
"Dek,tadi abang udah bikin sambel,tapi kamu suruh buang.Ya abang buanglah.Orang kamu nutup hidung terus dari tadi",Kata Hans panjang lebar.
"Masa sih?Ngga ah!"seru Anggi."Ya udah Anggi mau bikin sambal bawang dulu!",serunya lagi sambil beranjak dari kursinya.
Netra Hans sukses membulat dengan sempurna."Bukanya tadi juga sambal bawang ya?",gumannya pelan.
Tak berselang lama,Anggi sudah membawa secobek sambel bawang.Dia meletakkan cobeknya diatas meja sambil menghirup aromanya.
"Heeemmm aromanya mantap"guman Anggi kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
"Abang mau nasi putih,apa sega thiwul?",tanya Anggu.
Namun Hans masih mengeryitkan dahinya sambil menghirup-hirup sambal bawang buatan Anggi.
"Kenapa aromanya bisa beda dengan yang tadi ya?Yang ini enak,tapi kenapa yang tadi bawangnya bau banget?",gumannya pelan.
"Emang tadi abang nyambelnya pakai bawang putih berapa?",tanya Anggi.
"Dua siung Nggi",jawabnya masih sambil mengeryit.
"Terus cabenya berapa biji?",tanya Anggi lagi sambil memasukkan lauk pauk kedalam piring Hans.
"Lima",jawab Hans singkat.
"Ya ampun bang,pantas bau banget.Orang cabe lima abang kasih bawang putihnya dua siung ya kebanyakanlah bawangnya bang"
"Lalu abang kasih minyak goreng panas ngga?",cerocos Anggi layaknya kereta argolawu yang sedang melintasi rel .
"Ngga,emang harus dikasih ya?",tanya Hans lagi bingung.
"Iya bang,biar rasa dan aromanya juga enak.Ngga nyengat kaya tadi kan?",tanya Anggi sambil meletakkan nasi beserta lauk dan lalapan didepan Hans.
"Yuuk,dimakan bang!",seru Anggi lagi sambil duduk menghadap piringnya.
"Astaga abang sampai ngga nyadar loh dek,kalau udah kamu ambilin!",seru Hans."Makasih ya dek!",serunya lagi.
"Sama-sama bang.Kan udah jadi kewajiban Anggi",jawab Anggi.
Mereka pun kemudian melahap masakan Hans yang ternyata enak juga,hingga tanpa sadar Anggi sudah nambah sega thiwulnya.
Kita tinggalkan Anggi dan Hans yang sedang makan malam ala-ala kampung.
Beralih ke Rita dan Mayor Wira dihotel tempat mereka menginap.
Ketika sore menjelang,kedua pengantin baru itu baru tersadar dari tidur siangnya.Rita yang biasa tidur sendiri,merasa begitu kaget saat ia menyadari adanya sebuah tangan nan kekar berada diperutnya.
__ADS_1
"A.....",belum juga keluar teriakan Rita,dia segera disadarkan oleh status barunya.
"Ups inikan suamiku,untung aku ngga teriak tadi",gumannya pelan kemudian Rita mulai memindahkan tangan Wira dan beranjak kekamar mandi.
Selesai dengan kegiatannya dikamar mandi,Rita segera keluar dengan pakaian yang sudah rapi.Lalu ia menghampiri Wira yang masih terlelap dikasur.
"Sepertinya abang capek banget",guman Rita sambil mengelus pelan pipi Wira.
Merasa ada pergerakan diwajahnya,Wira yang terbiasa siap siaga,langsung membuka netranya dan terduduk.Bahkan ia hampir berdiri saking kagetnya.
"Ya ampun bang,maaf ini Rita",kata Rita lembut.
"Ah iya neng",jawab Wira dengan sedikit gelagapan.
Melihat ekspresi Wira yang sedikit aneh,Rita segera mendudukkan dirinya ditepian ranjang sambil mengelus pelan lengan Wira.
"Abang kenapa?",tanya Rita lembut.
"Ah..ngga papa neng.Abang hanya kaget aja",jawab Wira lagi.
"Ya udah abang mandi gih,biar Rita siapkan baju ganti,ya!",kata Rita sambil tersenyum manis.
