
Waktu begitu cepat berlalu, kini Indira dan para sahabat begitu juga semua siswa/i sedang merayakan kelulusan mereka semua, nampak wajah-wajah bahagia menghiasi wajah mereka.
Kebahagian sekaligus kesedihan bagi mereka yang sudah lulus sekolah, selama tiga tahun mereka mengemban ilmu disekolah Favorit Nusa Bangsa. Tawa canda suka cita, masa abu-abu adalah masa dimana kita bisa mengekplor dunia yang kita mau, dan kini mereka semua akan mencari jati diri mereka yang sesungguhnya, hidup baru akan dimulai dengan berbagai petualang wawasan ataupun pengalaman.
Indira, Arum dan Kiki mengunakan baju kebaya modern dengan rambut ditata sedemikian rupa, wajah cantik mereka kini bertambah cantik dan anggun ketika berbalut makeup natural.
"Gila kita bertiga kece badai." Dari tadi Kiki tak henti-hentinya memuji dirinya sendiri.
"Kemana aja loe Oneng, kita emang paling badai disekolah Nusa Bangsa." Ucap Arum dengan bangganya.
"Eh beb, ayang Bimo kemari." Kiki melihat Bimo berjalan kearah mereka.
"Ay.." Bimo terlihat sangat tampan dengan stelan jas yang pas ditubuhnya.
"Ehh babang Bimo nya Kiki yang paling tampan, duh Kiki jadi gerah bang." Kiki menghidupkan kipas portabel yang ia pegang.
"Dih si Kiki Mariki kepanasan apa kegerahan." Jingga dan yang lain mengekor Bimo dibelakang nya.
"Sape lu,, suka-suka gue dong." Kiki melirik sinis Jingga.
"kita foto bersama yuk." Indira berucap dengan memanggil salah satu teman kelasnya yang kebetulan sedang menawarkan jasa foto.
Mereka semua, Bimo, Indira, Resa, Arum, Kiki jingga, Guntur, Raka. Berpose dengan gaya bebas. banyak jepretan yang mereka minta, dan untuk Bimo dan Indira juga foto berdua.
Resa tiba-tiba menarik tangan Arum dan menggenggamnya, dirinya merasa gugup tetapi mencoba menutupi dengan wajah datarnya.
"Uhuuii cie cei ada yang mau ehem-ehem." Guntur meledek dan membuat semua tertawa.
"Iss lepas Res malu tau." Arum nampak melihat kekiri dan kanan yang sedikit ramai, wajahnya bersemu malu.
"Gue suka sama loe, mungkin juga gue cinta sama loe." to the poin, tanpa harus banyak merayu Resa berhasil membuat jantung Arum seperti mau meledak. "Kalo loe terima gue buat jadi pacar loe, gue akan lanjutin sekolah disini, jika loe nolak, maka gue akan pergi dari negara ini." Entah apa yang Resa ucapkan, tidak ada romantis-romantisnya.
"Terima..!!terima..!!terima..!!" Sorakan dan teriakan siswa/i dan para sahabat yang menyaksikan keberanian seorang Resa si manusia robot yang sedang menembak seorang cewek menjadi berita heboh di satu sekolahan.
"G-gue." Arum terasa kerongkongannya tercekat. "Gue mau." Dengan cepat Arum menutup wajahnya dengan kedua tangan nya menghindari wajah merah dan malunya sangking senang.
Resa tersenyum senang, mendengar ucapan Arum.
"Serius, kita pacaran." Resa memegang kedua bahu Arum. Arum hanya mengangguk dan tersenyum.
Resa langsung memeluk Arum, perasaan nya bahagia.
"Gue bahagia kalo sahabat gue juga bahagia." Indira berucap dengan Bimo yang sedang merangkul bahunya dari samping.
"Gue juga, apalagi jika gue juga bisa seberuntung resa." Bimo menatap dua sejoli yang sedang bahagia karena menjalin hubungan kekasih, berbeda dengan dirinya sampai sekarang masih dianggap sahabat terbaik.
"Jangan mulai deh." Indira mengerucutkan bibirnya, mendengar ucapan Bimo.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, nanti kena sosor tu bibir." Bimo dengan jahil menyomot bibir Indira dengan tangannya.
"Isss nyebelin." Indira melengos meninggalkan Bimo yang tertawa melihat gadis itu merajuk.
"Gue bukan pria beruntung yang bisa dapetin loe Ay." Bimo menatap gadis yang sampai sekarang masih bertahta dihatinya, senyum dan tawa bahagia membuat hatinya berdebar menghangat, meskipun hanya dianggap sebatas sahabat paling baik, Bimo menghargai itu, cinta pertamanya sudah monolak nya.
