Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part45


__ADS_3

Kini keduanya sudah duduk didalam mobil, dengan Jimmy yang mengemudi mobil Allan.


Setelah berbicara dan bernegosiasi dengan mami Reta, Allan Menebus Indira dengan harga yang fantastis, bagi mereka mungkin harga gadis itu cukup mahal, tapi bagi seorang Allanaro Putra Aditama tidak berarti apa-apa, baginya keselamatan dan kembali mendapatkan gadis itu dengan masih keadaan baik-baik saja sudah cukup baginya.


Jimmy sesekali melirik kaca spion demi melihat wajah wanita yang membuat tuan nya tergoda. 'Tenyata masih pelajar, cih pantas saja tuan sangat perduli, ternyata dia sangat cantik."


"Abang, bagaiman Abang tahu jika aku berada dirumah bordir itu." Indira yang menyandarkan kepalanya dibahu Allan bertanya mengingat bagaimana pria itu bisa menemukan nya.


"Hati yang menuntun Abang." Ucap Allan dengan tangan kiri mengelus pundak Indira yang berbalut jas yang Allan pakaikan, mengingat baju Indira yang kekurangan bahan sangat seksi.


"Abang mulai ngegombal."


"Abang serius." Allan mencium tangan Indira.


"Berapa uang yang Abang pakai untuk menebus ku?" Indira penasaran berapa banyak uang yang Allan keluarkan.


"Tidak banyak, yang terpenting kamu baik-baik saja." Seraya mencium keningnya.


Kegiatan keduanya tidak luput dari sepasang mata yang sesekali menatap kaca spion.


"Apa aku masih bisa pulang kerumah?"


"Tentu saja, tapi jika kamu mau tinggal dirumah Abang, itu jauh lebih baik."


Indira menghela napas kasar. "Aku hanya ingin selalu mengenang kasih sayang kedua orang tuaku, ketika aku tinggal disana." Ucapnya dengan wajah sendu.


Allan mengelus kepalanya dengan lembut. "Hem.. tidak apa-apa nanti Abang Carikan pelayan untuk menemani kamu." Usul Allan karena dirinya takut jika sesuatu kembali terjadi pada Indira.


"apa kata orang, jika aku punya pelayan." Indira menggerutu mendengar usulan Allan.


"Terus mau gimana, Abang khawatir jika sesuatu terjadi kepadamu."


"Aku kan bisa datang kerumah Abang, membantu menjaga Oma."


Mereka masih saja asik mengobrol tanpa canggung meskipun ada Jimmy yang hanya diam tanpa kata.


"Belajarlah mulai sekarang panggilan Oma kamu ganti dengan Mama." Allan memainkan kedua alisnya untuk menggoda Indira.


Wajah Indira merona malu. "Isss mana bisa begitu."


Dan mereka pun asik mengobrol hingga tak terasa mobil sudah sampai diperkarangan rumah Indira.


...........


"Duh... kenapa malam ini sepi banget, kaya hati aku yang kesepian." Guntur bicara dengan nada nelangsa.


"Sok..gaya loe.." Raka menyenggol lengan Guntur sehingga pria itu sedikit oleng karena duduk diatas motornya.


Hahaha


Jingga hanya tertawa keras, melihat keduanya menurutnya seperti lelucon.


Bimo hanya diam duduk diatas motor dengan asap rokok yang mengepul dari mulutnya.


Dirinya merasa tidak tenang, ingin sekali mendatangi rumah Indira, tetapi melihat jam ditangan nya ternyata sudah malam.


"Galau Mas bro." Raka me menepuk pundak Bimo dari samping.

__ADS_1


fiiuhh. "Gue kepikiran Indira." Bimo berkata jujur, karena memang dirinya sedang memikirkan gadis itu.


"Sebentar lagi kita perpisahan, duh kenapa hati ini gak rela." Jingga berucap dengan tangan menyentuh dadanya.


"Hem... pasti kita bakalan kangen masa-masa SMA kita." Tutur Guntur.


"Resa kemana, tumben absen." Jingga bertanya.


"Paling juga lagi ngapelin doi."


Kini mereka semua masuk kedalam markas kecil tempat mereka berkumpul.


tak berapa lama suara kenalpot motor terdengar mendekat. Resa yang baru saja tiba.


"Noh panjang umur dia."


Mereka berenam kini sedang berkumpul di sebuah rumah kecil yang cukup nyaman, rumah yang mereka sewa hanya untuk sekedar berkumpul.


"Baru nonggol mas bro." Raka berkelakar ketika Resa menyapa mereka semua.


"Sorry gue telat." Dirinya langsung duduk disamping Bimo.


"Kenapa muka loe ditekuk man?" Tanya Guntur.


"Lah emang muka si robot begono tiap hari." ucap Jingga. "Berubahnya ketika ada ayang Beb."


