
Deg,deg,deg.
Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Tidak, tidak boleh, gue gak mungkin ngerasain hal yang sama kaya Bimo. Indira yang masih asik dengan pikiran nya yang menurutnya aneh. Sedangkan pria yang sedang tidur diatas pangkuan nya menatap wajah cantik yang mulutnya sedang komat-kamit entah sedang memikirkan apa.
Bimo tersenyum Melihat wajah Indira yang menurutnya sangat lucu. "Memikirkan apa hm." Suara Bimo menyadarkan Indira untuk segera mengumpulkan pikiran yang sedang berhamburan.
"Ti-tidak, Minggir gih pegel kaki gue." Indira mencari alasan agar bisa menghindar dari Bimo yang menatapnya.
Bimo bangkit dan duduk disebelah Indira, "Gue suka sama loe." Ucap Bimo tiba-tiba.
"Eh," Indira syok dan terkejut, tubuhnya terasa kaku tatapannya menatap Bimo yang menatapnya intens.
"Gue gak tau kapan rasa itu muncul, yang jelas gue nyaman Deket sama loe." Ucap Bimo jujur.
Indira segera tersadar ketika Bimo menggenggam kedua tangan nya.
"Nyaman bukan berarti punya rasa suka Bim? Bisa jadi loe nyaman karena gue sahabat satu-satunya cewek loe." Ucap Indira dengan melepas kedua tangan nya.
"Gue gak pernah yang namanya ngerasain suka dan Deket sama cewek selain Mama gue, dan sekarang Loe cewek pertama yang bikin gue nyaman." Bimo berkata dengan tulus, sorot matanya yang teduh mewakili perasaan nya.
"Em, Loe mau gue gimana?" Indira mencoba menghalau rasa gugup yang melanda dirinya, Bimo tidak tahu saja jika jantung Indira sudah berdetak tidak sehat.
"Gue gak bisa janji-in apapun sama loe, tapi gue akan selalu ada buat loe, gue pengen gue adalah orang pertama yang loe cari ketika loe butuh pertolongan, gue orang pertama ketika loe butuh bantuan. Gue pengen loe selalu butuh-in gue apapun keadaan loe."
"Kek bapak gue aja loe Bim." Indira terkekeh mendengar ucapan Bimo. Bagi dirinya menyusahkan orang hanya akan membuat dirinya berhutang Budi. Dan itu akan membuat hidup nya penuh dengan bayangan rasa tidak enak.
"Gue serius Aya."
"Aya?" Indira menatap Bimo dengan alis mengkerut.
__ADS_1
"Aya, itukan panggilan sayang kedua orang tua loe. Karena gue juga sayang sama loe Aya." Ucap Bimo tersenyum seraya mengacak rambut Indira.
"Tahu dari mana loe?" Indira hanya tersenyum dan memalingkan wajah, sungguh berdekatan dengan Bimo membuat dirinya kehabisan oksigen.
"Apa yang tidak gue tahu tentang loe sih." Ucap Bimo tersenyum.
"Dasar Bemo, tukang ngeles."
Mereka berdua duduk dengan rasa bahagia dan nyaman, entahlah padahal mereka tidak sedang jadian tapi bagi mereka sudah mengetahui perasaan masing-masing sudah membuat keduanya bahagia.
..................................
Jam pulang Sekolah sudah usai semenjak lima menit lalu, Indira sengaja tidak menunggu Bimo, padahal cowok itu sudah mengirimkan pesan untuk menunggu, karena Bimo masih ada latihan basket untuk pertandingan lusa.
Indira berjalan dipinggir jalan yang cukup sepi, dirinya sudah mencari pekerjaan paruh waktu yang bisa menerimanya setelah pulang Sekolah tapi belum mendapatkan hasil, alasan mereka karena Indira masih pelajar dan tidak menerima seorang yang masih sebagai pelajar.
"Jambret..!!! tolong ada jambret..!!!"
Indira yang kebetulan berdiri dipinggir jalan tidak sengaja melihat seorang laki-laki berlari kearahnya. Dengan sengaja Indira menjegalnya dengan kaki. Alhasil laki-laki berambut gondrong itu tersungkur dan tas yang dijambret nya terlepas dari tangan nya.
"Si*alan! Mau cari mati loe bocah." Jambret itupun ingin maju memberi Indira pelajaran. Tapi diurungkan karena sudah banyak orang datang kearahnya.
"Apa! sini kalo loe berani!" Indira berucap dengan gaya menantang. Dirinya tidak takut jika harus berkelahi karena dirinya bisa karate dan sudah mendapatkan sabuk hitam.
"Awas loe." Setelah mengatakan itu jambret itupun pergi dengan berlari kencang karena masa mengejarnya.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" Wanita paruh baya yang masih cantik diusianya, mendekati Indira dengan wajah cemas dan khawatir.
"Saya tidak apa-apa nyonya, ini tas anda." Indira memberikan tas yang dijambret itu kepada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Ah.. iya, terimakasih kamu sudah menolong saya." Wanita itu sangat berterima kasih mengelus lengan Indira kemudian merogoh tasnya mengeluarkan uang ratusan beberapa lembar," Nak terima kasih sudah membantu saya, ini rezeki buat kamu."
Indira tidak langsung menerimanya bahkan dirinya menolak, "Tidak usah nyonya, saya ikhlas membantu." Indira menolak dengan halus.
"Jangan begitu, saya sudah ikhlas mengasih nya." Wanita itu masih kekeh ingin memberikan imbalan kepada Indira. Karena melihat seragam yang dipakai Indira, wanita itu yakin jika gadis belia ini masih Sekolah.
"Emm, kalau boleh saya ingin meminta sesuatu kepada nyonya." Indira yang melihat wanita didepan nya dengan penampilan elegan sekelas orang kaya, Indira yakin jika wanita paruh baya itu dari kalangan orang berada. "Sebenarnya saya," Indira tidak enak jika harus meminta pekerjaan kepada orang yang baru dikenalnya. Tapi siapa tahu beliau bisa memberinya pekerjaan sebagai ganti ucapan terimakasih.
"Katakan nak, apa yang bisa saya bantu?"
"Sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan nyonya?" Ucap Indira sendu.
Wanita itu hanya tersenyum, meskipun merasa heran karena gadis yang masih memakai seragam sekolah ingin mencari pekerjaan. "Kalau begitu kita bicara diCafe sana saja ya."
Wanita berbeda generasi itu akhirnya pergi menuju Cafe yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1