
Waktu terus berlalu, sampailah waktunya Mita untuk mengikuti sidang. Pak Bakhtiar menawarkan pengacara untuk mendampingi Mita namun, Mita menolak tawaran Pak Bakhtiar. Ia tidak mau merepotkan mertuanya. Ia akan menghadapinya sendiri tanpa didampingi oleh seorang pengacara.
Selama persidangan Hisyam menemani istrinya. Ia ijin tidak praktek untuk menemani istrinya sidang. Pak Bakhtiar dan Ibu Nella hadir selama persidangan untuk memberikan semangat kepada Mita. Orang tua Mita juga hadir selama persidangan. Mereka libur berjualan selama mengikuti sidang anaknya.
Pengadilan memanggil Hisyam untuk dijadikan saksi. Teman-teman Mita dan teman-teman Arifin menjadikan saksi bahwa Mita pernah menjalin hubungan dengan Arifin. Sebelumnya teman-teman Mita tidak pernah tau kalau Mita pernah hamil. Tapi setelah mereka dipanggil persidangan mereka baru tahu kalau Mita pernah mengandung anak Arifin. Dan sekarang diperebutkan hak asuhnya.
Setelah mengikuti persidangan beberapa kali akhirnya hakim memutuskan jika hak asuh Azam jatuh ke tangan Mita. Yang menjadi dasar hakim membuat keputusan tersebut karena selama hidupnya Arifin belum pernah mengatakan atau mengakui kalau Azam adalah anaknya. Sehingga tuntutan orang tua Arifin lemah secara hukum. Mita merasa lega ketika mendengar keputusan hakim. Akhirnya anak semata wayangnya tidak bisa diambil oleh orang tua Arifin.
Setelah mendengar keputusan hakim dan sidang ditutup. Setelah sidang selesai Mita menghampiri Hisyam. Hisyam tersenyum melihat istrinya. Mita langsung lari kepelukan Hisyam. Ia menangis bahagia di pelukan suaminya.
Hisyam mengusap kepala dan punggung Mita.
“Kamu hebat. Kamu bisa melaluinya,” puji Hisyam. Hisyam mengecup pucuk kepala Mita.
“Terima kasih dukungan Abang,” ucap Mita..
Ibu Nella dan Ibu Emilia menghampiri Mita. Mita melepas pelukannya. Pandangannya beralih kepada kedua wanita itu. Mita memeluk ibu Emilia.
“Ibuuuu.” Mita menangis dipelukan Ibu Emilia. Ibu Emilia mengusap punggung Mita.
“Sudahlah, Mita. Semuanya sudah berlalu,” ujar Ibu Emilia.
__ADS_1
Mita melepas pelukannya lalu berganti memeluk Ibu Nella. Ibu Nella mengusap-usap punggung Mita.
“Terima kasih, Ma. Atas dukungannya,” ucap Mita. Mita melepas pelukannya lalu mengusap air mata yang mengalir.
Teman-teman Mita menghampiri Mita. Silvi maju mendekati Mita.
“Maafkan aku, Mit. Aku tidak tau kalau pernah kamu mengalami keterpurukan. Aku teman yang jahat tidak bisa mengerti kalau teman sendiri sedang menghadapi masalah,” kata Silvy dengan menyesal.
“Tidak apa-apa, Sil. Ada Bang Hisyam yang menemani aku,” jawab Mita.
“Hem. Mentang-mentang ditemani cowok ganteng jadi lupa sama teman sendiri,” kata Silvy dengan mencibir.
“Tuh, kan. Benar,” kata Silvy dengan kesal.
Satu persatu teman-teman Mita menyalami Mita dan meminta maaf karena waktu itu tidak mengerti dengan keadaan Mita. Mita memahami mengapa mereka bersikap demikian.
Kemudian Mita menghampiri Ibu Gia dan Pak Dudi. Ia menyalami Ibu Gia dan Pak Dudi. Bagaimanapun juga mereka tetap kakek dan nenek Azam.
“Rumah Mita selalu terbuka jika Om dan Tante mau datang menjenguk Azam,” ujar Mita kepada Ibu Gia dan Pak Dudi.
Hakim mengatakan jika Ibu Gia dan Pak Dudi diperbolehkan datang mengunjungi Azam asalkan dalam pengawasan Mita.
__ADS_1
“Iya, Mit. Terima kasih,” ucap Ibu Gia.
“Kami permisi dulu,” ujar Pak Dudi.
Pak Dudi merangkul istrinya dan membawa keluar dari ruang sidang. Mita menatap punggung kedua orang tua itu.
Hisyam menghampiri Mita.
“Kita pulang, yuk.” Hisyam merangkul punggung Mita dan hendak membawanya keluar dari ruang sidang.
“Hisyam-Mita sekarang kita makan di restaurant,” ujar Ibu Nella.
“Ajak sekalian teman-teman kamu!” lanjut Ibu Nella.
“Tapi, Mah. Bagaimana dengan Azam? Kasihan dia di rumah tidak diajak,” kata Mita.
“Kalian jemput Azam dulu, dong! Kasihan cucu Mama kalau tidak dibawa,” jawab Ibu Nella.
“Baik, Mah,” jawab Mita.
Mit memberitahu kepada teman-temannya untuk ikut makan siang bersama dengan keluarga Mita. Dengan senang hati teman-teman Mita menerima ajakan Mita. Mereka pun beramai-ramai meninggalkan ruang sidang.
__ADS_1