
Mita berjalan menyusuri kooridor sekolah. Para siswa dan siswi yang berada di kooridor memandanginya dari atas sampai bawah seolah-olah merendahkannya. Ada juga yang berbisik-bisik ketika melihatnya. Terlihat seperti sedang membicarakannya.
Apa ada, sih? Kok ngelihatinnya begitu banget, tanya Mita di dalam hati.
Mita tidak memperdulikan mereka, ia terus saja berjalan menuju kelasnya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
“Mitha!”
Mita menoleh ke belakang. Silvy sedang berlari ke arahnya. Setelah mendekat Silvy langsung memegang tangan Mita dan menariknya dari tempat itu. Mita kewalahan mengikuti jalan Silvy karena Silvy jalannya cepat sekali. Ia merasa sakit pada perut bagian bawah. Ia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
“Jangan cepat-cepat dong, Sil! Aku masih kekenyangan, nih,” kata Mita berbohong.
Silvy terus saja berjalan. Ia membawa Mita ke tempat yang sepi.
“Ada apa sih, Sil?” tanya Mita.
“Sssttt.” Silvy menyuruh Mita untuk diam.
Silvy memperhatikan di sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang lain. Setelah benar-benar aman Silvy mengeluarkan ponselnya dari kantong kemejanya. Ia mencari sesuatu di ponselnya.
“Ini bener kamu?” Silvy memberikan ponselnya kepada Mita.
Mita memperhatikan sebuah video yang ada di ponsel Silvy. Video ketika Hisyam memberikan uang kepada Mita. Diantara siswa siswi yang melewat di depan mobil Hisyam ada yang merekam ketika Hisyam memberikan uang kepada Mita.
“Kapan kamu dapat video ini?” tanya Mita.
“Tadi malam, Tutus yang mengirim ke aku. Katanya dari sumber yang bisa dipercaya,” jawab Silvy.
“Bener nggak, itu kamu?” tanya Silvy.
“Iya, bener. Itu aku. Sewaktu Bang Hisyam memberikan uang untuk membeli seragam,” jawab Mita.
“Sebenarnya Bang Hisyam siapa kamu, Mit? Kok sampai membelikan seragam untuk kamu?” tanya Silvy dengan curiga.
“Maaf, Sil. Aku nggak bisa cerita sama kamu. Suatu hari nanti kamu juga akan tau siapa Bang Hisyam. Tapi yang jelas aku bukan sugar baby dan Bang Hisyam bukan sugar daddyku,” jawab Mita.
“Iya, nggak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu,” kata Silvy.
“Ayo kita ke kelas sebentar lagi bel,” ujar Mita.
Mita dan Silvy berjalan menuju kelas mereka. Ketika masuk ke dalam kelas teman-teman Mita menatap Mita dengan pandangan menjijikan namun Mita acuh saja tidak menanggapi mereka.
“Eh, Mita datang. Dapat berapa semalam?” tanya Tutus tiba-tiba.
Silvy langsung menoleh ke Tutus.
“Tutus! Jaga mulut kamu! Tidak boleh begitu sama teman sendiri!” seru Silvy.
Mita hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Tutus.
“Biarin saja. Biar semua orang tau ternyata Mita sugar baby. Pantasen saja Arifin kecelakaan sampai meninggal, mungkin dia tau kalau kekasihnya ternyata sugar baby,” kata Tutus dengan seenaknya.
“Tutus!” seru Silvy dengan kencang.
“Sil, kita-kita sudah iri melihat Mita punya pacar yang tampan dan tajir. Eh, nggak taunya sugar daddy,” lanjut Tutus.
Mita kesal mendengar perkataan Tutus. Mita langsung berdiri.
“Bang Hisyam bukan sugar daddy!” seru Mita dengan kesal.
__ADS_1
“Terus apa, dong kalau bukan sugar daddy? Om-om senang?” tanya Tutus.
“Kalau nggak tau, nggak usah sok tau!” jawab Mita.
Akhirnya terjadi percekcokan antara Mita dan Tutus. Mereka saling adu mulut tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Silvy berusahan untuk memisahkan Tutus dan Mita namun keduanya tidak mau berhenti. Mendengar suara ribut-ribut siswa dan siswi yang lain datang menghampiri kelas Mita untuk menonton percekcokan Mita dengan Tutus.
Tiba-tiba seorang guru datang ke kelas Mita.
“Ada apa, ini?” tanya guru itu dengan suara yang keras. Mita dan Tutus langsung berhenti.
“Mita duluan, Bu,” jawab Tutus.
“Bohong, Bu! Tutus memfitnah saya,” sahut Tutus.
Tutus dan Mita cekcok kembali. Guru tersebut menghela nafas melihat Mita dan Tutus kembali cekcok.
“Kalian berdua ikut Ibu ke ruang BP!” seru guru tersebut.
Mita dan Tutus akhirnya berhenti. Mereka mengikuti guru tersebut ke ruang BP. Para siswa-siswi yang berdiri di lorong memperhatikan Mita dan Tutus yang mengikuti guru. Akhirnya mereka sampai di ruang BP. Guru tersebut menerangkan kepada guru BP apa yang terjadi pada Mita dan Tutus. Guru BP menoleh ke Mita dan Tutus.
“Duduk kalian!” kata guru BP.
Mita dan Tutus duduk di depan meja guru BP. Guru yang tadi meleraikan Mita dan Tutus pergi menginggalkan ruang BP dan menyerahkan mereka pada guru BP.
“Coba kalian ceritakan apa yang terjadi!” ujar guru BP.
