
DIRUMAH MERTUA LAGI
Hai hai hai,Assalamu'alaikum my reader semua,maaf saya upnya telat-telat terus,saya masih susah membagi waktu antara menulis dan mengajar anak-anak dengan sekolah online.
Kadang ada waktu,tapi ngga ada inspirasi.
Begitupun sebaliknya,kadang ada inspirasi tapi ngga ada waktu he he he
Makasih buat kalian yang masih setia menunggu ceritaku 😘😘😘
Jan lupa tinggalkan jejak kalian karena LIKE dari kalian adalah apresiasi bagi saya,dan KOMENT kalian adalah sumber penyemangat bagi saya,sedangkan VOTE ,RATE and HADIAH kalian adalah bonus buat saya.
Happy reading semua.....
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Setelah bang Hans berpamitan pada bunda,ia pun segera menyusul istrinya kekamar.Lalu ia rebahkan tubuh lelahnya.Ia pijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri.
"Heeehh,bagaimana caraku menyampaikan pada Anggi ya?",gumannya pelan.
Kemudian ia rebahkan tubuhnya disamping tubuh Anggi yang masih tertidur pulas.Dibelainya wajah Anggi dengan lembut.
"Dek,sejujurnya ingin sekali abang menolak perintah ini,tapi ini sudah jadi tanggung jawabku.Abang tak bisa memilih",gumannya lagi dengan pelan.
Dalam pikiran bang Hans sebenarnya sangat kacau,dia ingin menemani istrinya hingga persalinan,tapi pertukaran satgas Papua tak bisa dia elak.
Meski masih sebulan lagi,dan dalam waktu lima menit mungkin bisa berganti,namun bang Hans tetap resahAkhirnya bang Hans pun ikut terlelap dengan keresahan dan kegelisahan menyelimuti hatinya.
Entah berapa lama keduanya tertidur,yang pasti mereka terbangun karena suara ketukan dipintu kamar mereka.
"Hans,ayo turun makan.Sudah ditunggu ayah dan Reno tuh diruang makan!",seru bunda.
Anggi yang mendengar seruan bunda pun akhirnya menyadari bahwa dia sudah ada dirumah bunda.
"Iya bund,sebentar lagi kami menyusul!"seru Anggi kemudian Anggi membangunkan bang Hans yang masih tertidur.
"Bang,bangun.Kita sudah ditunggu ayah untuk makan",lembut Anggi sambil mengusap lembut wajah bang Hans.
"Eeeeemmmm,ngantuk dek...",guman bang Hans sambil merengkuh tubuh Anggi yang sudah mulai berisi.
"Eh eh eh,abang.Kita udah ditungguin ayah sama bunda loh.Kasihan mereka kan kalau harus nahan lapar karena kita",lembut Anggi lagi seraya bangkit dari tempat tidur.
"Ayolah bang,kasihan ayah dan bunda udah nungguin kita",rengeek Anggi seperti anak kecil.
"Kasihan mereka,atau kamu yang kebelet pingin mencicipi sop buntut bunda?",goda bang Hans sambil mencubit hidung Anggi.
"Itu juga benar bang,makanya ,ayooo buruan!",rengeknya lagi sembari menarik tangan bang Hans.
Sementara bang Hans,melihat tangannya yang ditarik manja istrinya,hanya pasrah seraya mengikuti langkah istri tercintanya.
Begitu tiba di meja makan,Anggi langsung membulatkan kedua netranya.
__ADS_1
"Reno...!",pekiknya sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan."Kapan kamu pulang?",sambungnya kemudian sembari menghampiri Reno dan meninggalkan bang Hans.Eh..
"Mama cantik,kok makin cantik ya?",kata Reno sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Anggi.
"Ren,stop!",seru bang Hans sambil menghalangi Reno yang hendak memeluk Anggi.
"Dasar papah posesif",sungut Reno.
Namun tanpa diduga,justru Anggilah yang memeluk Reno.Duh Nggi kamu cari perkara.
"Ha ha ha ,papah kalah,wleeekk!",ejek Reno setelah melepas pelukannya bersama Anggi.
Mendengar ejekan Reno,spontan bang Hans langdung memiting leher Reno diketiaknya.
"Papah bau iihh!",seru Reno lagi mengejek papahnya.
"Sekali lagi kulihat kau memeluk istriku,kukawinkan kamu dengan kambing betina!",seru bang Hans.
"Haah,apa pah?Yang benar saja,masak sama kambing betina,ngga sama kucingnya si Rena sekalian?",tanya Reno sembari terkekeh.
Ayah hanya tersenyum.sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua jagoan beda generasi itu.
"Sudah,sudah ayoo buruan makan.Kalian ini kalau bertemu udah macam Tom and Jerry aja.Ngga kasihan apa kalian sama bumil yang nahan lapar?",seloroh bunda.
Sedangkan yang diperbincangkan sudah asyik makan sop buntut.Tak menghiraukan dua pria yang sedang berseteru gegara pelukannya.Astaga...
