
Brakk
Terdengar suara keras menabrak sesuatu.
"Abang..!!" Indira segera keluar dari mobil dan ikuti Allan.
Keduanya panik ketika melihat sepeda motor yang Allan tabrak ringsek, pemilik motor pun jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.
"Ya Tuhan Abang." Indira menutup mulut nya dengan kedua tangannya dirinya syok mendapati seorang gadis tak sadarkan diri.
"Sayang jangan panik, kita bawa kerumah sakit."
"Pak tolong bantu saya bawa korban kerumah sakit." Allan meminta bantuan kepada orang sekitar yang mengerubungi kecelakaan tersebut, beberapa orang tampak ingin protes dan menghakimi namun melihat wajah panik wanita hamil dan Allan yang mencoba bertanggung jawab membuat orang yang ingin protes terdiam.
Korban di masukkan kedalam mobil di kursi penumpang, Indira duduk dengan kepala korban di pangkuannya.
"Abang buruan." Indira cemas dan takut jika terjadi sesuatu kepada gadis yang tak sengaja di tabrak Allan.
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai." Allan menambah kecepatan mobilnya, meskipun harus menyalip beberapa mobil namun kendaraan Allan tetap pada jalurnya.
Lima belas menit mobil Allan sudah sampai di parkiran rumah sakit, karena memang jarak kejadian dan rumah sakit sangat dekat.
"Suster tolong pasien kecelakaan." Allan membopong tubuh gadis yang ia tabrak, di taruh nya di brankar ketika perawat datang membawa brankar.
"Bapak dan ibu mohon tunggu di luar." Ucap perawat yang langsung menutup pintu UGD setelah dokter masuk untuk menangani.
"Abang.." Indira menangis di pelukan Allan, dirinya takut jika terjadi sesuatu kepada gadis itu.
"Tenang sayang, tidak akan terjadi apa-apa, kita berdoa agar gadis itu selamat." Allan menguatkan istrinya, namun dirinya juga sebenarnya khawatir dan cemas jika sesuatu yang fatal terjadi.
Tiga puluh menit Allan dan Indira duduk di kursi tunggu, menunggu dokter keluar.
Ceklek
Allan langsung berdiri diikuti Indira. "Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya Allan yang merangkul bahu Indira.
"Pasien mengalami benturan lumayan cukup keras, dan syukur anda segera membawa pasien kemari jika tidak mungkin pasien tidak akan tertolong." Ucap dokter membuat tubuh Indira lemas.
"Sayang.." Allan merengkuh tubuh Indira yang lemas, jika tidak Indira akan jatuh.
"Masa kritis pasien sudah lewat, tapi sepertinya pasien mengalami koma."
Allan membeku, mendengar ucapan dokter. 'koma' Karena kecerobohannya dirinya sampai membahayakan orang lain.
"Lalu sampai kapan pasien akan koma dok."
"Saya tidak bisa memprediksi, namun melihat luka yang di derita pasien tidak cukup parah mungkin bisa satu bulan atau lebih." Setelah berbicara panjang dokter itupun pergi.
__ADS_1
.
.
"Abang, bagaimana jika dia tidak sadar." Kini mereka berdua berada di ruangan pasien, gadis itu sudah dipindahkan di ruang perawatan VIP.
"Doakan saja semoga gadis ini cepat sadar." Allan menatap gadis yang masih memejamkan matanya erat, dirinya merasa bersalah dan juga kasihan.
"Bagaimana cara kita menghubungi keluarganya." Indira menatap Allan, mereka tidak kenal gadis itu, dan bagaimana caranya menghubungi keluarganya.
"Sebentar Abang keluar dulu, kamu tunggu disini ya." Indira hanya mengangguk kan kepalanya, Allan mencium kening istrinya sebelum pergi.
.
.
Allan merogoh ponsel yang berada di saku celananya untuk menghubungi Jimmy.
"Halo, Jim."
".."
"Tolong kamu datang ke jalan Xx.." Allan menceritakan kejadian yang di alaminya kepada Jimmi, agar Jimmi bisa mencari keluarga gadis yang tak sengaja tertabrak oleh mobilnya.
"Segera bawa kesini jika sudah ketemu." Allan menutup sambungan telponnya, dan berjalan menuju tempat administrasi untuk mengurus perawatan korban.
.
.
