
Hai hai hai readers semua,apa kabarnya kalian malam ini??
Semoga kesehatan serta keselamatan senantiasa Tuhan berikan kepada kalian semua,aammiiinn
Sebelumnya,Tutiek minta maaf ya karena telat upnya,Tutiek sedang ada problem yang cukup memguras pikiran Tutiek,sehingga berpengaruh pada tulisan Tutiek
Eehh setelah masalah selesai,dua bocil author sedang menghadapi PTS.Do'akan PTS kedua bocil author lancar yaaaa
Follow IG @**tutiek_925 🌷🌷🌷
Okay guys,come on Sugeng maos....
Happy reading....🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷**
Setelah keduanya masuk kedalam mobil,Hans segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Anggi dan Hans sedang berbincang,sesekali mereka mengajak Rita juga Wira berbicara.
"Eehh,mba Rita rumahnya mana?",tanya Hans.
"Saya tinggal dijalan X...,"jawab Rita.
"Okay ,saya antar kesana!",seru Hans.
"Baik mas Hans,terimakasih",jawab Rita dengan nada lembut,layaknya bicara dengan Anggi.
Ditempat yang sama,terlihat Wira yang tengah melirik sinis kearah Rita."Cih,kenapa perempuan ini bisa begitu lembut kalau bersama dengan Anggi dan Hans,sedangkan denganku galak banget!",batin hati Mayor Wira.
"Cih,ngapain ini manusia kutup nglirik-nglirik segala.Naksir tau rasa loe",batin Rita sambil melirik kearah mayor Wira tak kalah sinisnya.
Tanpa mereka sadari,dibangku depan lewat kaca spion dua pasang mata melihat kearah mereka sambil tersenyum penuh arti.
"Ehem,bang Hans,kenapa ya?",tanya Anggi ngga jelas.
"Kenapa apanya dek?",tanya Hans bingung.
Sedangkan dua orang dibangku belakang yang duduk bersebelahan namun saling berjauhan,tanpa sengaja saling tatap lagi.Cie cie cie...ehem ehem ehem bang Mayor dan Rita.....suit suit....
Untuk beberapa saat mereka masih saling pandang.
DEG
DEG
DEG
Detak jantung keduanya seakan berhenti.Mayor Wira terhenyak,"Ada apa dengan jantungku?Apa aku kena serangan jantung ya?Tapi aku berpola hidup sehat dan rajin olah raga,harusnya aku tidak kena serangan jantung kan?",batin hati mayor Wira yang bingung akan kondisi jantungnya saat pandangan netranya bersiborok dengan netra Rita.
Sementara Rita pun merasakan hal yang sama."Etdah busyet,kenapa lagi dengan jantungku?.Kenapa jadi berhenti berdetak gini?Ya ampun Ri,kalau jantungmu berhenti berdetak,mati dong...
"Eh maaf thor,maksudku detaknya jadi tak karuan,kenapa ya?",kata Rita dalam hatinya.
Ya mana saya tahu,kamu terpesona kali sama abang mayor!"
"Etdah author,ngapain ikut ngrumpi disini sih?Sana buruan nulis udah ditunggu lho sama para readers!!Benar ngga guys?",tariak Anggi pada author.
"Eh maaf,maaf,habisnya ngobrol sama kalian tu asyik.Ya sudah lanjut dah"
__ADS_1
Kembali kedalam mobil Hans.
Setelah menyadari akan apa yang mereka lakukan,dengan spontan dan sialnya mereka bersamaan,lebih sial lagi karena ketahuan sibiang usil Anggi dan Hans,mereka segera membuang pandangan kearah jendela mobil.
Jika mayor Wira berpaling kearah kanan maka Rita pun dia membuang pandangannya ke sebelah kiri.
"Ppffttt ...kalian ini kenapa?",tanya Anggi pada dua mahkluk yang duduk dibangku belakang.
"NGGA.."
"NGGA.."
Lagi-lagi mereka menjawab berbarengan.
"Ngapain sih loe ,bareng-bareng mulu dari tadi?",seru Rita jengkel.
"Heh ...loe tuh yang kenapa.Asal loe tahu ya,sejak gue ketemu ma loe,gue ketimpa sial mulu,tahu ngga loe!",balas Wira sinis.
"Apa loe bilang?Jadi menurut loe gue biang sial gitu?",serang balik Rita.
Sementara dua mahkluk yang duduk dibangku depan,saling pandang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Bahkan Anggi menepok jidatnya sendiri.
"Eehh,pelan dong dek,sakit itu!",seru Hans sambil mengelus lembut dahi Anggi.
"He he he habisnya Anggi gemes bang sama mereka",jawab Anggi.
Kembali kebangku belakang
"Kalau iya napa?loe kan emang biangnya sial!",seru Wira Lagi.
Astaga gays,mereka bener-bener macam Tom and Jerry ya ck ck ck
"Gue?Enak aja,loe tuh!"seru Hans.
"Loe"
"Loe"
"DIAM,Ribut wae ,marai bengeng (Ribut aja,bikin pusinh/bising)!",seru Anggi yang sudah ngga tahan mendengar pertengkaran mereka berdua.
