Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part38


__ADS_3

Disebuah gudang sempit dan pengap, sangat kotor dan banyak debu. Indira masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


Braak


Pintu didobrak dari luar hingga ketiga kali pintu itu baru terbuka.


"Ay..!!"


"Indira..!!"


Mereka semua berteriak secara bersamaan.


Bimo langsung mendekati Indira, duduk didepan gadis itu menepuk pipinya pelan. "Ay..bangun Ay." Wajah panik dan khawatir nampak jelas diwajah Bimo.


Bimo melepas ikatan tali ditangan dan kaki Indira dirinya langsung membopong gadis itu keluar dan diikuti para sahabatnya. Kiki dan Arum masih saling bergandengan mereka nampak panik dan khawatir melihat keadaan Indira, air mata mereka belum berhenti mengalir.


.....................


"Jim apa jam makan siang ada pertemuan lagi?" Tanya Allan ketika melihat Jimmy asisten yang merangkap menjadi sekertaris itu.


"Tidak ada tuan." Ucapnya. "Apa anda akan makan diluar, biar saya pesankan tempat."


"Tidak usah, jam berapa akan ada pertemuan lagi." Allan kembali bertanya.


Jimmy hanya mengernyitkan dahi, heran tidak biasanya bos nya menanyakan secara detail jadwal kerjanya.


"Pertemuan tadi yang terakhir tuan, dan anda tidak ada pertemuan atau metting dengan klien setelah ini." Jimmy memberi tahu dengan rinci.


"Baiklah saya akan pulang, dan mungkin tidak kembali lagi kekantor, tolong kamu handel pekerjaan saya." Setelah memberi perintah dengan cepat Allan menyambar jas dikursi dan keluar dari ruang kerjanya.


Jimmy yang melihat kelakuan aneh bos nya hanya bisa pasrah. "Belum juga punya kekasih tetapi sudah sibuk dan pekerjaan harus aku yang handel, sungguh si*al nasib mu Jim." Gerutunya mengikuti Allan keluar menuju keruangan nya sendiri.


Allan menatap jam tangan yang melingkar ditangan nya sejak tadi, lumayan lama dirinya menunggu. "Kenapa belum keluar juga." Allan yang sudah bosan mencoba memutar musik dalam mobil.


Setelah keluar dari kantor dirinya sengaja datang kesekolah Nusa Bangsa, berniat ingin menjemput Indira dan pulang bersama, begitulah yang ada dipikiran Allan.


Dan kini dirinya sudah cukup lama menunggu bahkan jam sekolah sudah waktunya pulang hingga lingkungan sekolah nampak sepi. Allan menghela napas lelah, dirinya merasa konyol menunggu seorang gadis SMA yang tidak tahu status mereka apa.


"Kenapa Indira tidak terlihat? sekolah sudah sepi? apa dia tidak masuk hari ini?" Allan mencoba menerka-nerka dengan pikiran nya.


"Apa mungkin dia sudah dirumah." Allan segera menghidupkan mesin mobil nya ketika sekolah memang sudah sepi, bahkan demi Indira dirinya menjadi bodoh karena mau menunggu gadis itu hingga berjam-jam lamanya.


Mobil Allan terparkir didepan rumah dirinya segera turun dan masuk ke dalam.


"Loh den sudah pulang?" Tanya mbok Nah, yang mendengar suara mesin mobil langsung berlari menuju pintu.


"Iya mbok, Mama dimana?" Tanya nya seraya memberikan tas dan jas kerjanya kepada mbok Nah.

__ADS_1


"Ada dikamar den."


"Sama siapa?"


"Sendiri, nyonya baru selesai makan dan minum obat sekarang sedang istirahat." Ucap mbok Nah memberi tahu.


"Apa Indira tidak datang?" Entahlah perasaan Allan menjadi tidak enak, mendapati gadis itu belum datang.


"Belum den, biasanya sih sudah..mungkin si Eneng tidak datang." Jawaban mbok Nah, membuat Allan kembali berpikir dimana gadis itu.


"Terimakasih mbok." Allan segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri, perasaan nya yang gusar karena ternyata Indira tidak ada dirumahnya. Selama didalam kamar mandi pikiran nya berkelana memikirkan banyak hal, biasanya Allan hanya memikirkan pekerjaan saja.


Setelah selesai Allan keluar dan mengganti pakaian dirinya ingin menemui gadis itu, apakah terjadi sesuatu kepadanya, bahkan Allan belum sempat makan siang karena menunggu Indira disekolah yang tidak ketemu, dan sekarang gadis itu tidak ada juga dirumahnya.