Mereka bertiga tertawa, Bimo hanya tersenyum dan geleng kepala. Resa yang menjadi sasaran ledekan sahabatnya hanya diam dengan ponsel ditangan nya.


...........................


Jam sudah menunjukan dini hari, entah mengapa mata Indira masih belum mau terpejam. Dirinya duduk didepan tv dengan memegang toples cemilan.


"Sertifikat rumahmu Abang kembalikan, tapi ingat Abang menolong mu tidak gratis." Ucapnya dengan menyodorkan sebuah map.


"Maksud Abang tidak gratis." Tangan nya meraih map yang Allan berikan.


"Kamu harus membayar uang yang sudah Abang keluarkan untuk mu."


"Bisa gak sih, to the poin aja ngomongnya." Kesal karena menunggu lama, maksud perkataan Allan.


Allan hanya terkekeh. "Ternyata kamu tidak sabaran." Ia mengacak pucuk kepala gadis itu.


"Abang mau, mau bekerja dirumah Abang. bukan hanya untuk Mama tapi Abang juga." Allan tersenyum penuh arti.


"Oma sih iya, kalo Abang? Aku pikir-pikir dulu."


"Kenapa harus mikir dulu?" alis Allan bertaut.


"Ngurusin Abang lebih berat, ketimbang ngurusin Oma." jawabnya dengan wajah mendelik menatap Allan.


"Kamu mulai pintar sekarang." Allan menarik hidung Indira dan tergelak keras.


"Dengerin Abang." Allan menggenggam tangannya lembut. "Abang gak mau kamu jauh dari Abang, bila perlu kamu tinggal dirumah Abang."


Allan mengelus rambut Indira dengan lembut.


"Boleh Abang bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Hem..apa?"


"Disini, __allan menunjuk dada Indira __ apa ada nama Abang." mata mereka bertemu seakan mengunci mata Indira.


"Egh.." Dirinya tidak tahu harus menjawab apa.


Allan menghela napas, dirinya berdiri dan pamit meninggalkan Indira untuk pulang.


Huffhh


Indira menghela napas lelah, dirinya mematikan tv dan kembali kedalam kamar. besok dirinya sudah mulai bekerja lagi menjaga Oma Lili.


Meskipun dirinya tidak tahu berapa Allan mengeluarkan uang untuk dirinya tetapi ia cukup mengerti harus membalas Budi.


Allan Sampai dirumah langsung membersihkan diri, mengguyur badan nya dibawah kucuran air shower yang dingin hingga sampai terasa ketulangnya, pikiran nya melayang mengingat pertanyaan yang ia ucapkan tidak mendapat balasan dari gadis itu, apakah hanya dirinya yang merasakan perasaan cinta pada gadis itu, meskipun gadis itu selalu menurut apa yang ia lakukan termasuk sentuhan darinya.


"Gue bisa gila, jika seperti ini." Allan segera menyudahi acara mandinya, pikiran nya sudah lebih baik, segera memakai pakaian dan bersiap untuk tidur.


jam menunjukan pukul delapan pagi dan pagi ini cuaca cukup cerah, karena libur sekolah Indira berniat datang lagi kerumah Oma Lili.


"Huhhh semangat demi hutang." Indra melangkah masuk kedalam rumah mewah berlantai dua itu, sudah hampir satu bulan dirinya tidak menginjakan kaki dirumah besar itu.


"Assalamualaikum." Suara Indira terdengar hingga Diruang tengah, Oma sedang bersantai menonton berita acara di temani cucunya.


"Waalaikumsalam..ehh neng Dira udah kembali." Mbok Nah sangat senang melihat gadis cantik itu kembali kerumah besar.


"Dira kangen mbok Nah." Indira memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.


"Mbok juga kangen neng."


"Oya.. mbok dimana Oma?" Tanya Indira.


"Ada diruang keluarga sedang ditemani cucunya." sambil menaruh dua gelas minuman diatas nampan.


"Sini biar Dira saja yang antar." Indira meraih nampan dan berjalan menuju tempat Oma sedang bersantai.


Indira melihat punggung dua orang dari belakang, dirinya juga tidak tahu siapa cucu Oma Lili.


"Oma..?" Indira memanggil ketika berada dibelakang dua orang yang sedang asik menonton tv.


Mereka berdua menoleh ketika ada suara yang memanggil.


"Ay..!"


"Bimo..!"


Mereka berdua terkejut ketika tahu siapa yang ada dihadapan mereka.


"Kalian kenal." tanya Oma.


"I-Iya Oma." Indira masih tergagap karena ternyata cucu Oma adalah Bimo Bagaskara.


.


.


.

__ADS_1


.


Like..komen..tinggalkan jejak kalian.. yang baik hati bolehlah kasih hadiah 🥰🥰🥰🤣


__ADS_2