Indira menggenggam tangan gadis itu. "Maaf, membuatmu harus berbaring di rumah sakit seperti ini." Indira meneteskan air mata.
Jika saja mereka lebih hati-hati ketika berkendara maka kejadian ini tidak mungkin terjadi. Indira hanya takut terjadi hal yang tidak di inginkan jika gadis yang di tabrak suaminya sampai meninggal.
Pintu ruang rawat terbuka, Allan masuk membawa beberapa bungkus makanan. "Istirahatlah di sana, biar Abang yang menunggu sampai keluarganya datang." Allan menunjuk sofa di pojok ruangan yang cukup lebar.
"Apa Keluarga nya sudah tahu?" Indira berdiri menuju sofa, di ikuti Allan membawakan beberapa makanan dan minuman untuk sang istri. Karena semenjak hamil Indira suka makan.
"Jimmi sedang mencari tempat tinggal gadis itu dan akan membawa keluarganya kemari jika sudah ketemu." Allan duduk di samping Indira. "Kamu mau makan."
Indira menggeleng. "Nanti saja jika ingin, Abang kabari mama nanti mama khawatir kita terlambat pulang." Allan mengangguk dan menghubungi Lili jika dirinya dan Indira pulang terlambat, padahal lusa adalah acara syukuran Beby mereka.
Indira merebahkan kepalanya di sandaran kursi, sebentar lagi petang dan keluarga gadis itu juga belum datang.
.
.
__ADS_1
Jimmi berhenti di depan rumah seperti kosan yang tertera di identitas pemilik motor yang tertabrak Allan, ternyata di dalam bagasi motor korban ada tas yang berisikan tanda pengenal. Bahkan Jimmi melihat ID Card tempat gadis itu bekerja dan Jimmi tahu tempat perusahaan gadis itu bekerja.
Jimmi mengetuk pintu rumah yang tertera di alamat tanda pengenal, tapi sedari tadi tidak ada yang membukakan pintu, hingga setengah jam Jimmi berdiri namun juga tidak ada tanda-tanda ada penghuni, bahkan tetangga pun tidak ada yang terlihat.
Ponsel Jimmi berdering menandakan panggilan masuk.
"Halo tuan.."
"..."
"Maaf, rumah korban sepertinya tidak ada orang sama sekali."
"..."
"Baik tuan." Jimmi pun kembali memasukan ponselnya ke saku jasnya, diri nya segera pergi menuju rumah sakit.
.
.
"Kamu ingin pulang." Allan mengelus kepala Indira yang berada di pangkuannya.
"Hm.. aku ingin menemani Abang disini." Indira memejamkan matanya, dirinya merasa lelah namun tidak ingin meninggalkan suaminya sendiri.
"Tapi kamu kelihatan lelah sayang, Abang takut kamu kenapa-kenapa." Allan mulai cemas melihat istrinya yang sepertinya kecapean.
"Kita di rumah sakit Abang, jika aku kenapa-kenapa Abang tinggal panggil dokter." Indira berbicara santai dengan mata tertutup.
"Justru karena di rumah sakit Abang jadi cemas jika kamu sampai di rawat." Allan mengulum senyum.
Mata Indira langsung terbuka, yang awalnya tubuhnya Mering kesamping kini terlentang di atas pangkuan Allan, sehingga dirinya bisa menatap wajah suaminya. "Kenapa bisa begitu?" Tanya Indira polos.
"Hm.." Allan hanya bergumam dengan tangan mengelus kepala Indira.
"Kenapa Abang cemas, kan banyak dokter jadi tidak perlu khawatir." Indira masih saja mood loading.
"Jika kamu di rawat Abang tidak bisa bebas tidur dengan kamu, ranjang rumah sakit begitu sempit, sedangkan ranjang di rumah sangat lebar." Allan ingin meledakkan tawanya ketika melihat wajah istrinya yang menggemaskan ketika kesal, jika bukan dirumah sakit sudah pasti Allan tertawa keras.
Indira membulatkan kedua matanya, dirinya baru tahu jika suaminya ini bakalan mesum di manapun tempat.
.
.
Semangat yukk...jangan lupa tinggalkan jejak kalian๐ฅฐ
Meskipun author tidak membalas komen kalian, percayalah author selalu Membaca setiap komen kalian semua..๐๐๐
__ADS_1