....................
Mereka semua kini sedang merayakan kelulusan dengan mendatangi cafe tempat biasa mereka nongkrong. Resa yang sejak jadian tadi siang hingga sekarang nempel terus dengan Arum. bahkan ketika Arum ketoilet pun Resa buntuti, belum apa-apa udah posesif akut Mas bro..wkwkwk
"Tempel turus bucin kek prangko." Ucap Guntur menyindir.
"Iri bilang boss." Jingga
"Hahai..papale pale." Raka
"Begini kalo robot ketemu pawangnya."
"Sleebeww."
Mereka semua mengawali candaan-candaan kecil yang membuat seasana ramai.
"Aku bukan babi, dan aku tidak buta, tetapi cintaku padamu membabibuta." Raka meniru gaya seleb toktik.
"Anjay Slleebeww." Jingga dan Guntur menambahi.
"Gokil bro." Indira mengacungkan kedua jempol nya.
Kiki tiba-tiba berdiri memperagakan gerakan tarian dengan menyanyikan lagu. "Ku rindu..gayamu ketika..bermanja.." mendengar suara Kiki jingga, Guntur,Raka berdiri m ngikuti gerakan yang dinyanyikan Kiki.
Indira dan Arum tertawa ngakak, membuat Bimo dan Resa hanya geleng-geleng kepala.
"Gue mau pargoy, tapi lu semua jangan meninggoy." Ucap Guntur siap dengan ponsel yang akan merekam gerakan nya.
~Kang Arya gendang nya mana kang~.._suara musik dan penyanyi mengiringi gerakan Guntur diikuti Raka, Jingga, Kiki dan Indira bahkan Arum ikut berdiri menyusul, __Aku titipkan, __mereka serempak mengikuti gerakan seleb toktik viral itu. __dia.. hoa hoe..hoa.. hoe...lanjutkan perjuangan ku untuknya..bahagiakan dia, kau sayangi dia seperti ku menyayanginya..~ _Mereka bergerak mengikuti irama disertai suara serempak mereka. keadaan cafe yang outdoor membuat mereka menjadi pusat perhatian apalagi dua manusia beruang kutub yang juga menarik pengunjung lainnya khususnya para kaum wanita.
Bimo dan Resa saling lirik dengan mata mengisyaratkan sesuatu.
Dan mereka berdua berdiri ikut gabung, mereka semua bersorak ketika para remaja itu melakukan sesuatu yang menghibur pengunjung cafe itu, tingkah absur dan kekompakan mereka menjadi penghibur.
...............
Kini Bimo sedang berdiri dengan bersandar dibadan motor besar nya menatap gadis pujaan hati yang berdiri didepannya dengan wajah cemberut.
"Gue bakalan jauh dari sahabat terbaik gue." Indira berucap dengan wajah sendu.
Bimo masih diam, dirinya memandang wajah cantik Indira tanpa bosan, merekam diingatannya, agar tidak pernah hilang.
__ADS_1
"Kenapa harus ke LA, kan kalo gue kangen jauh bemo." Indira mengerucutkan bibirnya.
Bimo menahan senyum demi melihat wajah menggemaskan Indira.
"Muka loe jelek banget, kayak orang nahan berak." Ucapan Indira spontan membuat tawa Bimo meledak.
"dih dibilang kek gitu malah seneng." Indira menatap kesal karena Bimo tak berhenti tertawa.
"Udah ah gue mau masuk." Bimo mencekal lengan Indira ketika gadis itu ingin beranjak pergi. "apa?" Tanya Indira.
Bimo menghela napas, setelah tawanya menghilang. "Apa gue gak punya kesempatan Ay?" Tanyanya dengan menatap wajah Indira lekat.
Indira menaikkan sebelah alisnya, sudah kesekian kali dirinya mendapatkan pertanyaan yang sama. Indira menggeleng dengan lemah, "Gue gak mau jika nanti kita berpisah, hubungan kita tidak akan seperti ini lagi, pasti ada jarak diantara kita." Indira berucap dengan menatap balik wajah tampan Bimo yang sedikit kecewa karena ucapannya. "Gue yakin suatu saat pasti loe mendapat wanita yang tepat di sini." Indira menunjuk dada Bimo.
Bimo hanya diam dengan pandangan tidak lepas dari wajah gadis itu. "Gue patah hati berkali-kali Ay." Bimo tersenyum namun tersenyum penuh luka.
