
Sebuah mobil taksi online berhenti di depan TPU. Mita turun dari mobil tersebut.
“Terima kasih, Pak,” ucap Mita lalu ia menutup pintu mobil tersebut.
Mita berjalan memasuki TPU. Ia hendak berziarah ke makam Arifin. Semenjak ia menikah dengan Hisyam, Mita tidak pernah lagi berziarah ke makam Arifin. Tadi pagi ia minta ijin ke Hisyam untuk ziarah ke makam Arifin yang terakhir kalinya. Hisyam pun mengijinkan Mita pergi.
Sebetulnya Hisyam hendak mengantarkan Mita ke makam Arifin namun ia mendadak mendapatkan telepon dari rumah sakit. Salah satu pasiennya mengalami pecah ketuban. Jadi Hisyam harus ke rumah sakit untuk memberikan tindakan. Mita terpaksa pergi sendiri dengan menggunakan taksi online.
Sebelum ke makam Arifin Mita membeli bunga untuk ia taruh di atas makam Arifin. Setelah itu barulah ia berjalan menuju ke makam Arifin. Mita berjalan dengan hati-hati berjalan diantara makam. Hisyam berpesan kepada Mita untuk berjalan hati-hati ketika di makam, jangan sampai jatuh terpeleset. Mita memperhatikan apa yang Hisyam katakan.
Setelah sampai di makam Arifin, Mita jongkok di samping makam Arifin. Ia menebarkan bunga di atas makam Arifin. Setelah itu ia berdoa untuk arwah Arifin. Selesai berdoa Mita menceritakan semuanya kepada Arifin seolah-olah makam Arifin dapat mendengarkan ceritanya. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Hisyam dan pernikahannya dengan Hisyam. Ia juga menceritakan kalau Hisyam memperlakukannya dengan baik dan menganggap anak yang di dalam kandungan Mita seperti anaknya sendiri.
“Oh, jadi anak di dalam kandunganmu itu bukan anak Hisyam? Kamu sudah menipu kami.” Terdengar seperti suara seseorang yang Mita kenal. Mita menoleh ke belakang. Ia melihat Ibu Nella dan Pak Bakhtiar berdiri di belakangnya.
“Mama Papa.” Wajah Mita langsung berubah melihat mertuanya ada di belakangnya. Mereka mendengar apa yang Mita katakan. Mita pun berdiri. Ia seperti anak yang ketahuan berbuat salah oleh orang tuanya. Mita lupa kalau makam Arifin dekat dengan makam istri dan anak Hisyam sehingga kapan pun juga orang tua Hisyam datang ke makam tersebut.
Ibu Nella menatap Mita dengan tajam. Mita hanya bisa menundukkan kepala.
“Hisyam tau kalau anak itu bukan anaknya?” tanya Ibu Nella. Mita menjawab dengan mengangguk.
Ibu Nella menghela nafas ketika mengetahui jawabannya.
“Anak itu terlalu baik. Bahkan sampai mau menikahi perempuan yang dihamili orang lain,” kata Ibu Nella kepada suaminya.
“Sudahlah, Mah! Hisyam pasti punya alasan sendiri ketika menikahi Mita. Lagipula itu masalah rumah tangga Hisyam. Kita tidak usah ikut campur! Hisyam sudah dewasa,” ujar Pak Bakhtiar.
“Tapi Hisyam anak kita, Pah,” kata Ibu Nella.
Ibu Nella kembali memandang Mita dengan tajam. Mita sedang menangis.
“Kamu jangan pernah lagi memperlihatkan wajahmu di di hadapan kami. Kamu bukan menantu kami lagi!” seru Ibu Nella.
“Mama! Jangan bicara seperti itu! Kasihan Mita, dia sedang hamil,” ujar Pak Bakhtiar.
“Maafkan Mita, Mah,” ucap Mita sambil menangis.
“Ayo, Pah! Kita pergi dari sini! Mau ziarah ke makam Alvina dan Rori nggak jadi gara-gara ketemu perempuan ini,” kata Ibu Nella dengan kesal. (Alvina adalah almarhumah istri Hisyam, sedangkan Rori adalah almarhum anak Hisyam.)
Ibu Nella pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
“Ma, maafkan Mita.” Mita berlutut sambil menangis namun Ibu Nella tidak mau perduli.
Pak Bakhtiar kasihan melihat Mita. Ia tak tega melihat Mita seperti itu. Ia menghampiri Mita.
“Maafkan Mama ya, Mit. Biarkan Mamah tenang dulu. Baru nanti Mita bicara sama Mama,” ujar Pak Bakhtiar.
“Iya, Pa,” jawab Mita.
“Papa!” Dari jauh Ibu Della berteriak memanggil Pak Bakhtiar.
“Kamu hati-hati, ya! Papa pulang dulu,” kata Pak Bakhtiar. Pak Bakhtiar menyusul Ibu Nella.
