Papa Untuk Bayiku

Papa Untuk Bayiku
25. Menjemput Azam


__ADS_3

Selesai pertarungan panas di atas ranjang mereka pun mandi zunub. Setelah itu mereka hanya rebahan di atas tempat tidur sambil menonton film. Malam harinya mereka tidak keluar kamar mereka memesan makan malam melalui layanan kamar. Karena mereka sudah cape.


“Bang. Kira-kira Azam lagi apa, ya?” tanya Mita. Ia rindu pada buah hatinya. Sehari tidak mendengar suara Azam rasanya seperti ada yang kurang.


“Coba telepon Mama. Tanya ke Mama, Azam lagi apa,” jawab Hisyam.


Mita mengambil ponselnya yang berada di atas nakas lalu ia menelepon Ibu Nella.


“Assalamualaikum,” ucap Ibu Nella.


“Waalaikumsalam. Ma, Azam sedang apa?” tanya Mita.


“Baru mau bobo. Tuh lagi ditimang-timang Papa,” jawab Ibu Nella.


“Azam rewel nggak, Ma?” tanya Mita.


“Nggak rewel. Anteng main sama Papa,” jawab Ibu Nella.


“Alhamdullilah kalau tidak rewel,” ucap Mita.


“Asinya masih ada?” tanya Mita.


“Masih ada. Tapi hanya cukup sampai besok pagi,” jawab Ibu Nella.


“Berarti masih cukup,” kata Mita.


Tiba-tiba terdengar suara rengekan Azam.


“Sudah dulu, Mit. Azam nangis minta digendong Mama,” ujar Ibu Nella.


“Iya, Ma. Assalamualaikum,” ucap Mita.


Mita mengakhiri percakapannya. Ia menghela nafas lalu menyimpan ponselnya di atas meja. Hatinya sedih mendengar Azam rewel. Azam terbiasa tidur sambil dipeluk Mita. Hisyam memperhatikan wajah Mita yang terlihat murung.


“Kenapa?” tanya Hisyam.


“Barusan Azam rewel. Minta digendong sama Mama. Kasihan Azam, dia pasti sedih jauh dari Mita,” jawab Mita.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, tinggal semalam lagi. Besok kan kita pulang,” ujar Hisyam.


“Sini.” Hisyam merentangkan tangannya agar Mita tidur di pelukannya. Mita tidur di atas tangan suaminya kemudian Hisyam memeluk tubuh Mita dan mengecup bibir Mita. Mereka kembali bermesraan.


***


Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi mereka check out dari hotel. Sebelum mereka pulang ke rumah mereka menjemput Azam di rumah Ibu Nella. Ketika sampai di depan rumah Ibu Nella, Mita langsung turun dari mobil. Ia  berjalan mendekati pintu pagar rumah mertuanya. Sedangkan Hisyam memarkirkan mobil.


“Assalamualaikum,” ucap Mita ketika berdiri di depan pintu pagar.


“Waalaikumsalam.” Pak Joko keluar dari dalam pos dan mendekati pintu pagar.


“Pak Joko, tolong bukakan pintu!” ujar Mita.


“Eh, Non Mita.” Pak Joko membuka pintu pagar.


Mita langsung masuk ke dalam rumah Ibu Nella melalui garasi.


“Assalamualaikum,” ucap Mita ketika masuk ke ruang keluarga. Azam sedang bermain dengan Pak Bakhtiar.


“Azam.” Mita berjalan mendekati Azam.


Azam menoleh ke arah Mita. “Ma ma ma ma,” celoteh Azam. Azam mengangkat kedua tangan minta di gendong oleh Mita. Mita jongkok di depan Azam lalu memeluk Azam.


“Azam, Mama kangen sama Azam,” ujar Mita. Ia mencium-cium wajah anaknya.


“Nye nyen.” Azam memegang dada Mita meminta susu.


“Kan tadi sudah minum susu,” ujar Ibu Nella.


Hisyam datang menghampiri mereka.


“Azam.” Hisyam memanggil Azam.


Azam menoleh ke Hisyam. “Pa pa pa pa,” celoteh Azam.


Hisyam mengulurkan tangannya hendak menggendong Azam tapi Azam menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Nggak mau digendong Papa?” tanya Hisyam.


“Nye nyen,” celoteh Azam sambil menepuk-nepuk dada Mita.


“Oh, mau susu aja,” ujar Ibu Nella.


Mita menggendong Azam menuju ke kursi sofa lalu ia duduk dan menyusui Azam. Azam minum susu sambil memegang kakinya. Hisyam duduk di sebelah Mita.


“Bagaimana dengan bulan madu kalian?” tanya Ibu Nella.


“Biasa saja, Mah. Namanya juga bulan di tengah kota,” jawab Hisyam.


“Tapi sukses, kan?” tanya Pak Bakhtiar.


“Apa-apaan sih, Pa!” seru Ibu Nella dengan melotot.


“Maksud Papa. Apa mereka bisa memberikan kita cucu lagi,” jawab Pak Bakhtiar.


“Azam masih kecil. Masa sudah mau dikasih adik? Kasihan Mita cape mengurus anak. Apalagi Mita sedang kuliah, nanti kuliahnya terbengkalai karena mengurus anak,” ujar Ibu Nella.


“Tenang saja nanti Papa kasih baby sitter mengurus anak-anak Mita,” kata Pak Bakhtiar.


“Sudah ada Bi Ijah yang membantu Mita,” kata Hisyam.


“Masih kurang, Zam. Papa kan mau cucu yang banyak. Jadi yang membantu Mita juga harus banyak,” ujar Pak Bakhtiar.


“Papa kira melahirkan gampang? Susah, Pah. Lagipula sakit sekali,” kata Ibu Nella dengan gemas.


“Tidak usah melahirkan normal. Di caesar aja biar tidak sakit,” ujar Pak Bakhtiar.


Ibu Nella langsung diam. Pecuma saja dilandenin, Pak Bakhtiar tidak mau kalah.


Azam selesai menyusu. Ia langsung bangun dan duduk di pangkuan Mita.


“Udah selesai nyusu? Ayo main lagi sama Kakek.” Pak Bakhtiar menggendong Azam lalu mengajaknya bermain mobil-mobilan.


Mita memperhatikan Azam yang sedang bermain bersama kakek dan neneknya. Ia bersyukur karena Pak Bakhtiar dan Ibu Nela mau menerima Azam sebagai cucu mereka.

__ADS_1


__ADS_2