Sontak keempat manusia dewasa itu melongo melihat tingkah Anggi.Bisa-bisanya dia asyik makan,tanpa menunggu yang lain.
"Ya Tuhan mama cantik,kok tumben makanmu sedikit ra....",kata Reno tak selesai karena sudah dibungkam mulutnya oleh bunda.
"Hust,biarkan ,maklum bumil,mana anak kembar lagi.Udah neng lanjut aja makannya,ngga usah hiraukan para pria itu",sahut bunda lalu duduk dan mengambilkan makan untuk ketiga pria beda generasi.Ayah,papah Hans,dan Reno.
"Nich buruan dimakan mumpung masih anget",kata bunda setelah menyiapkan makan untuk ketiga pria didepannya.
"Bund,sop buntutnya enak banget",kata Anggi sambil terus menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Hati-hati dek,ngga ada yang mau ngrebut",peringat bang Hans karena Anggi makan seperti orang kerasukan.
"Sabar ya sayang-sayangnya ayah,jangan berebut nanti bundanya kesedak loh",kata bang Hans lagi sambil mengelus lembut perut Anggi.
"Cih,terus saja pamer,ngga tahu apa kalau disini ada jomlo!",seru Reno.
"Yee,biarin dasar jones!",balas bang Hans.
"Heh,kalian ini dari tadi berantem terus,bikin sikembar hilang selera aja!",seru Anggi padahal dia sudah dua kali nambah tadi makannya.
Membuat empat orang didepannya makin melonggo dengan tingakah absurdnya Anggi.
"Papah apain mamah sih,kok jadi aneh gitu?",tanya Reno sambil memperhatikan wanita yang pernah dan masih ia cintai itu.
"Papah hamilin,makanya jadi absurd kek gitu,kenapa emangnya?",jawab bang Hans.
__ADS_1
"Ngga papa sih pah,aneh aja.Biasanya mamah kan kalem,lah ini udah mirip tarzan kelaparan aja",jawab Reno.
"Enak aja mantu cantik ayah dibilang tarzan.Dasar cucu ngga ada ahklak!",seru ayah menimpali.
Sementara bunda,hanya geleng-geleng kepala."Ini aja masih didalam rahim,kalau udah keluar bagaimana?Belum lagi ditambah dua jagoan Anggi yang ada dijawa.Bisa-bisa mereka gelud sepanjang waktu",batin bunda sambil tersenyum membayangkan jika cucu kembarnya telah lahir nanti.
"Pasti rumah ini akan sangat riuh dengan celotehan mereka?",guman bunda lagi dalam hati.
"Bunda kenapa?",tanya Anggi,membuat tiga pria yang tadinya saling berdebat,jadi berhenti seketika dan mengalihkan atensinya ke bunda.
"Eh,maaf bunda ngga papa kok",jawab bunda yang gelagapan karena tatapan keempat orang didepannya.
"Beneran nenek ngga papa?"
"Benar bunda ngga papa?"
"Benar bund?",serentak ketiga pria beda generasi itu bertanya.
Kemudian saling pandang....lalu meledaklah tawa diantara mereka.
"Ya ampun lihatlah bunda,ketiga pria ini kompak sekali!",seru Anggi sambil tersenyum manis.
"Iya neng,bunda merasa bagaikan ratu,padahal disini bukan hanya ada bunda loh?",jawab bunda sambil tersipu.
"Ya memang disini bunda ratunya,kalau Anggi mah bunda",jawab Anggi.
"Ya betul,bunda adalah ratu,sedangkan kamu adalah princesnya",jawab ayah.
"Lalu aku apa dong!",seru Rena yang tiba-tiba muncul disana tanpa salam tanpa permisi.
"Ya Allah anak gadis bunda,salam dulu napa nak?Ngga sopan loh!",peringat Anggi.
"Iya mah,maaf.Assalamu'alaikum semua",jawab Rena.
"Wa'alaikumsalam,yuuk sini duduk,mamah ambilkan makannya",kata Anggi sambil menyuruh Rena duduk.
Anggi pun mengambilkan makan untuk Rena.
"Nah ini makan untuk siprinces yang sesungguhnya,silakan princes",kata Anggi sambil menyodorkan makan didepan Rena.
"Makasih mah!",seru Rena.
"Oh iya,kapan kamu datang Ren?",tanya Anggi lagi karena pertanyaan Anggi tadi tidak dijawab.
"Barusan mah,dan mulai besok aku dipindah tugaskan di mabes",jawab Reno.
"Oiya,wwaaahh nak bang Reno bakalan disini.Kalian nanti repotin bang Reno ya",kata Anggi sambil mengelus perutnya.
"Enak aja,yang buat papah kok aku yang repot.Ogah ah mah!",seru Reno tak terima.
Sontak mereka langsung tertawa dengan tingkah absurd Anggi.
__ADS_1