"Aden mau kemana?" Tanya mbok Nah, yang melihat Allan berjalan keluar rumah membawa kunci mobil. penampilan pria itu sudah berganti.


"Ada urusan sebentar mbok diluar." Allan segera masuk mobil dan keluar gerbang menuju jalan rumah Indira.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba begini, ada apa dengan Indira."


.............................


Diruang perawatan rumah sakit, Indira yang sudah sadar sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan para sahabat yang berada di ruangan nya.


"Dir, loe ingat ngak siapa yang udah bikin loe pingsan begitu." Tanya Kiki yang duduk disebelah kanan Indira, sedangkan Arum disebelah kiri.


"Gue gak tau, tiba-tiba mulut gue dibekap dan gue pingsan." Indira me coba mengingat kejadian itu tetapi dirinya tidak ingat siapa mereka yang mencoba mencelakainya.


"Emang loe punya musuh disekolah?" Tanya Jingga yang duduk disofa bersama anggotanya.


"Mana ada dia musuh disekolah, selain orang yang mencari musuh seperti Floridina." Ucap Kiki kesal kalau mengingat minuman tiga ribuan.


"Tapi masa Flora senekat itu." Arum mencoba berpikir apakah dalang dibalik semua ini adalah Flora.


"Dendam apa dia sama lu Dir?" tanya Raka.


"Dih dendam, gak level saingan sama jeruk." Kiki mencibir.


"Eleh..paling juga rebutan lak Ketu." Ucap Guntur sambil makan kacang.


"Kalian kalau mau balik gak pa-pa, lagian ada Arum dan Kiki yang jagain gue." Indira memotong ucapan mereka, karena merasa tidak enak sudah menemani hingga sore.


"Beneran loe kita tinggal gak kenapa-kenapa neng?" Tanya Raka dengan cengengesan.


"Gak pa-pa."


Bimo mendekati Indira. "Gue balik dulu, nanti kesini lagi Ay." Bimo mengelus kepala Indira.

__ADS_1


"Hem.. terimakasih Bim." Indira membalas tersenyum manis, senyum yang selalu mampu membuat hati Bimo berdesir.


Mereka semua pamit dan keluar ruangan untuk pulang lebih dulu, karena mereka nanti akan datang lagi.


"Gue takut tau, loe menghilang." Kiki memeluk Indira dengan wajah sedih.


"Loe gak tau seberapa panik nya kita, apalagi Bimo dia sampai prustasi sebelum nemuin loe." Arum bercerita tentang kejadian dimana mereka semua panik dan khawatir.


Indira tersenyum, dirinya bersyukur selalu dikelilingi sahabat baik seperti mereka. "Gue bersyukur kalian peduli sama gue, terimakasih udah menjadi sahabat paling baik dan selalu ada buat gue." Mereka bertiga berpelukan bersama.


Persahabatan yang mereka jalin tulus tanpa mengharap sesuatu imbalan, mereka bertiga selalu kompak dan selalu ada disaat sedih dan senang, betapa beruntungnya Indira ketika dirinya hanya sebatang kara tetapi masih punya dua sahabat yang menyanyangi nya, dan orang-orang didekatnya.


"Terima kasih Tuhan, engkau telah kirimkan orang-orang baik kepada hamba." ucapnya dalam hati.


Mobil Allan berhenti didepan rumah Indira, dirinya sudah mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada yang membukanya.


Allan merasa prustasi dadanya berdetak cepat memikirkan kemana gadis itu pergi. dirinya sendiri pun tidak tahu kenapa perasaan nya menjadi seperti ini.


"Kamu dimana sih." Allan baru ingat sejak tadi dirinya belum menghubungi ponsel Indira.


Diruangan rawat Indira dan para sahabatnya sedang bercerita apa saja yang membuat mereka tertawa.


Drt..Drt..


"Hp loe Dir." Ucap Arum memberi tahu.


"Siapa?"


Arum hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu, karena tidak ada nama di nomor itu.


Indira menekan tombol hijau. "Hallo.."


Terdengar helaian napas diseberang sana. "Kamu dimana...?"


Indira hanya mengernyitkan dahi, dirinya kenal suara itu.


"Di rumah sakit." Jawabnya singkat.


Deg


Jantung Allan berdebar mendengar Indira dirumah sakit.


"Rumah sakit mana?"


"Xxx.."


Allan segera menutup telponnya setelah mendengar alamat rumah sakit yang disebutkan Indira.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Arum.


"gak tau." Indira menaruh ponsel nya kembali diatas nakas.


__ADS_2