Tinggallah Mita sendirian di makam sambil menangis. Ketika Mita hendak berdiri tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan matanya berkunang-kunang. Seketika Mita pingsan.
***
Hisyam baru saja selesai menolong pasien yang melahirkan. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering. Hisyam mengambil ponsel dari saku jas. Tertulis Mita callilng di ponselnya. Ia menjawab telepon dari Mita.
“Assalamualaikum,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam. Apakah Bapak keluarganya saudari Mita?” Yamg berbicara di ponsel itu bukan Mita tetapi seorang laki-laki.
“Ada apa dengan istri saya?” tanya Hisyam dengan cemas.
“Istri Bapak pingsan di makam,” jawab laki-laki itu.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Hisyam.
“Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana,” kata Hisyam.
Hisyam langsung mengakhiri pembicaraannya. Tanpa berlama-lama lagi Hisyam langsung berjalan menuju ke tempat parkir.
Sesampai di makam Hisyam langsung berjalan menuju ke makam Arifin. Ia masih hafal makam Arifin karena makam Arifin dekat dengan makan istri dan anaknya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Mita. Ia tidak melihat Mita. Ia hanya melihat petugas pembersih makam. Ia menghampiri petugas tersebut.
“Pak, tadi lihat orang yang pingsan di sini?” tanya Hisyam.
“Tadi di bawa ke kantor TPU, Pak,” jawab petugas itu.
Hisyam berjalan dengan cepat menuju ke kantor TPU yang terletak tidak jauh dari makam Arifin. Sesampai di kantor TPU Hisyam langsung masuk ke dalam kantor mencari Mita. Ia melihat Mita sedang berbaring di sofa sambil menangis. Ia ditemani oleh seorang wanita. Hisyam mendekati Mita.
__ADS_1
“Mita!” Hisyam memanggil Mita.
Mita menoleh ke Hisyam.
“Abang!” Tangisan Mita pun pecah ketika melihat Hisyam. Hisyam memeluk Mita. Ia membiarkan istrinya menangis dipelukannya. Setelah Mita merasa lega, Hisyam melepaskan pelukannya. Ia merapihkan rambut-rambut yang menutupi wajah istrinya.
“Kita pulang, ya,” ujar Hisyam dengan lembut. Mita menjawab dengan mengangguk.
Sebelum pergi Hisyam mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sudah menolong Mita. Kemudian mereka meninggalkan kantor TPU. Hisyam berjalan sambil memapah tubuh Mita. Tubuh Mita terlihat lemah. Mereka berjalan menuju mobil. Hisyam membukakan pintu untuk Mita lalu membantu Mita duduk di kursi mobil. Setelah itu barulah Hisyam masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Mita hanya diam tidak mengatakan apapun. Pandangannya tertuju keluar jendela mobil. Hisyam tidak menanyakan apapun. Ia membiarkan istrinya untuk tenang.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat di layar ponselnya Papa calling. Hisyam memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan lalu menjawab panggilan Pak Bakhtiar.
“Assalamualiaikum, Pa,” ucap Hisyam.
“Waalaikumsalam. Kamu dimana?” tanya Pak Bakhtiar.
“Hisyam baru menjemput Mita. Sekarang dalam perjalanan pulang,” jawab Hisyam.
“Syukurlah kalau kamu sudah menjemput Mita. Papa khawatir dengan keadaan Mita,” ujar Pak Bakhtiar.
“Sebetulnya apa yang terjadi, Pa?” tanya Hisyam.
Mita menoleh ke arah Hisyam. Ia takut Hisyam marah kepadanya karena kecerobohannya orang tua Hisyam mengetahui semuanya.
Pak Bakhtiar menceritakan semua yang terjadi di makam kepada Hisyam. Hisyam hanya diam dan mendengarkan cerita Pak Bakhtiar. Hisyam menghela nafas. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi.
“Baik, Pah. Hisyam mengerti,” kata Hisyam.
“Waalaikumsalam.” Hisyam mengakhiri pembicaraannya dengan papanya.
Mita menatap suaminya dengan tatapan merasa bersalah. Hisyam menoleh ke Mita lalu tersenyum. Ia mengusap rambut istrinya dengan lembut dan penuh rasa kasih sayang.
“Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja,” ujar Hisyam dengan lembut.
Mita tidak bisa disalahkan. Cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar. Hisyam bersyukur kejadian ini terbongkar dari Mita sendiri bukan dari orang lain. Kalau sampai dari orang lain, pasti mamanya akan lebih marah lagi.
Sekarang jalan yang terbaik adalah menenangkan mamanya. Kalau mamanya sudah tenang bisa diajak bicara baik-baik. Tapi dia juga harus menenangkan Mita dan memperhatikan perasaan Mita. Ia takut kejadian ini mempengaruhi psikologi Mita dan keadaan janin yang berada di kandungan Mita.
__ADS_1