"Dan gue penyebabnya." Indira terkekeh pelan. Dirinya tidak bisa membalas perasaan Bimo, dirinya ingat jika bukan hanya Bimo yang memiliki perasaan kepadanya, tetapi pria yang Bimo panggil dengan sebutan Om itupun juga mencintainya, Indira hanya tidak mau membuat keduanya menjadi bermusuhan ketika dirinya menerima salah satu dari mereka, Jika itu terjadi maka dirinya menyakiti dan membuat Oma Lili kecewa kepadanya.
"Loe cewek pertama yang udah buat gue jatuh cinta Ay." Bimo menarik tubuh Indira kedalam pelukan. "Tapi gue juga gak bisa maksain hati loe buat milih gue Ay." Bimo berkata lirih dengan perasaan kecewa dan perih, dirinya mencoba kuat dan merelakan perasaannya yang tak terbalas.
Indira membalas pelukan Bimo, dirinya juga merasa bersalah dan kejam, jika saja bukan mereka yang bersaudara, maka Indira akan memilih salah satu diantara mereka, tetapi itu hanya ada dalam pikirannya, kenyatannya Bimo dan Allan adalah keluarga. Tidak mungkin Indira akan merusak jalinan keluarga mereka karena seorang gadis seperti dirinya.
"Gue akan selalu ingat sahabat terbaik gue, gue sayang sama loe Bim." Indira mengeratkan pelukannya air matanya mengalir begitu saja. Bimo tak kalah erat mendekap tubuh gadis yang sangat ia cintai, mungkin ini yang terakhir dirinya bisa memeluk Indira.
Dalan jarak tidak jauh dari mereka, mobil mewah berwarna hitam sejak tadi terparkir disana, Menatap dua insan yang sedang bercanda, tertawa dan terakhir berpelukan mesra, membuat sepasang dua bola matanya mengkilap penuh rasa sakit, bahkan sampai sekarang hubungannya dengan gadis itu belum juga membaik, dan bahkan kenyataannya sekarang dirinya melihat mereka bertambah dekat. Allan lagi-lagi menelan kekecewaan dan rasa sakit yang membuncah, hingga dirinya tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu.
Ia kembali menghidupkan mesin mobilnya, memasuki perkarangan rumah gadis yang amat sangat ia rindukan, akibat rasa ketidakberdayaan nya untuk mengalah demi keponakan nya, dirinya rela menyiksa perasaanya sendiri. Padahal Indira mengatakan jika ia berpacaran dengan Bimo hanya untuk melindungi mereka berdua agar tidak bermusuhan. Inilah mereka berdua yang sebenarnya memiliki sifat yang sama, saling perduli dan saling melindungi. meskipun dua-duanya sama saling tersiksa.
Allan mengetuk pintu, dirinya sudah tidak bisa menahan rasa yang ingin meledak didadanya, menahan rindu dan tersiksa karena keperduliannya yang sebenarnya tidak berguna, namun kini ia akan meluapkan semua kepada gadis itu, meskipun mungkin ini adalah yang terakhir mereka bertemu.
Ceklek
Allan langsung menerobos masuk dan menarik Indira kedalam pelukannya, tangan kanan nya memeluk tubuh Indira, sedangkan tangan kirinya menutup pintu dan menguncinya.
"A_abang." Tenggorokannya tercekat ketika melihat Allan datang dan langsung memeluk tubuhnya erat.
"Biarkan seperti ini sebentar saja." Suara berat Allan membuat tubuh Indira membeku, ia merasakan pundak nya basah, karena Indira hanya menggunakan tangtop dan hotpants, jadi bahunya terbuka sehingga bisa merasakan basah oleh sesuatu yang membuatnya terasa meremang. 'abang mengis'.
Indira menitikan air mata tangan nya terangkat membalas pelukan Allan dan memeluk erat tubuh pria dewasa itu. Hatinya berdenyut ngilu, merasakan betapa dirinya sangat merindukan pria ini, dadanya sesak mengingat kejadian yang membuatnya kian menutup hati agar tidak mudah rapuh dihadapan pria itu.
"Abang merindukan mu." Dengan napas tersengal dan suara serak Allan belum melepaskan tangan yang memeluk erat tubuh gadis itu.
'Dira juga kangen Abang, sangat..maaf sudah menyakiti Abang dan Bimo, Dira tidak pantas untuk kalian'
.
.
__ADS_1
Pas aku baca ulang, kok aku nya mewek sihðŸ˜. Tapi bo'ong👉👈🤣🤣. Penjaga tengah malam, semoga kalian suka🥰