapa, Bang?” tanya Mita.
“Abang juga tidak tau,” jawab Hisyam.
“Ayo kita masuk!” Mereka masuk ke dalam rumah.
Ketika mereka sedang beristirahat di dalam kamar, Mita menceritakan apa yang terjadi di kampus tadi pagi. Lebih baik ia menceritakan langsung kepada suaminya daripada suaminya tahu dari mulut orang lain. Hisyam mendengarkan semua apa yang Mita ceritakan.
“Berengsek tuh dosen! Semestinya kalau dia tidak mau menerima tugas kamu, ya tolak saja. Tidak usah pakai syarat seperti itu,” kata Hisyam dengan kesal.
“Lagi pula bukan keinginan kamu tidak bisa mengumpulkan tugas. Tapi kondisi kamu yang tidak memungkinkan untuk datang ke kampus,” ujar Hisyam.
“Kapan kamu ada mata kuliah dosen itu?” tanya Hisyam.
“Besok, Bang,” jawab Mita.
“Besok Abang ke kampus kamu untuk menemui dosen berengsek itu. Kalau perlu sekalian Abang laporkan dia ke rektor,” ujar Hisyam.
“Tidak usah, Bang! Biarkan saja. Yang penting Mita tidak meladeni perkataan dia,” kata Mita.
“Kalau dia macam-macam lagi sama kamu, bilang ke Abang! Akan Abang beri dia pelajaran!” seru Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
“Hati-hati di rumah. Jangan membuka pintu sembarangan kalau ada yang mengetuk pintu!” ujar Hisyam.
“Iya, Bang,” jawab Mita.
“Abang pergi dulu. Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
Mita mencium tangan suaminya. Kemudian Hisyam membalasnya dengan mencium kening Mita.
“Waalaikumsalam,” jawab Mita.
Hisyam berjalan menuju ke mobilnya lalu mobil Hisyam melaju meninggalkan halaman rumah mereka. Mbok Narti menutup pintu pagar dan menggembok pintu pagar. Setelah itu Mita dan Mbok Narti masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
***
Keesokan harinya Mita mengikuti mata kuliah management strategi yang diajar oleh Dwi. Ketika Dwi masuk ke dalam kelas ia kaget melihat Mita yang hadir di kelasnya. Ia mengira Mita tidak akan pernah lagi mengikuti kelasnya, ternyata perkiraan dia meleset.
__ADS_1
Selama Dwi sedang mengajar Mita bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Sesekali Dwi melirik ke arah Mita namun Mita fokus pada tulisan pada white board di depan.
Hingga akhirnya dua jam berlalu dan kelas managemen strategi berakhir. Semua mahasiswa keluar dari kelas. Ketika Mita hendak keluar dari kelas, Dwi memanggilnya.
“Mita. Bisa tunggu sebentar?”
Mita tidak jadi keluar dari kelas. Ia duduk kembali, menunggu mahasiswa yang lain keluar dari kelas. Setelah kelas kosong, Mita baru menghampiri Dwi. Ia berdiri di depan meja Dwi.
“Ada apa, Pak?” tanya Mita.
“Mana tugas kamu yang kemarin?” tanya Dwi.
“Untuk apa, Pak?” tanya Mita.
“Untuk kamu kumpulkan,” jawab Dwi.
“Tapi saya sudah telat mengumpulkannya. Dan saya tidak bisa memenuhi syarat yang Bapak ajukan,” kata Mita.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti kenapa kamu menolak ajakan saya,” ujar Dwi.
Mita mengerutkan keningnya. Ia bingung mengapa Dwi tiba-tiba berubah? Padahal kemarin Dwi menganggapnya mengada-ngada. Mita memandang Dwi dengan curiga. Ia takut Dwi memasang jebakan.
“Kenapa kamu memandang saya seperti itu?” tanya Dwi.
“Bapak tidak sedang main-mainkan?” tanya Mita dengan nada curiga.
“Tidak. Saya serius,” jawab Dwi.
Mita membuka expanding file lalu mengeluarkan tugas managemen stategi dari dalam expanding file. Kebetulan tadi pagi ia tidak mengeluarkan tugas itu dari dalam expanding file sehingga ia membawa tugas itu. Dengan ragu-ragu Mita menyerahkan tugasnya kepada Dwi. Dwi mengambil tugas itu.
“Kamu boleh pulang!” ujar Dwi. Mita meninggalkan kelas tersebut.
Dwi menyandarkan punggungnya ke kursi lalu ia menghela nafas. Ia teringat kejadian kemarin sore. Ketika ia hendak pulang tanpa sengaja ia melihat Mita masuk ke sebuah mobil. Mita tersenyum bahagia ketika masuk ke dalam mobil. Pengemudi di dalam mobil itu sulit untuk dilihat karena kaca mobil itu terlalu gelap. Tapi sepertinya itu bukan mobil taksi online karena Mita duduk di sebelah supir. Dwi jadi penasaran siapa laki-laki yang beruntung tersebut. Terbesit ide dalam pikirannya untuk mengikuti mobil tersebut.
Dwi mengikuti mobil tersebut sampai ke rumah Mita. Dan ketika sampai di depan rumah Mita, pengemudi itu turun dari mobil. Laki-laki itu memandang ke arah mobilnya seperti curiga. Ia memadang tajam ke arah mobilnya. Dwi terpaksa parkir agak lama di dekat rumah Mita supaya laki-laki itu tidak curiga lagi.
Ketika mobil itu sudah masuk ke dalam halaman rumah dan laki-laki itu menutup pintu pagar, Dwi memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sambil melewati depan rumah Mita untuk menuntaskan rasa penasarannya. Ketika ia melewati depan rumah Mita, ia melihat laki-laki itu menggendong seorang anak batita dan Mita berdiri di sebelahnya. Mereka nampak seperti keluarga yang bahagia. Rupanya yang menjemput Mita adalah suami Mita.
Suami Mita memandang tajam ke arahnya dan ia pun menambah kecepatannya agar cepat melewati rumah Mita. Dwi menghela nafas kalau mengingat kejadian kemarin. Dia sudah kedahuluan oleh laki-laki lain.
Sejak pertama ia mengajar di kelas managemen stategi ia sudah tertarik dengan paras cantik Mita. Gadis itu terlihat begitu serius ketika ia sedang menerangkan di depan kelas. Kalau sedang tersenyum ia terlihat sangat manis sekali.
__ADS_1
Mita termasuk mahasiswa yang rajin masuk kuliah dan rajin mengumpulkan tugas. Namun, entah mengapa minggu kemarin Mita tidak masuk dan telat mengumpulkan tugas. Hal itu digunakan Dwi untuk bisa berkenalan lebih dekat dengan Mita.
Tapi di luar dugaan Mita menolak ajakannya dengan alasan ia sudah menikah. Dwi merasa itu cuma akal-akalan Mita, Mungkin Mita sudah punya pacar. Dwi pantang menyerah selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan untuk mendekati Mita. Ternyata dugaannya salah, Mita sudah ada yang punya. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat suami dan anak Mita. Sepertinya ia harus ikhlas melepas Mita.