Melihat senyum manis yang tersungging dibibir Rita,membuat Wira ingin me*****nya.Hingga tanpa aba-aba Wira sudah menyesap lembut bibir Rita.
Cukup lama Wira melakukan itu,hingga kepanikan yang ia rasakan berangsur mereda.
"Rita tahu abang belum siap,tapi nanti jika abang sudah siap,Rita selalu ada waktu untuk mendengarkan",batin Rita sambilenatap intens netra Wira.
"Sudah sana abang buruan mandi,Rita laper bang!Masa pengantin baru kelaparan,iiihh ngga elit banget sih",sungut Rita.
Mendengar apa yang dikatakan Rita,seketika Wira terbahak.
"Neng-neng,kamu ini lucu sekali sih",kata Wira sambil mencubit kecil bibirnya yang manyun.
"Aauu,sakit ih abang!",seru Rita.
"Maaf,habis gemes banget abang",jawab Wira lalu ia menyambar kembali bibir Rita.
"Terimakasih neng",kata Wira sambil memeluk erat tubuh Rita.
"Eh...",netra Rita membola,namun perlahan ia membalas pelukan Wira sambil mengelus punggungnya.
kruyuk kruyuk kruyuk
"Eh,kamu beneran lapar ya neng?Bentar abang mandi dulu ya!",kata Wira sambil melepas pelukannya,lalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Selesai dengan urusan kamar mandi dan bersih-bersih.Mereka akhirnya pergi makan malam keresto yang ada dilantai bawah hotel.
Selesai dengan makan malam romantisnya,Rita dan Wira kembali lagi kekamar.
"Neng,duduk sini",kata Wira sambil menepuk sebelah sofa yang ia duduki dibalkon.
"Iya bang,ada apa?,tanya Rita sembari menghampiri Wira dan duduk disebelahnya.
"Neng,maaf ya.Tadi sikap abang berlebihan",kata Wira memulai percakapan.
"Ngga papa bang,Rita juga yang salah kagetin orang",jawab Rita.
"Ngga neng,kamu ngga salah.Ini semua karena trauma yang abang rasakan",
"Dulu ketika abang masih bertunangan dengan Selvi,abang hampir mati neng",kata Wira sedikit sendu.
Melihat jesedihan dimata Wira,Rita pun segera mendekap tubuh suaminya sambil mengusap-usap kepalanya.
Sementara Wira,dia menelusupkan kepalanya didada sang istri,layaknya seorang anak yang sedang merajuk pada ibunya.
"Jika belum siap,ngga usah cerita dulu ngga papa bang",kata Rita lembut.
Wira menggelengkan kepalanya,lalu kembali berkata.
"Ngga neng"
Flash back on
Saat itu malam dengan hujan yang cukup deras.Wira tengah berada disebuah rumah besar dan mewah.Saat itu ia hendak pulang kebarak,meski besoknya dia masih IB.
Namun sang tunangan merengek untuk ditemani dirumah,wal hasil mau tidak mau Wira pun harus tinggal dan menemani sang tunangan.
Wira menginap dirumah tunangannya,namun tidak tidur sekamar.
Saat tengah malam,Wira merasa ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya.Perlahan Wira membuka netranya,dan alangkah kagetnya dia,saat ia menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya.
"Ada apa ini",kata Wira saat ia melihat tunangannya juga sedang berada dalam kamarnya.
"Kamu tenang aja bang,kita ngga akan ngapa-ngapain abang kok",jawab Selvi tunangan Wira.
"Lalu ini maksudnya ap....",belum lagi Wira selesai bicara,mulutnya sudah ditutupi dengan lakban.
Netra Wira hanya membulat sempurna tanpa mampu berkata-kata.
"Mari kita senang-senang baby",kata seorang pria yang juga berada dikamar itu kepala Selvi.
__ADS_1
"Yuuk,aku juga udah ngga sabar,mari kita berpesta!!",seru Selvi sambil membuka seluruh bajunya tanpa meninggalkan sehelai benang pun.
Sontak netra Wira makin membulat sempurna,dengan gemuruh didada Wira yang seakan mau meledak.