
"Ra..?"
"Ya.."
Cup
Tiba-tiba sesuatu yang kenyal dan tidak asing menyentuh bibirnya dengan lembut.
Allan menautkan bibirnya dengan lembut dirinya merindukan bibir tipis yang selalu berputar-putar dikepalanya. Rasa yang membuatnya candu selalu ingin merasakan manisnya bibir Indira.
Tidak disangka Indira membalas ciumannya, dada Allan berdebar senang karena Indira menerima ciuman nya. Allan Melu*at dan mencecap bibir tips Indira bahkan gigitan kecil ia mainkan. Lidah mereka saling bertaut hingga suara decapan keduanya terdengar memenuhi ruang rawat Indira.
"Egh.." Indira mencoba mendorong dada Allan karena dirinya merasa sudah kehabisan napas.
Allan segera melepas tautan bibirnya ketika merasakan tangan Indira memukul-mukul dadanya.
Napas Indira tersengal-sengal ketika Allan melepaskan ciuman nya. "Abang mau bunuh aku." Wajah Indira memerah antara malu dan dan kehabisan napas karena ciuman yang lumayan panas ditubuh keduanya.
Allan mengusap bibir bawah Indira dengan ibu jari nya, bibir yang awalnya tipis kini menjadi sedikit bengkak karena ulah nya, mengingat itu Allan tersenyum sendiri.
"Dih, ditanya malah senyum-senyum."
"Abang selalu merindukan ini." Ibu jari Allan masih berada di bibir Indira.
Indira menepis tangan Allan. "Dasar mesum." Dirinya berpaling menahan gejolak rasa yang kian membuncah didalam dadanya.
"Tapi kamu suka kan." Allan menoel dagu Indira yang menghadap kesamping.
"Ngak.." Jawabnya bohong, padahal mah iya menikmati. 'duh kenapa rasanya pengen lagi sih..ehh.' Indira menggigit bibir bawahnya.
"Sini Deket Abang." Allan bergeser dan duduk disamping Indira diatas brankar.
Indira pasrah ketika tubuhnya ditarik dan merapat dirangkul Allan. "Pembantuku Canduku." Ucap Allan ketika kepalanya ia sandarkan dibahu Indira.
"Dih siapa yang jadi pembantu Abang?" Sebenarnya Indira sedang menahan rasa bahagia didalam dadanya. Entah kenapa ucapan Allan barusan membuat nya tersipu malu dan dadanya berdebar-debar.
"Kamu, siapa lagi."
"Ngarang.. Dira kan jadi pembantu Oma bukan Abang." Sanggah gadis itu dengan melirik wajah Allan.
"Sama saja karena kamu bekerja dirumah Abang." Allan menegakkan kepalanya melihat jelas wajah Indira yang cantik.
"Tetap bedalah." Masih tetap memprotes.
"Terserah..yang penting bagi Abang kamu adalah candu nya Abang." Allan kembali mendaratkan bibirnya bertemu dengan bibir yang selalu membuatnya candu, hanya melihat bibir pink alami Indira sudah membuatnya ingin selalu merasakan, apalagi sedari tadi bibir gadis itu tidak mau diam dan berhasil membuat Allan terpancing untuk mencecap nya lagi.
tok
tok
tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu menyadarkan kembali mereka berdua. Allan mengumpat kesal karena merasa terganggu. Si*Al.!!
............................
"Mas hari ini aku mau kerumah Mama, kasihan Mama belum sehat." Leina sedang duduk dengan suaminya yang sedang menonton tv.
"Boleh... Mas ikut, Imo sekalian diajak." Ucap Rendy suami Leina.
"Tadi aku udah bilang, sepertinya dia ada urusan, tetapi jika kamu yang bicara pasti.dia akan menurut Mas." Leina menyerahkan potongan buah kepada suaminya.
"Nanti mas akan bilang." Ucap Rendy dengan mencuri satu kecupan dipipi Leina yang duduk disampingnya.
"Iss.. Mas mesum deh." Leina bersemu merah tiba-tiba dicium suaminya.
"Dih.. malu-malu.. padahal mah mau." Rendy tergelak keras ketika sebuah cubitan mendarat mulus di pinggangnya, bukannya sakit tetapi malah rasa geli yang mendominasi.
Bimo turun dari tangga setelah rapi dengan penampilan nya, dirinya berniat ingin kembali kerumah sakit menemani gadis pujaan hatinya.
"Sayang kamu mau kemana?" Leina bertanya ketika anak satu-satunya berjalan menuju arahnya.
"Bimo ada urusan mah." Ucapnya seraya duduk didekat Mama nya.
"Nak.. kita akan kerumah Oma, Oma ingin bertemu dengan kamu." Ucap Rendy pelan, karena Bimo akan lebih mendengarkan kata ayahnya ketimbang Mamanya.
"Tapi pa_"
"Apa kamu tidak kasihan dengan Oma kamu, disaat umurnya yang sudah tidak lagi muda tetapi cucu satu-satunya malah tidak ada didekatnya." Rendy mencoba memberi pengertian kepada putranya.
"Iya sayang, Oma sudah sering sakit-sakitan, sedangkan Om mu sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan nya."Tambah Leina.
Kedua orang tuanya tersenyum, Leina memeluk dan mencium pipi putranya.
"Mah.." Bimo kesal jika Mama selalu mencium pipi nya berulang-ulang.
"Dih.. kenapa marah, yang mencium kan Mama kamu sendiri, bukan orang lain." ucap Leina.
"Apa Mama tidak lihat, ada singa yang siap menerkam Aku." Bimo melirik papanya yang sudah menatapnya tajam.
"Ehh.." Leina hanya tersenyum kikuk, tahu akan maksud ucapan putranya.
Dan mereka pun tertawa ketika sadar tingkah mereka seperti ABG labil yang suka cemburu.
......................
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, Arum dan Kiki masih setia menunggu Indira, Allan pamit keluar sebentar untuk menanyakan kondisi Indira dan membereskan administrasi perawatan Indira.
"Beb.. kek nya loe Deket banget sama Abang ganteng tadi." Kiki mencoba mengorek sesuatu yang dirinya merasa tertinggal berita uptudate.
"Kepo lu." Arum menoyor kening Kiki dan tertawa, karena melihat wajah cemberut Kiki.
"Isss kebiasaan lu." Dengus Kiki kesal.
__ADS_1
"Hahaha.. kalian kerjaan nya berantem Mulu, heran gue." Ucap Indira yang sedang duduk besila diatas ranjang, berbalas pesan dengan Bimo, yang ternyata tidak bisa datang menemaninya karena ada urusan keluarga.
"Dia nih yang mulai duluan." Kiki mendelik kearah Arum.
"Lah.. dasar ogeb..gue yang salah muluk perasaan."
"Ya emang..!"
"Udah ah, ribut Mulu sih,,"
"Kenapa para boy friend belum ada yang nonggol ya?" Entah Kiki bertanya pada siapa.
"Bimo baru kirim pesan, gak bisa Dateng karena ada urusan keluarga." Indira memberi tahu.
"Ohh." Hanya itu yang keluar dari mulut mereka berdua.
Ceklek
Allan datang dengan membawa Sebuah bungkusan plastik berwarna putih.
"Abang dari mana?" Entah mengapa ucapan itu yang keluar dari mulut Indira karena melihat Allan membawa bungkusan plastik.
Allan tersenyum dan menaruh bungkusan plastik itu dimeja sebelah Indira. "Dari depan membeli martabak." Setelah berbicara kepada dokter dirinya keluar mencari makanan siapa tahu gadis itu nanti ingin memakan sesuatu.
"Apa aku udah boleh pulang?" setahunya tadi Allan bilang akan menemui dokter.
"Hem.. katanya sih belum, harus menginap malam ini. Besok baru boleh pulang." Allan sengaja meminta Indira dirawat hanya malam ini, karena memang gadis itu sudah lebih baik dan bisa pulang, tetapi entah apa yang ada dipikiran Allan. Bahkan dirinya tadi mengirim pesan kepada kakaknya agar menginap dirumah dia beralasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, sehingga tidak bisa pulang malam ini. sungguh buaya tukang tipu🤣
"Kalian pulang saja biar Indira Abang yang jaga." Allan menatap kedua gadis yang merasa bingung. "Ck. kalian tenang saja Abang tidak akan berbuat macam-macam sama sahabat kalian." Allan melirik Indira yang menatapnya sinis.
"Beneran loe kita tinggal gak pa-pa beb." tanya Arum kepada Indira.
"Hem..gak papa." Entah mengapa mendapat tatapan tajam Allan membuat jantungnya berdebar-debar.
"Oke..kalo ada apa-apa hubungi kita." Arum dan Kiki memeluk Indira, mengucap pamit dan titip menjaga Indira kepada Allan.
"Kenapa kamu liatin Abang kayak gitu?" Tanya Allan dengan senyum menggoda.
Indira hanya memalingkan wajah ketika Allan mengunci pintu dan jalan mendekat kearahnya.
"Sudah malam istirahatlah." Allan mendekat dan naik ke atas ranjang.
"Abang mau apa?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku kasih bonus buat teman bobok kalian dimalam Jumat🤣🤣 Semoga kalian suka😘😘🌹🌹👍👍