Tutus menceritakan versinya kepada guru BP. Guru BP menghela nafas mendengar cerita Tutus.
“Benar begitu, Mita?” tanya guru BP.
“Tidak benar, Bu,” jawab Mita.
“Sekarang kalian panggil orang tua kalian masing-masing! Kalian tidak boleh pulang kalau orang tua kalian belum datang untuk menjemput kalian!” ujar guru BP.
“Bu, yang bermasalah kan Mita bukan saya. Kenapa orang tua saya juga dipanggil?” tanya Tutus.
“Justru awal permasalahannnya dari kamu. Kamu tidak bisa memfitnah orang sembarangan!” jawab guru BP.
Mita mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Ia menatap ponselnya, ia bingung harus menelepon siapa? Orang tuanya atau Hisyam? Karena mereka sedang sibuk bekerja. Akhirnya Mita menelepon salah satu diantara mereka. Ketika menelepon Mita menjauh dari Tutus dan guru BP agar tidak didengar oleh mereka.
***
Mita dan Tutus duduk termenung di ruang BP. Mereka dilarang memaikan ponsel oleh guru BP. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Assalamualaikum,” ucap seseorang dari luar.
“Waalaikumsalam.” Guru BP membuka pintu, Hisyam berdiri di depan pintu. Guru BP tercengang melihat Hisyam yang sangat tampan.
“Cari siapa, Pak?” tanya guru BP.
“Saya wali dari siswa yang bernama Mita,” jawab Hisyam.
“Maaf, Bapak siapanya Mita?” tanya guru BP.
“Saya suami Mita,” jawab Hisyam.
Guru BP itu terkejut mendengar perkataan Hisyam. Tutus juga ikut terkejut mendengarnya.
“Benar ini suami kamu, Mit?” tanya guru BP.
__ADS_1
“Benar, Bu!” jawab Mita.
“Bohong, Bu! Dia sugar daddy Mita,” sahut Tutus.
“Diam kamu, Tutus! Ibu tidak tanya kamu,” seru guru BP.
“Kalau Ibu tidak percaya, Ibu tanya saja sama Ayah.” Mita mengambil ponselnya dari dalam saku lalu menelepon ayahnya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Emir.
“Waalaikumsalam. Yah, guru BP Mita mau bicara sama Ayah,” jawab Mita.
Mita memberikan ponselnya kepada guru BP. Lalu guru BP berbicara dengan Pak Emir dan menanyakan apakah betul kalau Hisyam adalah suami Mita. Pak Emir menjawab benar kalau Hisyam adalah suami Mita. Mereka baru menikah beberapa hari yang lalu. Alasan Mita cepat menikah karena Hisyam ingin secepatnya memperistri Mita. Setelah mendapat penjelasan dari Pak Emir akhirnya guru BP percaya kalau Hisyam adalah suami Mita.
“Silahkan duduk, Pak!” ujar guru BP.
Hisyam duduk di kursi tamu. Guru BP menjelaskan apa yang terjadi. Hisyam mendengar penjelasan guru BP. Tutus memandangi wajah Hisyam dengan terkagum-kagum.
G1l4 si Mita ditinggal Arifin dapat cowok yang lebih tampan dan tajir, kata Tutus di dalam hati.
“Hei! Jangan lihat-lihat! Itu suami aku,” bisik Mita ke Tutus.
“Kamu kenal dia dimana?” tanya Tutus.
“Dimana saja, kepo banget,” jawab Mita.
Hisyam menghela nafas mendengar penjelasan guru BP. Inilah yang Hisyam takutkan cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar sedikit demi sedikit. Sebelum Mita ketahuan hamil Hisyam harus secepatnya memindahkan Mita.
“Saya akan memindahkan Mita ke homeschooling,” kata Hisyam.
“Sebaiknya begitu, Pak. Karena peraturan di sekolah kami tidak boleh ada murid yang menikah,” ujar guru BP.
Akhirnya Mita resmi keluar dari sekolah. Sebelum pulang Mita kembali ke kelasnya untuk mengambil tas. Ia diantar oleh guru BP. Sedangkan Hisyam menunggu di lobby sekolah.
Guru BP menerangkan kepada guru tersebut apa yang terjadi. Kebetulan guru itu adalah wali kelas Mita. Sebelum pulang Mita menghampiri Silvy terlebih dahulu. Silvy duduk di bangku barisan lain.
“Sil, aku pamit. Aku keluar dari sekolah. Aku akan homeschooling,” kata Mita.
Silvy kaget mendengarnya.
“Loh, kenapa?” tanya Silvy. Silvy bingung kenapa Mita sampai keluar dari sekolah padahal sebelumnya Mita belum pernah ada kasus di sekolah.
Mita memeluk Silvy. “Aku harus menurut sama suami. Bang Hisyam adalah suamiku,” bisik Mita.
Silvy langsung kaget mendengarnya. Mita melepaskan pelukannya.
“Sudah, ya. Aku pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Mita.
“Waalaikumsalam,” jawab Silvy.
Mita menghampiri guru yang sedang mengajar. Ia berpamitan kepada guru tersebut dan teman-temannya. Lalu ia pergi meninggalkan kelas itu untuk selama-lamanya. Mita berjalan menuju ke pintu luar dan menghampiri Hisyam yang sedang menunggu di lobby.
“Sudah?” tanya Hisyam.
“Sudah, Bang,” jawab Mita.
Hisyam merangkul bahu Mita. Mereka berjalan keluar sekolah.
__ADS_1