"Sorry Nggi,Si Paijo iki lho le marai (Si Paijo ini lhobyang mulai)",balas Rita sama-sama menggunakan bahasa jawa.
"Eh Ri,ojo sengit-sengit,jare simbah nek sengit-segit suwe-suwe ndulit loh (Eh Ri,jangan terlalu membenci,kata simbah kalau terlalu benci,lama-lama suka loh)",seru Anggi dengan medok jawanya yang khas.
Lalu bagaimana dengan Hans,dan Wira yang tidak mengerti bahasa jawa??Mereka tak ubahnya seperti orang bodoh yang ngga mengerti apa-apa.Hans dan Wira hanya mampu saling pandang lewat spion.
"Heh kalian berdua,bisa ngga ngomong pakai bahasa bumi?Jangan pakai bahasa planet,aku ngga ngerti!",seru Wira karena bingung dengan apa yang dibicarakan dua orang jawa ini.
"Ha ha ha,rupanya loe ngga bisa jawa ya!",ledek Rita pada Wira sambil tersenyum smirk karena baru saja menemukan kartu Asnya Wira.
"Ini orang ngga bisa bahasa jawa ya,baiklah aku bisa ngumpatin loe sesukaku dengan bahasa jawa 😏😏😏",batin Rita.
Tanpa terasa mereka sudah sampai dirumah yang ditempati Rita.
"Mba benar disini alamatnya?",tanya Hans.
__ADS_1
"Iya mas Hans,o iya jangan panggil mba donk,panggil nama aja keknya lebih enak.Boleh kan Nggi?",tanya Rita.
"Kalau aku serah abang aja enaknya gimana!",jawab Anggi.
"Bener ya alamatnya disini?",tanya Hans lagi sambil mematikan deru mesin mobilnya.
"Betul,makasih ya Nggi,mas Hans",jawab Rita sambil membuka pintu mobil dan segera turun dari tempat yang membuatnya jantungnya bermasalah itu.
Sementara Wira,begitu Rita keluar dari mobil,diapun merasakan hal yang sama."Huuhh leganya,akhirnya si gadis sial itu keluar juga.Jantung sekarang kamu bisa berdetak normal kan?",batin hati Wira sambil menyandarkan kepalanya kepintu mobil.Tak lupa ekor matanya memperhatikan gerak-gerik Rita ketika mengambil barang belanjaannya.
Setelah selesai mrngambil barang belanjaannya,Rita segera menutup pintu bagasi,tak lupa ekor matanya dia arahkan ke Wira yang tengah menyandarkan tubuhnya dipintu mobil,tanpa sengaja mata mereka pun saling bertemu,membuat keduanya kompak memalingkan pandangan kearah lain.
"Cih.."
"Shit.."
Batin keduanya dengan detak jantung yang tak beraturan kembali setelah beberapa saat yang lalu sedikit normal.
"Makasih Nggi,mas Hans,ngga mampir dulu?",tanya Rita.
"Maaf Ri,lain kali ya,habis ini kami masih ada acara",jawab Anggi disebelah Rita yang tadi juga ikut turun.
"Ya udah,tapi lain kali main kesini ya!",pinta Rita.
'Iya iya,oiya jangan lupa hubungi aku ya!",kata Anggi setelah keduanya saling bertukar nomor ponsel.
"Sip Nggi,nanti kalau ada waktu luang,aku pingin main keasrama,bolehkan?",tanya Rita.
"Tentu aja boleh,kabar-kabar ya kalau mau main!",jawab Anggi.
"Okay,siap bu Kapten",jawab Rita sambil memberi hormat pada Anggi.
"Ha ha ha apaan sih kamu Ri.Ya udah kita pamit dulu ya,sana gih buruan masuk!",seru Anggi sambil mendorong tubuh sahabatnya masuk kehalaman rumahnya.
"Iya iya,hati-hati ya Nggi!",jawab Rita sambil menampilkan senyum manisnya.
"Siap calon bu Mayor...he he he",jawab Anggi sambil berlari kecil kearah Hans.
"ANGGI...!!",seru Rita merasa dikerjai Anggi.Namun tak urung Rita pun tersenyum."Jadi dia mayor,iihh apaan sih.Mau mayor atau jendral sekalipun,mereka sama aja laki-laki",batin Rita yang langsung merubah air mukanya jadi murung.
Dan ternyata hal itu tak luput dari pandangan seorang Mayor Wira Arya Wardana,yang tengah duduk manis didalam mobil Hans,karena hanya dia yang ngga ikut turun dari mobil.
"Tadi senyumnya begitu manis,kenapa tiba-tiba jadi murung begitu.Heeemm rupanya menarik juga sahabat istri Hans ini",batin Wira.
"Hush,kalau suka bilang aja bang,jangan bengong gitu.Kelihatannya dia masih jomlo tuh?",goda Hans pada Wira.
Sontak membuat Wira gelagapan karena ketahuan sedang melamun.
"Cih siapa juga yang suka pada gadis sial itu",sinis Wira.
"Heh mas,awas ya kalau kamu panggil sahabatku gadis sial lagi.Aku jamin suamiku tak aku ijinkan berteman denganmu!",ancam Anggi.
"Haduuh maaf Nggi,aku ngga bermaksud begitu",jawab Wira gelagapan.
**TBC
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷**